Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Suami dan Tiga Anak Meninggal, untuk Makan Mbok Gina Menunggu Kiriman dari Tetangga

Muhamad Busthomi • Selasa, 7 Januari 2025 | 15:38 WIB
SENDIRI: Mbok Gina yang berusia sekitar 90 tahun itu, kini tinggal sendirian di rumahnya yang ada di Dusun Pakebo, Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.
SENDIRI: Mbok Gina yang berusia sekitar 90 tahun itu, kini tinggal sendirian di rumahnya yang ada di Dusun Pakebo, Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

SEMESTINYA, ia menjadi wanita paling beruntung di keluarganya karena hidup di antara empat lelaki. Namun, takdir berkehendak lain. Ahmad, suami dan ketiga anak lelakinya, Toib, Usman, dan Sobirin, lebih dulu meninggal. Di usia senja, ia hidup sebatang kara.

Jarum jam menunjukkan lewat pukul 12.00. Matahari sudah menempati titik tertinggi di langit, tepat di atas kepala. Mbok Gina berjalan keluar dari rumahnya yang pengap. 

Langkah kaki tuanya tertatih. Ia menopang tubuh ringkihnya dengan bantuan sebuah tongkat.Ia ingin mencari angin di tengah kepungan panas. Sesiang itu, lambungnya belum juga terisi makanan sedari pagi. 

”Belum ada yang ngantar makanan, Nak.” Itulah kalimat pembuka Mbok Gina saat ditemui wartawan radar bromo.jawapos,co.id, Senin (30/12). 

Mbok Gina, seorang perempuan tua yang hidup sebatang kara di Dusun Pakebo, Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Hari-harinya dilalui dengan kesendirian. 

Tiap pagi, ia menanti uluran tangan tetangga untuk sekadar santap sarapan. Dulu, ia pernah mencoba memasak sendiri. Apalagi pada masa mudanya, Mbok Gina bekerja sebagai buruh masak di Depot Swadesi Bangil. Namun, kini tubuhnya tak lagi kuat.

”Di samping itu, kami juga khawatir kalau ada tabung gas di dalam rumah. Apalagi usianya sudah tua,” kata Syawali, ketua RW di lingkungan Mbok Gina tinggal.

Rumahnya yang sederhana itu hanya memiliki satu ruangan, tanpa sekat. Hanya ada pintu utama dan pintu belakang serta beberapa jendela untuk ventilasi udara. 

Bangunanya kira-kira berukuran 2x3 meter. Di sanalah ia tidur, makan, dan menjalani seluruh aktivitasnya, 

Rumah itu terbilang bangunan baru. Kira-kira, dua bulan yang lalu para tetangga dan perangkat desa setempat gotong royong merehab tempat tinggal Mbok Gina. Sebab, rumah yang lama, sudah rapuh. 

Warga pun cemas dengan keselamatannya. Apalagi, setelah atap rumah di rt 02/ rw 05 Dusun Pakebo itu sempat ambruk di awal pergantian musim lalu.

Syawali adalah salah satu orang yang cukup sering dimintai tolong. Entah sekadar memindahkan barang-barang atau yang lain. Menurut Syawali, selama rumahnya dibenahi, Mbok Gina sementara waktu mengungsi.

Tetapi, Mbok Gina memilih tidur di teras rumah tetangga. Ia tak mau merepotkan orang lain. Padahal, banyak tetangga yang dengan senang hati menawarkan kamar mereka. ”Memang orangnya nggak enakan. Nggak mau merepotkan orang lain,” katanya.

Jadi selama 10 hari saat rumahnya dibenahi, Mbok Gina memilih tidur di teras rumah tetangganya. Perbaikan rumah itu bukan yang pertama kali. 

Sekitar tahun 2010, Mbok Gina juga pernah mendapat perhatian dari TNI yang merenovasi rumahnya. ”Karena memang sudah lama, jadi perlu diperbaiki lagi,” kata Syawali.

Rumah yang sekarang sudah dibenahi saja, boleh dibilang masih ala kadarnya. Di dalamnya hanya ada tikar, kompor tanpa tabung gas, dan beberapa perabotan.

”Rencananya masih akan dibuatkan kamar mandi karena masih ada tanah di belakang,” kata Syawali.

Mbok Gina sendiri sudah cukup lama hidup sebatang kara. Mendiang suaminya berasal dari Batu. Sementara Mbok Gina asli warga Oro-oro Ombo. Namun, sanak saudaranya sudah banyak yang pindah ke luar desa. 

Kesendirian Mbok Gina semakin terasa ketika mengingat masa lalunya. Semestinya, ia menjadi wanita paling beruntung di keluarganya karena hidup di antara empat lelaki. 

Namun, takdir berkehendak lain. Ahmad, suami dan ketiga anak lelakinya, Toib, Usman, dan Sobirin lebih dulu menghadap tuhan.

”Ayahnya meninggal lebih dulu. Anak-anak meninggal satu persatu, mungkin karena mikir ayahnya,” kata Mbok Gina.

Berapa lama ia bertahan hidup seorang diri? Mbok Gina tak ingat persis. Usianya yang sudah lanjut membuatnya tak mampu menggali memori beberapa tahun silam. 

Bahkan, ia tak tahu berapa umurnya sekarang. ”Kirangan, mboten semerap. (entah, tidak tahu),” katanya.

Namun, Syawali memperkirakan usia Mbok Gina sekitar 90-an. Ingatannya yang tak setajam dulu, juga beberapa kali merepotkan dirinya sendiri. 

Misalnya suatu ketika Mbok Gina baru menerima bantuan Program Keluarga Harapan (pkh). Uang yang didapat dari pemerintah itu, tak karuan jeluntrungannya.

Karena khawatir Mbok Gina kehilangan uang bantuan tersebut, Syawali yang biasanya mengelola uang bantuan itu. ”Makanya setelah itu, dari panitia menitipkannya ke saya,” kata Syawali.

Mbok Gina masih tercatat sebagai penerima bantuan pkh dengan kategori lansia. Biasanya, Syawali tak langsung memberikan uangnya utuh setelah bantuan dicairkan. Ia khawatir uang itu hilang atau Mbok Gina lupa menyimpannya. 

”Jadi saya serahkan Rp 300 ribu dulu. Kadang-kadang sesuai kebutuhan,” katanya. (hn)

Editor : Achmad Syaifudin
#kisah lansia #kabupaten pasuruan #lansia sebatang kara