Menjauhkan penyintas narkoba dari lembah hitam, ternyata susah-susah gampang. Pendekatannya harus ekstra. Ada kalanya mereka diperlakukan dengan lembut. Tapi sesekali juga perlu ketegasan. Treatment semacam itulah yang perlu dikuasai Agen Pemulihan.
MUHAMAD BUSTHOMI, Sukorejo, Radar Bromo
TUGAS mereka terbilang cukup mulia. Menyentuh hati yang terluka, merangkul jiwa yang dijerat candu, bukanlah pekerjaan biasa.
Butuh kelembutan seorang ibu, ketegasan seorang ayah, dan kesabaran seorang sahabat. Itulah seni yang dikuasai para Agen Pemulihan di Desa Lecari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.
Boleh dibilang, mereka adalah garda terdepan. Tangan-tangan penyelamat yang berusaha menarik kembali para penyintas dari jurang ketergantungan.
Nur Hasan, seorang guru dengan aura kebapakan, sudah lebih dari setahun terakhir mengetuai Agen Pemulihan (AP) Harmoni di desanya. Ia dibantu empat anggotanya, Nurudin, Sa'adah, Syuhadak, dan M. Kasir.
Kepala Desa Lecari Didik Sugiarto merekomendasikan mereka sebagai Agen Pemulihan, karena latar belakangnya yang bisa diandalkan.
Nur Hasan misalnya, seorang guru. Sementara Nurudin dan Syuhadak mewakili pemerintahan desa.
Lalu, Sa'adah dikenal aktif di masyarakat sebagai kader kesehatan. Sedangkan, M. Kasir punya kemampuan menggerakkan pemuda desa.
Tugas mereka adalah menggencarkan sosialisasi bahaya narkoba. Sasarannya pemuda dan anak-anak sekolah. Harapannya, mereka bisa menutup celah peredaran gelap narkoba.
Kalaupun ada, Agen Pemulihan itu juga yang harus mendampingi mereka apabila sudah terlanjur jadi korban penyalahgunaan narkoba.
Itu pula yang selama ini diterapkan kepada Ms, salah satu penyintas di Lecari. Sekeluarnya dari jeruji besi, Agen Pemulihan melakukan skrining terhadap Ms. Tujuannya untuk menakar sejauh mana kemungkinan yang bersangkutan akan kembali ke habitat lamanya.
Hasil skrining menunjukkan risiko rendah. Menandakan pendampingan cukup dilakukan oleh Agen Pemulihan.
"Dari situ, kami bisa memetakan mana yang risikonya rendah, hingga sangat tinggi. Jika ditemukan kasus dengan risiko tinggi, kami merekomendasikannya ke BNN untuk penanganan lebih lanjut,” tutur Nur Hasan.
Namun, peran mereka tak berhenti hanya pada identifikasi. Justru di sinilah babak sesungguhnya dimulai. Agen Pemulihan adalah pendamping setia bagi mereka yang berpotensi terjerumus atau baru saja keluar dari lingkaran setan narkoba.
"Ketika ada klien yang baru keluar dari lapas, kami merangkul mereka, mendampingi langkah demi langkah. Alhamdulillah, masyarakat di sini tidak terlalu memberikan stigma negatif. Bahkan, bisa menerima kehadiran mereka," lanjutnya.
Cara mereka berinteraksi pun beragam, disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing individu. Lantas, bagaimana BNN membekali para relawan ini?
"Kami mendapatkan edukasi mendalam tentang bahaya narkoba, ilmu psikologi dasar untuk memahami kondisi klien, hingga pelatihan public speaking agar bisa menyampaikan pesan-pesan positif secara efektif," jelas Nur Hasan.
Mereka melibatkan para penyintas dalam kegiatan keagamaan dan acara sosial, seperti perayaan kemerdekaan.
Bahkan, memberikan kesibukan dalam kegiatan desa. Informasi terkait peluang pekerjaan pun tak luput mereka bagikan, sebagai bekal untuk menata kembali masa depan.
"Kami juga menjangkau lingkungan-lingkungan yang rawan narkoba. Bahkan, tak jarang menemukan anak-anak di bawah umur yang sudah mengenal pil-pilan terlarang dan minum minuman keras," terang Nurudin, anggota Agen Pemulihan Desa Lecari.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan kepada orang dewasa dan anak-anak jelas berbeda. Namun, sejauh pengalamannya, pendekatan ke anak-anak relatif lebih mudah.
Mereka lebih mudah diarahkan, tentu saja dengan persetujuan dan dukungan penuh dari orang tua. Keterlibatan dalam kegiatan karang taruna menjadi salah satu wadah positif untuk mengalihkan perhatian dari godaan narkoba.
Peran orang tua, diakui Nurudin, sungguh luar biasa dalam proses pemulihan. Untuk memperkuat benteng keluarga, mereka bahkan memiliki program ketahanan keluarga yang menyasar usia SMP awal, melibatkan kegiatan bersama antara anak dan orang tua.
Meski Nurudin sendiri tak memiliki pengalaman kelam sebagai penyintas narkoba, ia belajar banyak dari interaksi dan pendampingan yang telah dilakukannya. Ia memahami bahwa jalan pemulihan itu terjal dan berliku.
"Ada kalanya kami harus bersikap lembut, memberikan dukungan moral dan mendengarkan keluh kesah mereka. Tapi tak jarang pula kami perlu bertindak tegas, mengingatkan mereka akan komitmen untuk berubah," kata lelaki yang juga Sekretaris Desa Lecari itu.
Salah satu indikator keberhasilan yang mereka rasakan adalah ketika para penyintas yang dulu mereka dampingi kini bisa menjadi narasumber bagi anak-anak muda di desa. Berbagi pengalaman dan memberikan inspirasi untuk menjauhi narkoba.
Mereka juga mencatat setiap perkembangan klien dalam buku harian pendampingan dan penjangkauan sebagai bahan evaluasi. Sehingga, semua jejak terekam jelas.
"Bahkan, klien yang kami dampingi sempat curhat kalau dia sempat mendapat tawaran barang haram itu lagi. Dalam posisi ini, tentu kami harus sampaikan ke yang bersangkutan untuk menolaknya," katanya.
Kini, setelah setahun lebih berjalan, program Agen Pemulihan Desa Lecari menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pendampingan yang awalnya mengandalkan support BNN Kabupaten Pasuruan, kini mulai mendapatkan dukungan anggaran dari dana desa. Harapan ke depan pun semakin besar.
"Kami berharap kegiatan yang dilakukan Agen Pemulihan ini semakin efektif untuk masyarakat agar tidak ada lagi yang masuk dalam lingkungan negatif," kata Didik Sugiarto, kepala Desa Lecari.
Melalui peran Agen Pemulihan, tumbuh ladang harapan di Lecari. Tempat mereka menanam benih baru: benih kehidupan kedua. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi