Di balik seragam Satpol PP Kabupaten Pasuruan, Ustukri, 46, menyimpan kisah sukses sebagai petani hortikultura. Warga Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, ini mampu membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras dapat membuahkan hasil manis. Bahkan, di tengah kesibukan sebagai abdi negara.
MUHAMAD BUSTHOMI, Purwodadi, Radar Bromo
Beberapa ekor kambing mengembik perlahan dari kandang di sudut kebun, seolah menyambut pagi. Di bawah terik matahari yang mulai meninggi, tanaman cabai merah menyala di antara hijaunya dedaunan.
Ustukri berdiri dengan galah bambu di tangan di kebun belakang rumahnya yang teduh. Matanya tertuju pada cabang-cabang pohon alpukat yang menjulang. Tingginya kira-kira tiga meter dari tempatnya berpijak.
Ia mendongak, mencari buah yang warnanya telah agak redup, pertanda siap dipetik. ”Kalau masih mengkilap, belum cukup matang,” katanya. Suaranya pelan namun dalam, seolah berbagi rahasia dengan alam.
Dengan mengelilingi tiga pohon saja, Ustukri sudah bisa memetik sekitar 30 buah alpukat. Ukurannya terbilang jumbo. Kira-kira seukuran kepala bayi. Beratnya kurang lebih 1 kilogram.
Alpukat markus memang varietas alpukat yang memiliki buah berukuran besar. Daging tebal dan rasa yang lebih manis.
Tapi, puluhan buah yang baru dipanen Ustukri masih keras. Tak bisa langsung dimakan setelah dipanen dari pohonnya. Biasanya, butuh waktu untuk memeramkan buah hingga benar-benar matang.
”Kira-kira seminggu baru bisa dimakan,” kata Ustukri, saat ditemui di rumahnya yang teduh, di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Sabtu (8/3) siang.
Namun, bukan berarti buah-buah itu tak bisa menghasilkan cuan. Kalau dijual pascapanen, harganya sekitar Rp 30 ribu per kilogram.
Hampir dua dekade Ustukri menggeluti tanaman hortikultura. Terutama buah alpukat dan durian.
”Tapi kalau berkebun ya memang sudah terbiasa. Namanya wong ndeso, mulai kecil hidupnya di tegal,” kata ayah dua anak itu.
Sebelum berseragam Satpol PP Kabupaten Pasuruan seperti sekarang, Ustukri sempat menghabiskan masa mudanya mengadu nasib di tanah orang. Tapi hanya dua tahun ia bertahan di Pulau Sumatera.
Ia memutuskan pulang kampung pada 1999, saat isu ”ninja” merebak. Kekhawatirannya akan keselamatan sang ayah memaksanya pulang dari perantauan.
Apalagi ayahnya seorang guru ngaji. Dan sasaran ninja pascareformasi kala itu, salah satunya adalah guru-guru ngaji di kampung. ”Sejak itu saya memilih mencari hidup tak jauh dari keluarga,” ungkapnya.
Pada 2001, ia bergabung dengan pemerintah daerah. Tiga tahun kemudian ia ditugaskan sebagai patwal di Satpol PP. Nasib mujur membawa statusnya naik sebagai PNS pada 2006.
Namun, kecintaan Ustukri pada dunia pertanian tidak pernah pudar. Ia menyisihkan gajinya, sedikit demi sedikit, untuk membeli lahan. Lalu mengolah lahan hasil pembeliannya sendiri untuk dijadikan kebun hortikultura.
Semua dilakukan secara otodidak. Ibarat kata, bertani bagi Ustukri merupakan ilmu katon. Bisa dilihat dan dipelajari langsung dengan mempraktikkannya.
Dan ia pun mampu membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras dapat membuahkan hasil manis. Bahkan, di tengah kesibukan sebagai abdi negara.
Awalnya, Ustukri mencoba peruntungan dengan menanam jeruk. Namun, ia kapok karena perawatan yang rumit dan serangan hama yang sering terjadi. Terutama di musim hujan. ”Sering sekali harus menyemprot pestisida,” kenangnya.
Akhirnya, Ustukri beralih ke alpukat dan durian. Ia menerapkan pola perawatan yang hampir sama yaitu menggunakan obat dan pupuk secara intensif tiga bulan sebelum masa panen. Ia juga menerapkan teknik okulasi dan stek untuk menghasilkan varietas unggul.
Di kebunnya, Ustukri menanam berbagai jenis alpukat. Seperti Markus, lokal, Jumbo Hawai, Vietnam, Hass, dan Aligator.
Rata-rata pohon alpukatnya menghasilkan dua varietas sekaligus. Sementara pohon alpukatnya mulai berbuah setelah empat tahun penanaman. ”Kalau stek, tergantung jenisnya, ada yang delapan bulan sudah bisa berbuah,” jelasnya.
Untuk durian, Ustukri memilih varietas D24, Bawor, dan Musang King. Ia juga memiliki pohon durian lokal berusia 20 tahun yang mampu menghasilkan 500 buah dalam sekali panen. ”Kalau buahnya kurang bagus, langsung saya stek,” katanya.
Ia tak memungkiri, pengalamannya sebagai anggota Satpol PP turut membantunya dalam mengelola kebun. Ia banyak belajar soal kedisiplinan di korps penegak perda itu.
Dan hal itu juga ia terapkan dalam merawat tanaman. ”Bertani itu butuh kesabaran dan ketekunan,” ujarnya.
Kini, hasil panen alpukat dan durian Ustukri menjadi tambahan penghasilan yang signifikan. Ia juga sering berbagi ilmu dengan petani lain di desanya. ”Saya senang bisa membantu orang lain,” ujarnya.
Bahkan, yang membuatnya bersyukur, bisa mengantarkan anak sulungnya hingga ”jadi orang”. Per 1 Desember 2024 lalu, putrinya sudah ditempatkan di Betoambari Airport Baubau, Sulawesi Tenggara.
Biaya kuliah selama tiga tahun di Politeknik Penerbangan, juga banyak ditopang penghasilannya berkebun.
”Alhamdulillah, hasil kebun ini sangat membantu perekonomian keluarga. Terutama saat anak saya kuliah, hasil kebun ini sangat membantu membiayai pendidikannya,” kata dia.
Meskipun sukses di dunia pertanian, Ustukri tetap menganggap tanggung jawabnya sebagai abdi negara sebagai prioritas utama.
Ia berusaha menyeimbangkan antara tugasnya sebagai pegawai negeri dan aktivitasnya sebagai petani. Bagi Ustukri, kedua peran tersebut memiliki nilai yang tak terpisahkan dan saling melengkapi.
"Menjadi abdi negara adalah amanah, sementara berkebun adalah bagian dari hidup saya," tutupnya, menegaskan bahwa sukses sejati adalah ketika seseorang bisa menyeimbangkan tugas, cinta, dan harapan dalam hidupnya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi