Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Agus Hidayat, Guru yang Juga Pandai Besi untuk Pertahankan Tradisi Turun-temurun Keluarga

Achmad Arianto • Senin, 14 April 2025 | 17:00 WIB
PEKERJAAN BERAT: Agus Hidayat Agus saat mengajar siswanya. Inset, Agus Hidayat saat mengerjakan pesanan sabit.
PEKERJAAN BERAT: Agus Hidayat Agus saat mengajar siswanya. Inset, Agus Hidayat saat mengerjakan pesanan sabit.

Di balik kesehariannya sebagai seorang pengajar di SMKN Banyuanyar, Agus Hidayat, 42, punya keahlian yang tidak dimiliki guru lainnya yakni pandai besi. Keterampilan ini merupakan turun temurun dari buyutnya.

ACHMAD ARIANTO, Gending, Radar Bromo

Suara tempaan besi terdengar nyaring mengetuk gendang telinga. Dari ruangan berukuran 3 x 6 berkonstruksi semipermanent, Agus Hidayat begitu telaten menempa besi untuk dijadikannya berbagai macam peralatan. Mulai dari pisau, sabit, dan parang diproduksinya hampir tiap pekan.

Sepintas tak ada yang menyangka jika warga Dusun Krajan, Desa Sebaung, Kecamatan Gending yang sehari-harinya guru Bahasa Indonesia ini adalah seorang pandai besi.

Keterampilannya membuat peralatan berbahan besi sudah tidak diragukan lagi. Bahkan disela-sela waktu senggangnya mengajar, dia masih menempa besi.

Agus -sapaan akrab Agus Hidayat- mengatakan bahwa pandai besi baginya bukan merupakan sebuah pekerjaan.

Sebab pandai besi sendiri sudah mengalir dan mendarah daging dari buyutnya. Keterampilan turun temurun tersebut bahkan dipelajarinya secara tidak sengaja sejak lulus SD.

Bermula dari membantu sang ayah yang bekerja sebagai karyawan PG yang nyambi sebagai pandai besi. Keterampilan mengolah besi tersebut kemudian diperolehnya.

“Menjadi pandai besi saya bisa sendiri. Belajar karena sering dimintai tolong bapak membuat berbagai peralatan. Mungkin saya sudah generasi keempat menjadi pandai besi di keluarga. Mulai dari buyut, kakek, bapak, lalu ke saya,” katanya.

Agus mulai eksis memproduksi berbagai jenis peralatan sendiri sejak SMP. Mulai dari pisau hingga sabit dapat dibuatnya setiap dua hari sekali.

Material yang digunakan merupakan besi tua dari loak. Hasil pembuatan peralatan tersebut kemudian dijual untuk tambahan uang saku dan menabung.

Seiring dengan terampilnya pembuatan peralatan Agus kemudian mulai membuat peralatan lainnya yang memiliki tingkat kesulitannya tinggi. Seperti pacul hingga parang dengan berbagai motif. Aktivitas ini kemudian dilakukan hingga dirinya masuk jenjang SMA.

SUDAH PENGALAMAN: Agus Hidayat saat mengerjakan pesanan sabit.
SUDAH PENGALAMAN: Agus Hidayat saat mengerjakan pesanan sabit.

Untuk menghasilkan alat atau tempaan yang bagus ada beberapa tahapan yang dilakukan saat pembuatan peralatan.

Mulai dari pemilihan bahan yang cocok baik besi maupun baja. Bahan tersebut kemudian dibakar sampai merah menggunakan arang khusus pandai bahannya dari kayu keras. Setelah satu menit besi tersebut dibentuk.

Setelah terbentuk pemerataan, selanjutnya proses finishing, jika alat yang dibuat adalah pisau atau sabit maka dilakukan penajaman.

Langkah terakhir adalah proses penyepuhan yakni dengan cara dibakar kemudian dicelupkan.

Medianya pencelupan ada 2, bisa pakai air untuk mendapatkan kekerasan tinggi. Atau menggunakan oli agar besi tidak mudah tidak mudah patah atau ketajamannya terjaga.

“SMP saya sudah bisa membuat berbagai macam peralatan. Tapi paling banyak pisau dan sabit karena memang banyak peminatnya,” ucapnya.

Menjelang lulus SMA orang tuanya kemudian memintanya untuk melanjutkan ke jenjang sarjana.

Harapannya agar mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Tidak berat, mendapatkan upah dan kesejahteraan yang lebih terjamin.

Sebab hidup dari hasil pandai besi belum terlalu menjanjikan. Akhirnya dirinya kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang dan mengambil Pendidikan dan sastra Indonesia.

Seakan tidak bisa lepas dari kehidupan pandai besi. Saat libur kuliah atau saat pulang dirinya selalu menyempatkan diri membuat pisau maupun sabit.

Pembuatan alat itu dilakukan semata-mata untuk membantu meringankan pekerjaan orang tua.

Sebab orang tuanya walaupun bekerja di PG dikenal dengan pandai besi dengan kualitas buatannya yang bagus. Tak heran jika banyak pemesan peralatan ke rumah.

Selepas lulus dari kuliah dirinya kemudian menjadi Sukwan di SMAN Gending. Di sana dirinya mulai mengajar.

Namun selepas mengajar dirinya kembali ke tempat pandai untuk kembali melakukan pengerjaan pesanan.

Setelah belasan tahun mengabdi pada tahun 2022 dirinya kemudian diangkat menjadi PPPK. Kemudian mengajar di SMKN Banyuanyar.

“Setelah lulus kuliah saya Sukwan. Tapi sorenya atau saat libur tetap mengerjakan pesanan. Baik pesanan milik orang tua maupun hasil saya sendiri kemudian untuk dipasarkan,” bebernya.

Pria yang memiliki hobi memelihara ayam bekisar ini mengatakan bahwa selama menjadi guru banyak rekannya yang belum mengetahui jika dirinya adalah seorang pandai besi.

Sebab dari segi penampilan dirinya tampak bersih dan rapi tidak seperti pandai besi pada umumnya.

Namun di balik itu semua Agus justru merupakan pandai besi yang mahir. Bahkan sudah dikenal oleh pandai besi lainnya dan pedagang peralatan di pasar.

“Jadi memang banyak yang belum tahu. Justru tahunya saat sudah main ke rumah. Selain menjadi guru, menjadi pandai besi sudah keterampilan turun temurun,” bebernya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#guru #pppk #pandai besi #Tukang Besi