Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Curhat PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan usai Dipindah ke Sisi Barat: Omzet Anjlok, Keluhkan Ular hingga Pocong

Agus Faiz Musleh • Jumat, 11 April 2025 | 05:25 WIB
SEPI: Terlihat lapak milik Thoriq yang tengah berjualan di sisi barat Stadion Gelora Merdeka Kraksaan sepi tanpa adanya pengunjung atau pembeli, Rabu (11/4) malam. (Agus Faiz Musleh/ Radar Bromo)
SEPI: Terlihat lapak milik Thoriq yang tengah berjualan di sisi barat Stadion Gelora Merdeka Kraksaan sepi tanpa adanya pengunjung atau pembeli, Rabu (11/4) malam. (Agus Faiz Musleh/ Radar Bromo)

Di sisi barat Stadion Gelora Merdeka Kraksaan, malam menjelma menjadi kisah yang tak selalu ramah bagi mereka yang mengais rezeki dari secangkir kopi atau sepiring gorengan. Angin berembus pelan menyapu dedaunan pepohonan yang menjulang tinggi, membawa cerita dan keresahan baru. Mulai kondisi yang dinilai angker, gangguan ular, dan pengunjung yang makin sepi.

AGUS FAIZ MUSLEH, KRAKSAAN, Radar Bromo

DI antara deretan gerobak yang berjejer rapi, Sri Kurniasih duduk termangu di belakang gerobaknya. Usianya telah menyentuh setengah abad, namun semangatnya tetap menyala—meski redup di balik mata yang menyimpan lelah. Tangannya sibuk merapikan dagangan, walau tak satu pun pembeli menghampiri.

Sejak pemerintah (Pemkab Probolinggo, Red) memindah pedagang ke sisi barat Stadion Gerola Merdeka Kraksaan, kegembiraan Sri seolah dipaksa berhenti.

Receh demi receh yang sempat didapatnya dengan mudah dari tiap pengunjung lapaknya, kini mulai sulit didapat.

Menurutnya, tempat itu hanya ramai bila ada wahana permainan. Dan itu pernah dialaminya, di awal-awal para pedagang berjualan di tempat itu.

Saat itu, ada pasar malam yang menyediakan beragam wahana permainan di tempat itu. Salah satunya komedi putar atau carousel dan bianglala (dermulen, Red).

“Awal-awal dulu memang ramai di sini karena ada pasar malam. Ada banyak permainan. Anak-anak datang dan orang tua ikut. Tapi itu hanya sebentar. Setelah itu, pasar malam pindah. Lokasi ini kembali sepi,” ujarnya lirih.

Karena sepi, mereka pun mengadu pada pemerintah untuk pindah berjualan di depan sisi timur stadion. Permintaan itu pun disetujui dan para pedagang pun pindah.

Di tempat yang baru itu, mereka merasakan denyut kehidupan yang nyata. Bagian depan lahan yang terbuka dan terang, jalan yang jadi tempat lalu lalang kendaraan, membuat pengunjung mudah mampir. Membawa receh demi receh bagi pedagang.

Dan sesuai syarat pemerintah, setelah berjualan gerobak harus dipindah lagi ke sisi barat. Tapi sejak Lebaran usai, kebijakan itu berubah. Semua pedagang harus kembali ke sisi barat.

Dan sepi pun kembali mereka rasakan. Pelanggan mendadak tak datang, membuat omzet pedagang menurun drastis.

Bahkan, kekhawatiran pedagang hadir bukan hanya dalam bentuk sepi. Tapi juga sosok-sosok yang hanya berani disebut dalam bisik. Sri menyebut tempat itu angker. Dia mengisahkan pengalaman putrinya yang memiliki kepekaan lebih.

“Anak saya indigo. Katanya pernah lihat pocong di belakang gerobak. Wajahnya hitam, kainnya lusuh,” kisahnya.

Ini tak berlebihan, sebab malam di sisi barat stadion menghadirkan pemandangan suram.

Pepohonan yang berdiri tanpa penerangan, menghadirkan banyangan pekat. Gesekan antara dedaunan yang rimbun, menimbulkan bisikan angin yang menyerupai suara.

