Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita H Fajariyah Mahasiswi Universitas Nurul Jadid Paiton Raih Juara II Lomba Pidato Bahasa Arab Tingkat Internasional

Inneke Agustin • Kamis, 9 Januari 2025 | 23:12 WIB

 

Mahasiswi Fakultas Pendidikan Bahasa Arab Unuja Paiton, Hamzatul Fajariyah meraih Juara II Lomba Pidato Bahasa Arab tingkat Internasional yang digelar PCI NU Suriah.
Mahasiswi Fakultas Pendidikan Bahasa Arab Unuja Paiton, Hamzatul Fajariyah meraih Juara II Lomba Pidato Bahasa Arab tingkat Internasional yang digelar PCI NU Suriah.

Dalam atmosfer yang sarat kebanggaan dan semangat Hari Santri Nasional, Hamzatul Fajariyah, 21, berhasil mengukir prestasi gemilang. Mahasiswi semester 7 Fakultas Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton ini meraih Juara II Lomba Pidato Bahasa Arab Internasional, Jumat (15/11) tahun 2024.

 

INNEKE AGUSTIN, Paiton, Radar Bromo.

Berbicara dalam bahasa Arab bukanlah perjalanan yang mudah bagi Hamzatul. Ia memulai segalanya dari nol, saat menimba ilmu di Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) Ponpes Nurul Jadid sejak SMA.

Memang, Hamzatul juga memiliki basic bahasa Arab sejak sekolah MTs. Namun, itu masih sangat dasar. Sehingga, gadis asal Kabupaten Sumenep, Madura, itu sempat kesulitan.

"Awalnya sulit, terutama ketika harus memahami tata bahasa Arab yang sangat menantang," kenangnya.

Namun, tekadnya yang kuat ditambah rutinitas latihan harian di LPBA membentuknya menjadi sosok yang fasih berbicara dalam bahasa Alquran ini. Dia bahkan mulai ikut sejumlah lomba pidato bahasa Arab sejak semester 3.

Setiap keikutsertaannya dalam berbagai ajang serupa menjadi sarana pembelajaran, sekaligus pemantapan kemampuannya berbahasa Arah. Hingga suatu hari, informasi tentang lomba bertaraf internasional ia temukan di Instagram.

Saat itu, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Suriah menggelar lomba pidato bahasa Arab memperingati Hari Santri Nasional. Dia pun langsung memutuskan ikut.

Mengusung tema Pergerakan Santri, Hamzatul menggubah sebuah pidato penuh makna. “Saya membuka pidato dengan menjelaskan siapa itu santri, yang dalam bahasa Arab identik dengan pemuda Islam,” katanya.

Ia melanjutkan, dengan menggambarkan peran santri dalam perjuangan membela agama dan bangsa. Sembari mengingatkan pentingnya meneladani masyayikh terdahulu.

Pesannya tak hanya berhenti pada nostalgia sejarah. Hamzatul juga menyoroti tantangan era modern bagi generasi muda.

“Pemuda kini banyak yang tergerus arus kebarat-baratan. Saya ingin pidato ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai agama dan kebangsaan harus tetap dijaga,” ujarnya.

Sebagai ajang internasional, lomba itu diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai negara. Seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand.

Sadar dengan tingkat persaingan yang tinggi, Hamzatul mengerahkan segenap usahanya. Ia menyiapkan naskah pidato selama lima hari, kemudian merekamnya dalam video berdurasi tujuh menit. Lantas, video itu dikirim secara online pada panitia di Damaskus.

Tantangan terbesar justru datang dari jadwalnya yang padat. Saat itu, ia tengah sibuk mengerjakan seminar proposal skripsi.

“Saya menyiapkan pidato ini di malam hari, ketika suasana lebih tenang dan saya bisa fokus. Alhamdulillah hapalkan isinya cepat karena sudah terbiasa juga,” ceritanya.

Dewan juri lantas menilai video itu. Dari segi isi pidato, struktur bahasa Arab, dan penampilan peserta. Seperti intonasi dan gestur.

Usaha keras Hamzatul pun terbayar lunas. Gelar juara dua diraihnya dan menjadi kebanggaan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarganya.

“Orang tua saya sangat bersyukur dan pihak kampus juga memberikan apresiasi besar,” tuturnya.

Kaprodi Fakultas Pendidikan Bahasa Arab Universitas Nurul Jadid Mualim Wijaya menyampaikan kebanggaannya atas prestasi Hamzatul.

Menurutnya, selama ini mahasiswa di fakultasnya memang berlatih rutin sesuai peminatan. Seperti pidato, debat, dan cerdas cermat.

“Sistem pelatihan ini menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi seperti Hamzatul,” jelasnya.

Hamzatul telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk berprestasi. Dengan semangat dan kerja keras, ia menjadi sosok inspiratif yang menunjukkan kepada dunia bahwa santri Indonesia mampu bersaing di kancah internasional. (hn)

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#UNUJA #lomba pidato #bahasa arab #paiton #universitas nurul jadid