Ekonomi pas-pasan. Apa yang dimakan esok, sangat bergantung apa yang didapat hari ini. Kondisi anak bungsu menyadarkan mereka pentingnya ”pengakuan negara”.
MUHAMAD BUSTHOMI, Kejayan, Radar Bromo
Sebuah pesan WhatsApp masuk ke layar ponsel Sugi Hartini, Selasa pagi, 6 Mei 2025. Membuatnya tertegun, mengantarkan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Kejayan, itu pada sebuah pengalaman yang tak pernah terbayangkan.
Pesan singkat dari seorang ibu yang tak dikenalnya itu merobek ketenangan hatinya. Kata-kata putus asa tentang bayi ringkih yang mengalami malnutrisi menghantamnya seperti gelombang dingin.
Tanpa ragu, Sugi menghubungi Jahirotul Holisah, koordinator PSM Kejayan yang hatinya selalu tergerak oleh rintihan sesama. Mereka lantas melangkah menyusuri jalan menuju alamat yang tertera di layar handphone.
Pintu kontrakan terbuka, menyuguhkan pengap yang menyesakkan. Di sudut remang, tiga bocah kecil tampak lemah.
Perhatian mereka terutama tertuju pada si bungsu. Usianya baru empat bulan, tubuhnya kering, matanya sayu menatap langit-langit lusuh. Sesekali, kejang kecil mengguncang tubuhnya yang rapuh.
Air mata Sugi tak tertahankan. Pemandangan itu meremukkan hatinya. ”Miris sekali melihat kondisi keluarga tersebut,” bisiknya, mengenang saat pertama kali menyaksikan pemandangan pilu itu.
Lilis–sapaan Jahirotul Holisah–yang terbiasa melihat nestapa pun tertegun. Ada luka yang lebih dalam menganga di kontrakan itu.
”Saya sudah sering melihat kasus seperti ini. Tapi yang ini rasanya lebih menyayat,” ujarnya.
Namun, mengulurkan bantuan tak semudah membalikkan telapak tangan. Uluran tangan mereka terbentur tembok birokrasi.
Tiga nyawa di hadapan mereka seolah tak kasat mata di hadapan negara. Tak tercatat dalam Kartu Keluarga.
Sang ibu, Wendy Putri Apsari, dengan keterbatasan ekonomi yang mencekik, tak mampu menyeberangi batas administrasi. Tak mampu mengurus kepindahan data kependudukannya dari Gresik, tempat KTP-nya beralamat. ”Sementara anak ini sakit, butuh segera diobati,” bisik Lilis.
Satu-satunya cara adalah bagaimana agar keluarga ini bisa menjadi penduduk Kabupaten Pasuruan. Tetapi, jejak pilu keluarga itu semakin dalam saat terkuak ternyata Wendy hanya menikah siri dengan suaminya, Dony Rizal.
KTP Gresik milik Wendy dan KTP Surabaya dari Dony, tak pernah bersatu dalam lembar keluarga. Tiga anak lahir, hadir di dunia, namun terlupakan oleh catatan negara. Lilis merasakan ironi pahit: terlahir di tanah air sendiri, namun seolah tak diakui.
Di balik masalah kesehatan anak-anak yang memprihatinkan, terbentanglah rentetan kesulitan hidup yang menghimpit keluarga ini sehari-hari. Kemiskinan adalah benang kusut yang melilit kehidupan keluarga itu.
Ayah mereka, Dony Rizal, hanya seorang pengamen jalanan. Penghasilannya tak menentu. Jangankan biaya pengobatan, untuk sekadar mengisi perut pun seringkali kurang.
Di kontrakan itu pula, seorang nenek renta, ibu Dony, terbaring sakit. Menambah beban kehidupan yang sudah berat.
”Kondisi sosial dan ekonomi mereka sangat sulit. Faktor ekonomi inilah yang menjadi pemicu utama masalah gizi buruk anak-anak,” ungkap Lilis.
Potret kemiskinan multidimensi itu mengguncang nurani Lilis dan Sugi. Namun, di mata mereka, keputusasaan bukanlah pilihan.
Sebagai pejuang kemanusiaan, Lilis mengambil alih komando. Telepon genggamnya mencari nomor PSM Gresik, meminta bantuan untuk mempercepat perpindahan data kependudukan Wendy.
”Alhamdulillah, sore itu juga KTP ibu sudah berhasil dipindahkan,” kenang Lilis sambil tersenyum.
Setelah urusan KTP ibu beres, tantangan berikutnya adalah memasukkan ketiga anak tersebut dalam data kependudukan Pasuruan. Syaratnya, harus ada surat keterangan lahir.
Lilis pun harus bersusah payah mencari surat keterangan kelahiran ketiga bocah itu, yang ternyata semuanya ”utang”. Keluarga ini masih punya tanggungan di masing-masing klinik, tempat anak mereka dilahirkan.
”Karena biaya persalinan ketiga anaknya sampai saat ini masih belum dibayarkan,” katanya.
Anak pertama lahir di klinik, anak kedua di bidan, dan anak ketiga kembali di klinik. Jejak kelahiran mereka tercecer, tak teradministrasi dengan baik.
Namun, Lilis tak putus asa. Dengan kegigihan dan bantuan petugas Kelurahan Kejayan, Puskesmas Kejayan, Dispendukcapil, serta pihak rumah sakit, satu per satu berkas berhasil dikumpulkan.
”Semua pihak sangat membantu. Kami bergerak bersama demi anak-anak ini,” ujar Lilis.
Hari-hari berganti malam dalam labirin birokrasi. Lilis dan Sugi tak lagi menghitung jam kerja. Bolak-balik ke kantor dinas, menghubungi setiap pintu yang mungkin terbuka, memastikan setiap dokumen yang dibutuhkan terpenuhi.
Syukurnya, pada 7 Mei, keajaiban kecil itu datang. Si bayi empat bulan mendapatkan perawatan di RSUD Bangil. Tubuh ringkih itu mulai merespons sentuhan kasih dan asupan gizi.
”Alhamdulillah, sudah mendapatkan perawatan yang sangat baik. Ada perkembangan positif pada kesehatannya,” kata Lilis.
Bagi Lilis, perubahan status kependudukan ini adalah gerbang harapan. BPJS kini bisa diakses, beban ekonomi keluarga sedikit terangkat.
Dengan pindah ke Kabupaten Pasuruan, biaya rumah sakit bisa di-cover BPJS melalui pengajuan UHC. ”Ini akan sangat meringankan beban ekonomi keluarga,” jelas perempuan 40 tahun itu.
Namun, di balik itu, ada pelajaran pahit yang terukir di hati Lilis dan Sugi. Pentingnya administrasi dan sebaiknya, menunda hadirnya nyawa baru jika himpitan ekonomi terlalu berat. ”Dan yang paling penting, taat administrasi kependudukan itu krusial,” pesan Lilis.
Identitas bagi Lilis adalah hak asasi yang tak bisa ditawar. Tanpanya, akses keadilan dan kesejahteraan tertutup rapat. Negara harus hadir, merangkul yang terlupakan.
Lantas, apa yang membuat Lilis dan Sugi Hartini tetap bertahan sebagai PSM, meski seringkali menghadapi tantangan yang berat?
”Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat kebahagiaan orang yang kita bantu,” kata Sugi Hartini.
Di garda terdepan, para PSM terus berjuang, digerakkan oleh kebahagiaan sederhana saat melihat senyum merekah di wajah mereka yang terbantu.
”Hidup yang hanya sekali di dunia ini jangan sampai terlewati dengan sia-sia,” jawab Lilis. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi