Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sorem, Band Black Metal asal Probolinggo yang Usung Filosofi Tokoh Pewayangan Mulai Tembus Panggung Internasional

Inneke Agustin • Minggu, 20 April 2025 | 01:27 WIB

 

BLACK METAL: Aksi panggung band Sorem asal Kota Probolinggo, beberapa waktu lalu. (Sorem for Radar Bromo)
BLACK METAL: Aksi panggung band Sorem asal Kota Probolinggo, beberapa waktu lalu. (Sorem for Radar Bromo)

Di tengah hiruk-pikuk Kota Probolinggo, terselip musik cadas yang temaram. Sorem, band metal yang lahir dari perenungan, petualangan batin, dan kecintaan terhadap musikalitas. Sejak dibentuk pada Sabtu Pahing, 7 Juli 2012, Sorem menorehkan jejak panjang dalam dunia musik black metal, bahkan hingga ke panggung internasional.

INNEKE AGUSTIN, Probolinggo, Radar Bromo.

EMPAT pemuda menjadi personel band ini. Luph sebagai vokalis, Totto pada bass, Eitaz di gitar, dan Ghatot di drum. Mereka bukan sekadar pemusik, melainkan peramu filosofi yang menjadikan bunyi sebagai kendaraan menuju makna.

Memiliki homebase di Jalan Mastrip Kota Probolinggo, Sorem tumbuh dengan ide-ide yang melompat liar. Ide tersebut lantas menjelma jadi karya penuh guncangan.

Nama Sorem diambil dari Bahasa Madura yang berarti suram, temaram, atau kondisi samar.

Sebuah nama yang mencerminkan paradoks, seperti wajah Semar dalam pewayangan. Tangis sekaligus tawa, tua sekaligus kanak-kanak.

Dalam paradoks itulah, musik Sorem hidup. Tematik, ambigu (bermakna ganda), dan menantang penikmatnya untuk olah rasa yang lebih dalam.

“Lagu-lagu kami memang tak mudah dicerna. Liriknya terdistorsi. Tapi justru di sanalah letak kenikmatannya. Kami ingin orang mendengar dengan rasa, bukan sekadar telinga,” tutur Eitaz, gitaris sekaligus penulis lagu utama band ini.

Sorem mengusung aliran black metal dan black death metal, dengan napas kuat dari ajaran Tantra Bhairawa dan kisah pewayangan.

Banyak lagu mereka menggali tokoh-tokoh pewayangan seperti Rahwana, Kumbakarna, hingga Bima, yang dianggap memiliki watak Bhairawa—keras, tegas, dan penuh kontradiksi.

Sudah tiga album mereka lahirkan hingga saat ini. Legion Ov Tengger Land (2016), Bhairawa (2018), dan Estoria (2024). Tiap album adalah kitab, tiap lagu adalah mantera.

“Beberapa lagu kami dapat didengarkan melalui platform online. Namun, beberapa lainnya tidak bisa. Karena ini merupakan kebijakan dari record label kami,” ujar Eitaz.

Masing-masing personel Sorem punya karya favorit. Bagi Luph, Beast of the Beast menjadi lagu paling membakar semangat. Sebuah ajakan untuk bangkit dari keterpurukan dan bertahan dalam kejamnya hidup.

Sedangkan Totto memilih Mayanetra Yamadipati, lagu dengan tempo rumit dan lirik dingin yang berbicara tentang ketegasan dan keheningan para prajurit Majapahit.

"Filosofinya adalah bekerja dalam diam, bicara seperlunya, tapi hasilnya nyata," ungkap Totto, yang kini berdomisili di Pasirian, Lumajang.

Sementara Ghatot jatuh cinta pada Madapuja. Bukan semata karena komposisinya, tapi karena momen syuting video klip lagu itu membawanya untuk pertama kali menginjakkan kaki di Gunung Bromo.

“Ironisnya, meski saya dari Probolinggo, baru saat itu saya bisa ke Gunung Bromo,” ujarnya.

Dan bagi Eitaz, lagu paling personal adalah Temple of Illusion. Ia menciptakannya setelah meresapi berulang-ulang Serat Gatholoco, naskah kuno Jawa yang mengkritik pemujaan lahiriyah.

“Pemujaan sejati ada dalam jiwa. Sama seperti kaum sufi dan malamatiyah, yang mencari Tuhan dalam kesunyian batin,” katanya.

Dari kiri ke kanan: Luph sebagai vokalis, Totto sebagai bassist, Eitaz sebagai Gitaris, dan Ghatot sebagai Drummer.
Dari kiri ke kanan: Luph sebagai vokalis, Totto sebagai bassist, Eitaz sebagai Gitaris, dan Ghatot sebagai Drummer.

Tak hanya berkutat di studio, Sorem juga telah membawa karyanya ke mancanegara. Pada 2018, mereka tampil di Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia.

Tahun ini, mimpi lebih jauh dirancang. Jika tak ada aral melintang, 31 Mei mendatang mereka akan mengguncang Vietnam. Oktober ke Australia. Februari 2026 ke Malaysia dan Singapura.

Tour internasional ini adalah buah dari kerja keras, relasi, dan promosi digital lewat YouTube serta platform lainnya. Sehingga, mereka lebih dikenal.

“EO dari beberapa negara melihat video kami di media sosial, lalu menghubungi. Tapi tak lepas dari peran sahabat-sahabat kami yang terus mempromosikan,” kata Eitaz.

Namun, perjalanan ini bukan tanpa kendala. Dana menjadi hambatan utama. Hingga kini mereka menggunakan dana pribadi untuk keluar negeri, lalu mengganti biaya itu dari fee penampilan.

Beruntung, sebuah brand clothing ternama asal Kota Probolinggo selalu setia mendukung mereka. Sehingga, hambatan itu cukup teratasi.

Bagi Sorem, musik adalah laku hidup. Bukan sekadar hobi, tapi panggilan jiwa. Latihan hanya sebulan sekali, kadang dua bulan sekali, karena keterbatasan waktu dan jarak.

Totto bekerja di Lumajang, Ghatot di Cepu, Jawa Tengah. Perbedaan kesibukan kadang berpotensi memicu persoalan. Namun, Eitaz mengaku selalu menemukan win-win solution untuk tetap menjaga visi-misi serta personel band Sorem. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#wayang #black metal #filosofi #Panggung Dunia #band #pewayangan #probolinggo