Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Musala Muhammad Yasin Kebonsari Kulon Kota Probolinggo, Didirikan Prajurit Pangeran Diponegoro Pada 1850-an

Arif Mashudi • Minggu, 2 Maret 2025 | 17:10 WIB
TETAP LESTARI: Pengelola Musala Muhammad Yasin, Abdul Agil Haneman (berdiri) bersama salah seorang warga sedang tadarus di Musala Muhammad Yasin.
TETAP LESTARI: Pengelola Musala Muhammad Yasin, Abdul Agil Haneman (berdiri) bersama salah seorang warga sedang tadarus di Musala Muhammad Yasin.

MUSALA Muhammad Yasin awalnya merupakan surau keluarga Mbah Buyut Sila. Didirikan pada sekitar tahun 1850-an, musala ini menjadi tempat ibadah salat berjamaah lima waktu bagi masyarakat sekitar.

Salat berjamaah lima waktu (Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya) di Musala Muhammad Yasin istiqomah digelar. Sejumlah warga sekitar tak enggan melangkahkan kakinya ke musala di Jalan Cokroaminoto, Gang Aruman RT 01/RW 10, Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo ini.

Meski awalnya hanya musala keluarga, namun kemudian berkembang menjadi musala umum. Tak hanya salat berjamaah, ketika Ramadan musala ini juga menjadi tempat melaksanakan salat tarawih dan tadarus.

“Musala ini ada sejak sekitar tahun 1850-an. Nama Musala Muhammad Yasin diambil dari salah satu putra Mbah Buyut Sila,” ujar Pengelola Musala Muhammad Yasin Abdul Agil Haneman. Ia merupakan keturunan ke-6 Mbah Buyut Sila.

Agil menceritakan, Mbah Buyut Sila merupakan salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro. Kemudian, lelaki asal Madura itu menetap di Probolinggo dan mendirikan musala. Seperti umumnya rumah di Madura, di depan rumahnya ada suraunya.

Tak hanya menjadi tempat salat berjamaah, surau ini sempat menjadi tempat belajar para bocah belajar membaca Alquran. Namun, lambat laun santri musala ini semakin minim.

“Dulu ada yang belajar mengaji di musala ini, tapi tidak lama. Kemungkinan karena banyak tempat mengaji di musala lain dulu,” ujarnya.

Musala Muhammad Yasin, sudah tiga kali direhab. Tetapi, sejak awal dirinya, keluarga dan warga sekitar berusaha mempertahankan keaslian musala peninggalan zaman penjajahan ini.

Rehab pertama dilakukan pada 1971. Dipasang keramik lantai gantung. Karena, bangunan musala tersebut aslinya gantung atau tidak langsung menyentuh tanah. Di setiap sudut musala ada penyangga.

“Musala ini dulunya musala gantung. Lantainya tidak menyentuh tanah. Jadi, waktu dikeramik itu tetap gantung,” ujar pria berusia 73 tahun ini.

Awalnya, musala ini lebarnya hanya 3,5 meter dengan panjang 7 meter. Pada 2005 direhab dan dilebarkan ke sisi selatan. Menambah 2 meter. Tetapi, rehab tersebut tidak mengubah bentu musala utama.

Baca Juga: Cegah Pakai Alat Tangkap Terlarang, Satpolairud Lakukan Operasi kepada Nelayan

Pada 2012, kembali diperluas. Menambah 2 meter ke sisi utara.

“Ini sisi selatan dan utara ini tambahan. Dulu luasnya hanya di bagian tengah ini saja,” katanya ketika ditemui usai salat tarawih Jumat (28/2) malam.

Meski sudah beberapa kali direhab, sejumlah bagian dari musala ini tetap terjaga keasliannya. Agil mengungkapkan, lantai musala sudah tidak menggunakan model gantung. Tetapi, bagian dinding utama (tengah), kayu penyangga atap, hingga plafon yang terbuat dari gedek itu tetap asli, tidak pernah diubah. Termasuk ada besi di tengah atap sebagai tempat gantung obor masih ada.

Demi kenyamaan jemaah, tanpa mengubah struktur musala lama, kini telah dilengkapi air condisioner (AC). Karena itu, dinding dari kayu yang berlubang itu dipasang kaca. Supaya suhu dingin AC tidak keluar.

“Papan dinding kayu ini masih asli. Tidak pernah diganti atau dibongkar. Kami dan warga memang sepakat untuk tidak merubah atau menggantinya selama tidak rusak. Sejak saya masih kecil, bagian dinding dan atap musalla ya seperti ini,” jelasnya.

Pria kelahiran 1952 ini mengatakan, sejak dirinya masih kecil, musala ini sudah sering menjadi tempat kegiatan warga. Tetapi, untuk kegiatan belajar membaca Alquran tidak berjalan lama.

“Alhamdulillah, salat berjamaah lima waktu tetap aktif di musala ini. Kalau Dhuhur dan Ashar hanya sekitar 6 orang. Tapi, kalau Magrib dan Isya, alhamdulillah ramai,” ujarnya. (arif mashudi/rud)

Editor : Ronald Fernando
#musala #yasin #probolinggo