Seni memang tentang eksplorasi. Tak bisa dibatasi. Termasuk dalam seni rupa. Nayaka Farrel Hadian Rizqi bahkan membuktikan karya yang mampu berbicara bisa dibuat dari limbah. Lukisan pelajar SMAN 1 Bangil itu juga pernah dibawa ke Negeri Sakura.
MUHAMAD BUSTHOMI, BANGIL, Radar Bromo
Bagi Farrel (panggilannya), lukisan bukan sekadar coretan di kanvas. Melainkan perjalanan panjang yang membawanya dari keisengan masa kecil, hingga panggung seni internasional. Sejak taman kanak-kanak, Farrel sudah akrab dengan pensil gambar dan kanvas.
Ia gemar menciptakan karakter kartun dan potret orang-orang di sekitarnya. Namun, semangatnya meredup saat memasuki bangku sekolah dasar, hingga menengah pertama. Motivasi berkarya seolah hilang ditelan rutinitas.
Titik balik itu datang saat ia berlibur ke rumah maestro perupa, Nasirun. Melihat langsung karya-karya sang pelukis, remaja 17 tahun itu tersadar bahwa seni bukan sekadar keterampilan teknis. Tetapi juga eksplorasi tanpa batas.
Apalagi, Nasirun juga mengoleksi karya-karya Afandi. Itu semakin memperluas wawasan Farrel tentang dunia seni.
“Saya kemudian sadar bahwa seni bukan sekadar melukis dan menggambar. Tapi, eksplorasi yang mencakup banyak hal,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Perjalanan seni Farrel semakin berkembang saat ia bergabung dengan komunitas Lingkaran Kolaborasi, wadah bagi anak-anak muda kreatif di Bangil. Awalnya, ia terkejut mengetahui ada komunitas seni di kota kecil.
Di sana, ia menemukan wadah untuk berekspresi dan memamerkan karyanya. Salah satu pameran yang mengubah hidupnya adalah “Road to Derik: Bersuka Ria” dengan tema “Ketahanan Pangan”.
Pameran ini mendorong Farrel untuk mengeksplorasi media baru yaitu limbah. Ia menemukan potensi unik dari busa tambak yang terendam air, yang biasanya digunakan sebagai bahan rakit.
“Karena unik bentuknya dan belum ada yang menggunakan,” jelas Farrel yang tinggal di Kelurahan Pagak, Kecamatan Beji, itu.
Inspirasi itu berawal dari pameran Sengkuni UNESA yang bertema Transisi. Farrel ingin menggambarkan fase transisi dari kanak-kanak menuju dewasa melalui bongkahan tembok dari busa. Ia juga menciptakan figur petani perempuan memanggul padi dan sapi dari kaleng bekas cat semprot.
Karya-karya Farrel sarat dengan isu sosial. Ia terinspirasi dari gaya Banksy, pelukis Inggris yang terkenal dengan karya-karya kritisnya. Termasuk dalam menyuarakan isu kemanusiaan di Palestina. Ia pernah menggunakan ban bekas sebagai bingkai dan kanvas berlapis tripleks sebagai media lukis.
Prestasi Farrel sebagai perupa muda juga patut diacungi jempol. Ia pernah mengikuti ajang Artlinc ISBI Bandung bertajuk “DWIPANTARA.” Di sini, dia bahkan meraih tiga besar dengan karya “Harmony Culture” yang memadukan budaya Indonesia dan Jepang.
Karya itu menampilkan unsur-unsur seperti wayang golek, wayang kulit, dan barong yang mewakili budaya Indonesia. Lalu ia padukan dengan kimono, ikan koi, harimau putih, dan naga, dengan dominasi warna emas yang identik dengan Jepang.
Pada November 2024, lukisannya lolos kurasi untuk dipamerkan di Eco Gallery Shinjuku, Tokyo, Jepang. “Kaget juga karena pengerjaan hanya enam jam. Bahkan, submit karya di injury time,” katanya.
Meskipun sukses mengharumkan nama Kabupaten Pasuruan di pentas seni internasional, Farrel tidak lupa untuk berbagi ilmu dan menginspirasi generasi muda di sekitarnya. Ia mengisi waktu luangnya dengan mengajar ekstrakurikuler melukis di SDN Pagak, tempat di mana ia tumbuh besar.
“Hari Sabtu saja kebetulan sekolah libur. Bisa bermanfaat di lingkungan sekitar,” ujarnya dengan penuh kerendahan hati.
Bagi Farrel, seni adalah jalan hidup yang tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memberi manfaat bagi orang lain. Dengan tekad dan semangat yang membara, ia terus berusaha menggali potensi dirinya dan menjadikan seni sebagai sarana untuk berbicara, berbagi, dan menginspirasi dunia. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi