Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Ketua PN Bangil Benny Sudarsono, Terapkan Filosofi Panjat Pinang untuk Pimpin Lembaga Peradilan

Muhamad Busthomi • Selasa, 4 Februari 2025 | 18:34 WIB

 

Ketua Pengadilan Negeri Bangil Benny Sudarsono menekankan soliditas dalam lembaga peradilan yang dipimpinnya.
Ketua Pengadilan Negeri Bangil Benny Sudarsono menekankan soliditas dalam lembaga peradilan yang dipimpinnya.
 

Meski kini menjabat sebaga ketua Pengadilan Negeri Bangil, sebenarnya Benny Sudarsono memulai karirnya tanpa bayangan sama sekali menjadi seorang pejabat negara. Dia menjalani karir yang penuh kejutan dan titik balik tak terduga. Memimpin lembaga peradilan dengan memegang filosofi panjat pinang.

 

MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo

Lahir dan besar di Jakarta, membuat Benny Sudarsono lebih mendambakan pekerjaan kantoran. Wajar saja, saban hari ia terbiasa melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang di kawasan Sudirman atau Kuningan.

Saat menyelesaikan pendidikan Fakultas Hukum Universitas Trisakti, ia tak pernah membayangkan jadi seorang hakim. Apalagi sampai memimpin lembaga peradilan seperti sekarang.

Bahkan, ketika ada rekomendasi dari kampus untuk mengikuti tes calon hakim, Benny mengikuti tanpa target apa pun. Hanya ingin menunjukkan kemampuan kepada orang tuanya, sambil berencana melanjutkan studi pascasarjana.

Namun, takdir berkata lain. Hakim berdarah Jawa-Makassar itu lulus tes. Hasil itu kemudian menjadi titik balik dalam hidupnya.

”Bahkan, saya tak pernah terpikir suatu saat menjadi ketua pengadilan,” ujar Benny saat ditemui, akhir pekan lalu.

Karir Benny dimulai pada 2003 sebagai calon hakim di Pengadilan Negeri Sukabumi. Dua tahun kemudian, ia dipromosikan menjadi hakim di Pengadilan Negeri Takalar, Sulawesi Selatan.

Sejak saat itu, perjalanan karirnya melaju cepat. Benny berpindah tugas ke beberapa daerah. Mulai dari Pengadilan Negeri Gianyar, Bali. Lalu Subang, Malang, dan Tanjung Selor, Kalimantan Utara.

Di Tanjung Selor, Benny menjabat sebagai ketua Pengadilan Negeri untuk dua periode. Pada 2021, ia dipindahkan ke Banjar Baru, Kalimantan Selatan, di mana ia berhasil membawa pengadilan tersebut naik kelas menjadi kelas 1B.

Ia juga mengantarkan PN Tanjung Selor mendapat predikat peradilan terbaik se-Indonesia. Sementara di Banjarbaru, ia mengantarkan lembaga peradilan yang dipimpinnya meraih juara nasional dalam administrasi perkara.

”Setiap tempat yang saya tempati, saya belajar banyak. Setiap daerah punya tantangan dan itu yang membentuk cara saya memimpin,” kata lelaki kelahiran 1978 silam.

Pada 2024, Benny mendapat amanah baru sebagai ketua Pengadilan Negeri Bangil. Kabupaten Pasuruan, memang menjadi daerah yang terbilang baru bagi dia. Namun, bukan berarti Benny tak paham bagaimana karakteristik daerah ini.

”Saya pernah di PN Malang tahun 2016 sampai 2017. Jadi, paling tidak sudah paham bagaimana karakteristik Jawa Timur-an,” katanya.

Benny memandang kepemimpinan sebagai sebuah tim kerja yang solid. Baginya, mengelola sebuah lembaga peradilan bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang bagaimana proses dijalankan dengan benar.

Filosofi yang ia bawa adalah filosofi panjat pinang. Yang berada di bawah menanggung beban, tanpa mendongak ke atas. Sementara yang di atas, fokus melaksanakan tugasnya.

”Menjadi satu tim yang kompak. Kalau tidak kompak, pasti jatuh. Dan saat jatuh, tepuk tangan orang akan lebih keras ketimbang saat kita berhasil,” kata Benny.

Lomba tradisional yang dulu kerap digelar saat memeriahkan 17 Agustusan itu bagi dia memang mengajarkan tentang kerja sama dan pengorbanan.

 ”Proses itu yang terpenting. Hasil itu hanya bonus. Kalau kita menjalani proses dengan benar, hasilnya pasti akan baik,” ungkap Benny.

Baginya, kepemimpinan bukan hanya tentang memberi perintah, tetapi juga tentang memberikan contoh yang baik.

Sejak dilantik menjadi ketua Pengadilan Negeri Bangil pada November 2024, Benny langsung membuat sejumlah langkah strategis.

Salah satu prioritas utama yang ia tekankan adalah mempercepat penyelesaian perkara. Yaitu, fokus pada kasus-kasus yang menjadi perhatian besar masyarakat, seperti begal.

”Saya ingin memastikan setiap hakim memiliki pandangan yang sama dalam menangani kasus-kasus yang menjadi atensi masyarakat. Kita harus solid dalam memberikan putusan yang adil,” jelas Benny.

Di bawah kepemimpinannya, Pengadilan Negeri Bangil berhasil masuk dalam tiga besar nasional penyelesaian perkara.

Ini merupakan pencapaian yang membanggakan. Namun, Benny mengingatkan bahwa hasil ini adalah buah dari kerja keras tim yang saling bersinergi dan kompak.

Benny juga sangat menekankan pentingnya integritas dan independensi dalam menegakkan keadilan.

Menurutnya, sistem yang baik adalah fondasi utama dalam menjaga agar setiap hakim tetap berada pada jalur yang benar.

Ia memegang pesan Ketua Mahkamah Agung Prof. Sunarto yang mengutip petuah dari Prof. J.E. Sahetapy, bahwa ikan busuk dimulai dari kepalanya.

”Perumpamaan itu menggambarkan bagaimana kualitas sebuah organisasi yang sangat bergantung pada kepemimpinan yang ada di pucuknya,” katanya.

Untuk itu, Benny menerapkan sistem yang ketat di bawah kepemimpinannya. Ia juga mengintegrasikan program-program seperti pengajian bulanan dan kegiatan sosial dengan anak yatim untuk memperkuat kecerdasan spiritual (SQ) di lingkungan kerja.

Sebagai seorang pemimpin, Benny juga selalu memantau setiap perkembangan perkara yang ada di bawah pimpinannya. Meskipun tidak pernah mengintervensi independensi hakim.

”Saya mesti mengikuti perkembangan perkara yang ada, tetapi tidak dalam kapasitas saya mengintervensi. Sebab, setiap hakim harus punya independensi,” tegasnya.

Ia yakin, apabila kepemimpinan suatu satuan kerja sudah baik, maka akan lebih mudah untuk memperbaiki aparatur yang ada di bawahnya.

Integritas dan profesionalitas yang menjadi basis parameter kepercayaan publik, harus dimulai dari unsur pimpinan peradilan.

”Semua tergantung pada sistem. Kalau sistemnya baik, orang jahat akan baik. Kalau sistemnya buruk, orang baik pun bisa jadi jahat,” kata Benny. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#PN Bangil #hakim #pengadilan negeri #panjat pinang #trisakti