Tidak hanya itu. Bahaya lebih nyata mengintai dari balik semak. Beberapa kali, ular muncul di dekat lapak pedagang. Bahkan, sempat diabadikan pedagang lain sebagai bukti. Pedagang pun makin tak nyaman.

“Takut, kami takut. Kalau sampai ada korban, siapa yang mau tanggung jawab?” kata Sri, matanya membulat, nadanya meninggi.

Memang, kini setiap pedagang diberi lahan seluas 3x3 meter. Total ada 117 pedagang yang pindah ke sana. Kondisinya pun jauh lebih rapi.

Tapi, apalah arti kerapian bila tak satupun pengunjung singgah? Sri yang dahulu bisa membawa pulang Rp 400 ribu semalam, kini harus pulang dengan tangan hampa.

“Sekarang malah dak dapat apa-apa. Capek bawa barang, tapi pulangnya dompet kosong,” katanya, suaranya hampir tak terdengar.

Tak jauh dari gerobaknya, sebuah lapak dibiarkan tertutup. Barang-barangnya tertata rapi, tapi tak disentuh. Pemiliknya, seorang perempuan muda yang tengah hamil, memilih untuk tidak berjualan malam itu.

“Katanya mau jalan-jalan saja. Hatinya sudah payah. Semalam buka, tapi tak ada pembeli,” ucap Sri, menatap kosong.

Toriq, pedagang lain yang biasa menjual makanan ringan, hanya bisa tersenyum getir. Sejak buka setelah Lebaran, pendapatannya tak menyentuh Rp 20 ribu. Rata-rata hanya Rp 15 ribu semalam.

“Yang duduk di depan itu bukan pembeli, cuma teman-teman PKL juga. Sama-sama numpang mimpi ada pembeli,” ujarnya pahit.

Ia pun mengaku melihat penampakan serupa dengan yang dikisahkan Sri. Sosok pocong berdiri di bagian selatan lokasi. “Asli pocong,” katanya dengan yakin.

Namun, di tengah gelapnya malam dan dinginnya udara, ada satu nyala yang tetap bertahan: yaitu kompor kecil di gerobak Sri. Seolah menjadi simbul keteguhan hati pada pedagang kecil. Walau tak ada secangkir kopi pun yang dipesan.

“Kami hanya rakyat kecil yang ingin mencari uang kecil. Tolonglah beri kami tempat yang layak. Agar bisa tetap hidup, meski hanya dari secangkir kopi,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Meski keluh kesah sudah menyentuh banyak telinga, harapan belum sepenuhnya padam. Para PKL berharap dapat kembali ke sisi timur stadion atau setidaknya, di tempat yang mudah dilihat pengguna jalan Pantura.

“Kalau kelihatan dari jalan, penjunjung pasti mampir. Saat masih di depan dulu, banyak orang luar daerah bilang Kraksaan sudah hidup. Sekarang kami kembali ke tempat sepi lagi,” ungkap seorang pedagang.

Suara-suara lirih para pedagang akhirnya sampai ke telinga pemerintah. Kepala Bidang Perdagangan DKUPP Kabupaten Probolinggo Mahdinsareza menyampaikan, Bupati Probolinggo Mohammad Haris telah meninjau langsung lokasi dan berdialog dengan para PKL.

“Bupati menugaskan kami untuk mengkaji opsi solusi terbaik. Ada tiga hal utama: kenyamanan pedagang dan pengunjung, kesejahteraan masyarakat, serta estetika stadion,” katanya.

Reza –sapaan akrabnya- menambahkan, pihaknya tengah memetakan beberapa lokasi alternatif yang akan diajukan kepada Bupati. Keputusan akhir akan segera diumumkan.

“Hasilnya akan kita sampaikan ke Bupati, sehingga Bupati nanti yang akan memutuskan solusi terbaik. kami akan sampaikan secepatnya,” katanya memberi harapan bagi pedagang.

Kembali merangkak naik di barat stadion. Gerobak-gerobak itu masih berdiri, meski tubuh-tubuh lelah di baliknya mulai goyah. Namun asa tetap ada, menggantung di ujung doa, menunggu datangnya pagi yang lebih bersahabat. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pemkab probolinggo #stadion gelora merdeka #angker #omzet anjlok #pocong #sepi #probolinggo #Kraksaan