Warga Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, menikmati momen Lebaran tahun ini, dengan nuansa berbeda.
Bencana alam tanah gerak yang menimpa, membuat mereka harus tetap waspada. Bersiaga, jika seandainya hal tak terduga kembali menimpa.
Deretan jajanan, menghiasi ruang tamu rumah Rudianto, 35, warga Dusun Sempu RT 01 RW/08, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Sebagian, merupakan jajanan khas pabrikan. Sebagian lainnya, merupakan produksi buah tangan. Ada krupuk, kue kacang dan aneka jajanan suguhan Lebaran lainnya.
Jajanan itu, diwadahi toples berbeda. Ada yang memang dari pabrikan. Ada pula toples yang merupakan “warisan” Lebaran tahun-tahun sebelumnya.
“Kami merayakan momen Lebaran tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya. Hampir tidak ada perubahan, meski terdampak bencana alam tanah gerak,” ungkapnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (3/4).
Rudianto merupakan salah satu warga yang terdampak bencana alam tanah gerak di Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi.
Selain dirinya, ada ratusan warga lain yang mengalami nasib serupa.
Bencana yang berlangsung 26 Januari 2025 itu, memang mengubah kehidupan 58 KK. Mereka harus tinggal di pengungsian sementara.
Meski tak jarang, mereka memilih wira-wiri pulang ke rumah dari tempat pengungsian di SDN Cowek II.
Sekitar dua bulan lamanya, mereka hidup di dalam pengungsian. Termasuk ketika Ramadan.
Namun, tak ada tempat yang senyaman rumah. Karenanya, sejak menjelang Lebaran, mereka nekat untuk menempati rumah masing-masing di tengah ancaman bencana.
Sama halnya dengan Rudianto, warga Sempu lainnya, menghiasi ruang tamu mereka dengan aneka camilan dan jajanan, layaknya Lebaran pada umumnya.
Ada yang ditaruh di atas meja. Ada pula yang di lantai, beralaskan karpet. Jajanan tersebut mereka sajikan, jauh hari sebelum Lebaran tiba.
“Hari H Lebaran, kami Salat Ied di Masjid. Selanjutnya keliling kampung melakukan silaturahmi atau anjang sana ke rumah saudara, tetangga dan warga lainnya. Berlangsung hingga H+1 dan 2 Lebaran. Setelah itu, kembali normal seperti sekarang,” tuturnya.
Hulu lalang kendaraan dan tamu yang berdatangan pun, berkurang memasuki H+3 Lebaran. Bahkan, relatif tampak sepi.
“Warga sudah melakukan aktitas normal seperti biasa. Sebagian besar menjadi petani dan buruh tani. Termasuk saya, baru pulang dari tegalan,” imbuhnya.
Menurutnya, bencana tanah gerak, tak menyurutkan semangat warga di dusun setempat untuk merayakan Lebaran tahun ini.
Meskipun sederhana, namun tak mengubah esensi Lebaran, seperti halnya tahun-tahun sebelumnya.
“Warga di sini, tetap mempertahankan tradisi saat Lebaran. Yakni silaturahmi ke rumah warga satu dan yang lainnya. Ini tetap terjaga dan tidak ditinggalkan begitu saja,” akunya.
Memang, kata Rudianto, ada hal yang berbeda dibandingkan Lebaran tahun-tahun sebelumnya.
Tamu yang datang, tak sekedar silaturahmi. Tetapi juga, menyaksikan kondisi rumahnya, yang retak-retak imbas bencana.
Tak sedikit yang akhirnya merasa iba, imbas adanya bencana yang menimpa ia dan warga Sempu lainnya.
“Tidak hanya salaman, mereka yang datang, juga melihat titik-titik kerusakan di rumah kami. Tembok yang retak dan berlubang. Tentu hal itu membuat kami sedih. Dan mereka, senantiasa menguatkan kami,” beber dia.
Dalam benaknya yang terdalam, Rudianto berharap adanya renovasi terhadap rumahnya.
Karena untuk relokasi, lahan yang disiapkan lokasinya jauh dari Dusun Sempu. Berjarak sekitar tujuh kilometer.
“Kalau pun harus direlokasi, kami berharap jaraknya dekat dengan dusun kami. Karena, lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian kami, dekat dengan dusun ini,” ungkapnya penuh harap.
Karena itu, meskipun sudah kembali dan tinggal di rumah masing-masing, warga terdampak bencana, belum bisa melakukan perbaikan rumah.
Alasannya, tidak memiliki dana. Karena dari hasil bertani, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hal senada disampaikan Umiasih, 57, warga Dusun Sempu RT 01/RW 08, yang rumahnya juga mengalami kerusakan berat terdampak bencana alam tanah gerak.
Ia mengaku, Lebaran ini memang berbeda. Karena benar-benar membuatnya bersedih hati. Lantaran mendapati rumahnya, yang rusak untuk ditempati.
Namun, hal itu tak menyurutkan semangatnya. Untuk tetap merayakan Lebaran di rumah. Karena bagaimanapun, rumah adalah tempat yang paling nyaman baginya.
“Mau bagaimana lagi, Lebaran ya tetap Lebaran. Tradisi silaturahmi dan kue lebaran, tetap ada. Saya pilih berlebaran di rumah, ketimbang di pengungsian,” paparnya.
Baik Rudianto, Umiasih dan warga lainnya merasa, lebih nyaman tinggal di rumah. Meski sebenarnya, bahaya bencana tetap mengintai mereka.
“Saat ini sudah aman. Warga sudah tidak trauma lagi. Tapi tetap waspada. Terutama saat hujan lebat,” kata Rudianto menambahkan.
Sementara itu, Kades Cowek M. Sofii mengaku salut dengan semangat warga Dusun Sempu tetap merayakan Lebaran tahun ini. Meskipun mereka, hidup di tengah ancaman bencana.
“Kami dari pemdes terus menyupport warga di Dusun Sempu. Lebaran tahun ini, mereka tetap semangat merayakan Lebaran. Meskipun sederhana pasca dilanda bencana. Namun, antusias untuk menjaga tradisi tetap terjaga,” ucapnya.
Terkait upaya penanganan kerusakan rumah warga terdampak tanah gerak di Dusun Sempu, pihaknya mengaku masih menunggu keputusan dari Pemkab Pasuruan.
Sampai dengan sekarang belum diputuskan, apakah direlokasi atau direnovasi.
“Kami di pemdes tidak bisa berbuat banyak. Hanya mengakomodir dan memediasi dan menjembatani warga terdampak dengan pemerintah daerah. Mudah-mudahan ada keputusan terbaik, untuk warga di Dusun Sempu terdampak tanah gerak,” tandasnya. (zal/one)
Editor : Ronald Fernando