Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bambang Hariyanto Belasan Tahun Produksi Kopiah, Kewalahan Penuhi Permintaan Jelang Lebaran

Muhamad Busthomi • Selasa, 18 Maret 2025 | 20:00 WIB
KETIBAN BERKAH:  Bambang Hariyanto dengan tumpukan produksi kopiah di rumahnya di gudang tempat produksinya.
KETIBAN BERKAH:  Bambang Hariyanto dengan tumpukan produksi kopiah di rumahnya di gudang tempat produksinya.

Masih ingat dengan slogan ’kupluk loro’ yang menggema saat Pilbup Pasuruan lalu? Di balik songkok ikonik yang dikenakan Mas Rusdi-Gus Shobih selama kampanye, ada tangan terampil Bambang Hariyanto, seorang perajin kopiah dari Desa Sungiwetan, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan yang kini tengah kewalahan menerima pesanan menjelang Lebaran.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pohjentrek, Radar Bromo

Tumpukan kopiah berbagai model menjulang tinggi, seolah membentuk bukit kecil di sudut ruangan. Satu dua pekerja pria sibuk mengemas kopiah yang siap dikirim, kendati matahari sudah condong ke barat, namun semangat kerja mereka tak surut sedikit pun.

Di sebelah gudang barang itu, lebih banyak pekerja yang berpacu dengan waktu. Suara mesin jahit saling bersahutan menggema di dalam gudang produksi, beradu cepat dengan jarum jam yang terus berputar.

Di tengah kesibukan yang tak kunjung reda, para karyawan perempuan dengan cekatan menyelesaikan jahitan terakhir.

Di Desa Sungiwetan, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, sebuah usaha rumahan tengah mengalami lonjakan produksi yang luar biasa. Bambang Hariyanto, sang pemilik usaha, tak hanya duduk diam mengawasi. Ia turut terjun langsung, sesekali tangannya lincah memainkan mesin jahit, berpacu dengan waktu demi memenuhi permintaan pasar yang membludak menjelang Lebaran.

”Alhamdulillah, pesanan kali ini luar biasa. Kami sampai kewalahan memenuhi permintaan,” ungkap Bambang dengan senyum lega di tengah kesibukan para pekerjanya.

Lonjakan permintaan ini bukan hal baru bagi Bambang, yang telah 17 tahun berkecimpung dalam bisnis pembuatan kopyah. Namun, tahun ini, peningkatannya terasa lebih signifikan.

Bahkan, lonjakan permintaan sudah terasa sejak sebulan sebelum Ramadan tiba. Produksinya melonjak dari 60 kodi dalam dua pekan menjadi 100 kodi dalam sepekan.

Itu artinya, Bambang harus memastikan 2 ribu buah kopiah tersedia setiap pekannya.

”Saya memperkirakan pengiriman barang akan terus berangsur hingga H-3 Lebaran, saat karyawan diliburkan,” katanya.

Namun, stok barang miliknya masih mencukupi hingga hari H. ”Karena pengalaman tahun-tahun lalu, biasanya malam takbiran pun saya masih kirim,” jelas Bambang.

Dengan pengalaman yang matang, Bambang mampu menghasilkan kopiah berkualitas dengan berbagai model dan harga yang terjangkau, mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 16 ribu. Ia memiliki 10 karyawan yang terampil dan berpengalaman, yang menjadi tulang punggung usahanya.

Salah satu keunggulan kopiah buatan Bambang adalah sifatnya yang tahan air. Rahasianya terletak pada lapisan dalam kopiah yang menggunakan mika dan talang air, sehingga tidak mudah rusak saat dicuci.

”Beda dengan songkok yang umumnya pakai kertas, kopiah kami lebih awet dan tahan lama,” terang Bambang.

Keunggulan ini diterapkan pada semua jenis kopiah yang diproduksi, mulai dari asagofah, kalbut, songkok, hingga model Malaysia. Namun, model Malaysia menjadi primadona, paling banyak diminati pelanggan.

”Model Malaysia ini memang stabil pasarnya. Selain modelnya yang simpel, harganya juga terjangkau,” kata Bambang.

Menurut Bambang, peningkatan permintaan kopiah menjelang Lebaran adalah fenomena tahunan. Namun, tahun ini peningkatannya cukup signifikan, mungkin karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tampil rapi dan religius saat Lebaran.

”Kopiah sudah menjadi bagian dari tradisi Lebaran di Indonesia. Banyak orang ingin tampil maksimal saat merayakan hari kemenangan,” tuturnya.

Untuk memenuhi permintaan yang tinggi, Bambang dan para karyawannya bekerja ekstra keras.

Namun, semangat mereka tak pernah padam. Mereka senang karena usaha mereka memberikan manfaat bagi banyak orang.

”Kami bangga bisa menghasilkan kopiah berkualitas yang disukai masyarakat. Semoga usaha kami terus berkembang dan memberikan keberkahan bagi semua,” harap lelaki 44 tahun itu.

Di tengah gempuran produk impor, kopiah buatan Bambang Hariyanto mampu bertahan dan bahkan semakin diminati. Pasarnya tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga merambah ke berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Sumatera, Sulawesi, hingga Kalimantan.

”Kami akan terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk kami agar bisa bersaing di pasar global,” tegas Bambang. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#pengusaha #pasuruan #pohjentrek #lebaran #permintaan pasar #kopiah