Saat krisis moneter melanda dunia pada 1998, Dasno jadi pengangguran. Tapi dia berusaha bangkit dengan membuka wirausaha jual mie ayam. Dasno lalu merintis membuat mesin produksi mi mentah hingga dia sukses membuka pabrik.
ARIF MASHUDI, Kedopok, Radar Bromo
Rumah dan tempat produksi mesin mi milik Dasno terletak di Jalan Mastrip, tepatnya di perum Blok B RT 06 RW 06 Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Di samping dan belakang rumahnya, menjadi tempat memproduksi mesin pembuat mie berbagai jenis.
Saat didatangi Jawa Pos Radar Bromo, Dasno tengah berada di dalam gudangnya. Walau sudah menjadi bos, dia tetap turun langsung mengawasi proses produksi mesin mi itu, untuk memastikan kualitas mesinnya.
Setidaknya ada sekitar 9 orang pekerja yang tengah bekerja membuat mesin pembuat mi tersebut.
Dasno mengaku, dia tidak langsung seperti saat ini kondisinya. Dulu awal masuk Kota Probolinggo tahun 2000, dia hanya tinggal di rumah kontrakan.
Saat itu, dia ikut terimbas krisis moneter 1998, sehingga terpaksa terkena pengurangan pekerja di Indomobil Jakarta.
Selepas di PHK, dia bertekad untuk berwirausaha di Kota Probolinggo, karena sulitnya mencari pekerjaan waktu itu.
”Kebetulan orang tua pernah usaha jual mi ayam. Saya pun membuka usaha mi ayam di rumah kontrakan di Jalan Hasyim Ashari,” kenang bapak tiga anak itu.
Dasno mengaku, satu tahun berikutnya, dirinya pindah tinggal di rumah kontrakan Jalan KH Hasan Gg Bayusari 8 (Gg Lele) Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran.
Sekitar 9 tahun lamanya, dia tinggal di rumah kontrakan tersebut dan tetap berjualan mi ayam di tepi jalan.
Sejak awal membuka usaha jual mi ayam, dia sudah membuat sendiri mi mentahnya meski proses manual.
Dari situlah dia terpikir, mengapa tidak membuat mesin sendiri saja. Karena jika membeli mesinnya, tentu sangat mahal.
”Waktu awal membuat mesin pembuat mi mentah itu, ya numpang bengkel las orang. Karena memang tidak punya bengkel dan peralatan. Tapi saya sudah ada konsep dan bahan-bahan untuk dijadikan mesin pembuat mi mentah,” terangnya.
Dari situ, mesin pembuat mi cbuatan Dasno, makin berkembang. Dia lalu memutuskan, usaha jual mi ayam diserahkan kepada adiknya. Sementara dirinya fokus memproduksi mi mentah untuk dijual pada para pedagang mi ayam.
Rupanya, mi mentah buatan dari mesinnya banyak diburu oleh pedagang mi ayam. Bukan hanya dari Kota Probolinggo. Begitu juga dengan mesin pembuat mi.
Karena tidak jarang ada temannya dari luar kota, yang ingin dibuatkan mesin pembuat mi mentah serupa.
Semenjak itulah dia kerap menerima orderan mesin. Lagi-lagi, karena tak miliki bengkel dan mesin las sendiri, akhirnya proses pembuatan mesin pembuat mi mentah itu dikerjakan di bengkel orang lain.
”Alhamdulillah, ada saja dari saudara atau teman yang pesan untuk dibuatkan mesin produksi mi mentah itu. Saya waktu itu, hanya terima pesanan mesin dari luar kota. Karena di Kota Probolinggo sendiri, saya sendiri juga masih produksi mi mentah untuk dijual ke pedagang mi ayam,” terangnya.
Dasno mengaku, sebagai pembuat mi mentah, tentu dia ingin pelanggannya bertambah. Namun sisi lain, dirinya juga tidak bisa melihat orang pengangguran karena tak memiliki pekerjaan.
Sehingga, saat dia tahu atau kenal dengan seseorang tak miliki pekerjaan, Dasno mengajaknya untuk berwirausaha jual mi ayam.
Biasanya dia memfasilitasi dengan memberikan modal bahan mi mentah dan gerobak. Dasno juga membina pedagang baru itu.
Dari proses pembuatan bumbu mi ayam, cara memasak mi ayam hingga strategi berjualan. Hingga akhirnya, sekitar 50 orang lebih dirinya bantu membuka usaha mi ayam.
”Meski gerobak saya fasilitasi, dan cara membuat mi ayam saya ajari dari awal sampai bisa berjualan. Saya tidak meminta bagian bagi hasil dari hasil penjualan mi ayam itu. Saya hanya minta mereka membeli mi mentah dari tempat usaha saya, karena saya produksi mi mentahnya,” ungkapnya.
Saat itu, diakui Dasno, ada dua usaha yang ditekuninya sampai saat ini. Pertama memproduksi mi mentah dan kedua memproduksi mesin pembuat mi mentah.
Kebetulan, di tahun 2010 lalu, dirinya ditakdirkan Allah memiliki lahan dan rumah di Jalan Mastrip yang kini ditempati.
Di situlah dia jadikan sebagian lahannya menjadi pabrik produksi mesin pembuat mi mentah.
Tak disangka, usahanya memproduksi mesin pembuat mi mentah makin berkembang saat pandemi Covid-19 lalu.
Saat di tengah usaha penjualan mi mentah lesu, dia memilih untuk mendokumentasikan video proses pembuatan mi mentah.
Dia juga sekaligus mempromosikan penjualan produksi mesin pembuat mi mentah dan diunggah di YouTube dan media sosial.
Rupanya, respon dari luar kota hingga luar jawa tinggi. Selama ini, pemesan mesin pembuat mie mentah itu dari Kalimantan, Riau, Sumatera, Sulawesi hingga Timika Papua. Dirinya selama ini memastikan barang pesanan mereka dikirim melalui jasa paket barang tiba dengan aman. Karena biaya pengiriman semua ditanggung oleh pembeli. Dirinya memberikan harga di lokasi usahanya.
”Biaya pengiriman mesin tergantung lokasi, ada yang sampai Rp 5 juta. Tapi semua itu disanggupi oleh pemesan. Karena memang di luar jawa, tidak ada yang jual mesin pembuat mie mentah itu,” terangnya.
Dasno yang kini menjadi anggota DPRD Kota Probolinggo itu mengaku, usaha yang dimilikinya dapat menyerap tenaga kerja.
Karena usahanya, memproduksi mesin pembuat mi mentah. Dengan mesin pembuat mi mentah itu, maka akan membuka bagi mereka yang hendak berwirausaha jual mi ayam dan lainnya.
”Proses pembuatan mesin itu butuh waktu sekitar 2 minggu sampai 1 bulan, tergantung jenisnya dan ukurannya. Karena mesin yang kami produksi itu ada mesin pembuat mi kriting, mi kwetiau, mi ayam, mi pangsit, kulit pangsit dan jenis lainnya,” tutup pria kelahiran 1 Maret 1979 itu. (fun)
Editor : Abdul Wahid