Masyarakat Desa Pager, Kecamatan Purwosari mengenal Durajak sebagai seorang kepala desa. Di luar tugasnya sebagai pemimpin desa, Durajak juga dikenal sebagai montir.
RIZAL FAHMI SYATORI, Purwosari, Radar Bromo
Suasana di Balai Desa Pager siang itu sudah tidak terlalu ramai. Ada beberapa perangkat desa yang masih disibukkan dengan pekerjaannya. Selain perangkat desa, terlihat seorang lelaki berpamitan.
Penampilannya formal namun santai. Berkemeja batik lengan panjang, bercelana jins dan tak lupa memakai sepatu jenis kets. Dialah Durajak, 50, yang merupakan Kades Pager.
Usai dari Balai Desa Pager, Durajak siang itu nampak mau pulang. Rupa-rupanya siang itu dia masih punya tanggungan di bengkel miliknya yang berada satu kompleks atau area dengan rumah tinggalnya.
Ternyata, bapak tiga orang anak ini, merupakan seorang mekanik bengkel. “Selain menjadi kades, saya juga bekerja menjadi montir. Buka bengkel sendiri dirumah,” beber suami dari Nasikah, saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.
Sembari menyeruput kopi, Durajak mengatakan, pekerjaannya menjadi seorang montir, telah ditekuninya selama sekitar 24 tahun lamanya. Tepatnya sejak tahun 2000 lalu. Jauh sebelum dirinya menjadi Kades Pager pada tahun 2019 lalu.
“Kalau pagi hingga siang ngantor di balai desa. Sepulang dari bertugas, sesampainya di rumah langsung bekerja menjadi montir,” katanya seraya tersenyum.
Dua pekerjaan ini dijalaninya dengan enjoy. Durajak juga memastikan, tugasnya sebagai kades dan juga seorang montir, sama-sama jalan. Dia tetap melayani masyarakat hingga memimpin di desanya.
Sementara di bengkel miliknya, dia juga bisa melayani jasa reparasi setiap harinya. Sebab sudah ada lima pegawai yang bekerja dengannya.
Sehingga jika ada garapan di bengkel, seperti tune up atau service, perbaikan mesin trobel, kaki-kaki dan lainnya. Ia sebut tidak ada kendala, karena sudah ada pegawai di bengkelnya.
“Sebagai kades, pelayanan masyarakat tetap saya kedepankan. Tentunya pekerjaan menjadi montir tetap jalan terus. Kan masih ada anak-anak (pegawai, red),” tuturnya.
Sebelum menjadi montir dan membuka bengkel, dia mengaku, lebih dulu bekerja sebagai sopir kendaraan berat. Durajak biasa memuat materialan di luar daerah. Dari menjadi sopir inilah Durajak merambah ke dunia permesinan.
Tapi, Durajak menyebut, dia tidak pernah belajar khusus ataupun kursus permesinan. “Bisanya ya dari otodidak. Saat masih menjadi sopir dulu, sering utak-atik mesin. Alhamdulillah, lama kelamaan akhirnya bisa,” ucapnya.
Karena sudah mengetahui seluk beluk mesin khususnya kendaraan berat seperti truk, Durajak makin giat belajar. Tak ayal dia kini bisa membenahi mesin kendaraan berbahan bakar bensin dan solar atau diesel.
Akhirnya dia memutuskan berhenti menjadi sopir, dan beralih bekerja sebagai montir. Dia juga membuka bengkel sendiri di rumah.
Bengkel milik Durajak juga tak hanya melayani perbaikan kendaraan berat. Tapi juga mobil pribadi yang jenisnya beragam. Entah itu mobil sedan, SUV hingga pikap.
Bengkel yang dikelola Durajak memang sudah memiliki karyawan.
Meski hanya memanfaatkan halaman rumahnya, peralatan perkakas di bengkelnya lengkap. Bahkan ada mesin las di dalamnya.
Selama membuka bengkel, Durajak mengaku, sudah punya pelanggan sendiri. Kebanyakan dari sekitaran Pasuruan. Juga adapula dari luar daerah, seperti dari Malang.
“Alhamdulillah pelanggan sudah ada, mungkin sudah cocok dan sreg dengan garapan saya. Selama ini lebih banyak kendaraan milik pelanggan dibawa ke bengkel saya. Adapula beberapa saya yang keluar jika mengalami mogok atau torbel di jalan,” bebernya.
Durajak tidak pernah merasa lelah walau dua pekerjaan dia jalani. Menjadi kades dan montir ini sama-sama pentingnya.
“Tapi tentunya saya harus pintar-pintar berbagi waktu. Alhamdulillah, terutama keluarga di rumah sangat mendukung serta selalu mensupport saya,” tandasnya. (fun)
Editor : Fahreza Nuraga