Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Keberhasilan Program CSR PT Paiton Energy: Susah Diolah, Ubah Kotoran Gajah Jadi Listrik 

Ahmad Suyuti • Senin, 16 Desember 2024 | 00:38 WIB

TABUNG BIOGAS: Staf Seksi Sarana Prasarana TMR Dwiko Adam menjelaskan proses pengolahan limbah dan kotoran satwa di tabung biodigester PLTSa Biogas. (HA Suyuti/Radar Bromo)
TABUNG BIOGAS: Staf Seksi Sarana Prasarana TMR Dwiko Adam menjelaskan proses pengolahan limbah dan kotoran satwa di tabung biodigester PLTSa Biogas. (HA Suyuti/Radar Bromo)
 

Koleksi 13 ekor gajah di Taman Margasatwa Ragunan (TMR) cukup merepotkan. Bukan soal perawatannya. Tapi pengolahan kotorannya (feses). Per hari bisa menghasilkan setengah ton. Selama ini, hanya ditumpuk dengan sistem landfill, sehingga mencemari lingkungan. 

============

Suyuti, Jakarta

=====================

Tidak seperti biasanya, Senin (9/12) lalu, TMR terlihat sepi. Tidak ada pengunjung. Pintu masuk juga terlihat tertutup. Hanya ada petugas security di pos jaga. “Dari Paiton, Pak?” tanya petugas TMR kepada kami. 

Kami pun di antar ke tempat pertemuan. Di sana sudah menunggu Dwiko Adam,

Staf Seksi Sarana Prasarana Ragunan dan Yayan Aryawisesa, Ketua Sistem Pengawasan Internal (SPI) Ragunan. “Kalau hari Senin TMR libur. Jadi sepi tidak ada pengunjung,” jelas Dwiko kepada rombongan Journalist Visit – Progam CSR Paiton Energy.

Dalam seminggu, satu hari tutup. Yakni, tiap hari Senin. Itu dilakukan agar satwa di TMR tidak stres. Selain itu, satwa bisa menikmati suasana tenang seperti di habitat aslinya. “Satwa juga butuh liburan seperti manusia,” katanya sambil tertawa.

Didirikan pada 19 September 1864, TMR awalnya bernama “Planten en Dierentuin”. Awal pendirian luasnya sekitar 10 Ha. Karena itu, TMR termasuk salah satu yang tertua. “Saat itu, termasuk yang terbesar kedua di dunia sehingga dipercaya untuk mengoleksi gorila,” jelasnya.

Kini, setiap harinya, mulai Selasa sampai Jumat, jumlah pengunjung 5-7 ribu orang. Hari Minggu 30 ribu orang, lebaran 70-100 ribu orang. Paling tinggi saat liburan tahun baru mencapai 200 ribu orang. “Full. Untuk jalan dari pintu masuk ke sini  saja, susah,” katanya.

Berdiri di atas lahan konservasi seluas 127 hektar, TMR mengoleksi 2.279 satwa, membutuhkan tenaga ekstra untuk mengelolanya. Termasuk sampah yang dihasilkan setiap harinya. Baik yang organik maupun an organik. “Dengan koleksi satwa sebanyak itu, kotorannya sampai ratusan kilogram,” katanya.

Per hari, kata Dwiko, bisa terkumpul 16 kubik atau setara 8 ton sampah campuran. Dari jumlah itu, 1 ton adalah kotoran satwa. Terdiri dari setengah ton kotoran gajah. Sisanya satwa lainnya. “Gajah menyumbang kotoran paling banyak,” katanya.

Selain kotoran satwa, ada 5-10 persen sampah anorganik, dan sisanya sampah organik yang didominasi dedaunan. Yang bisa diolah seperti sampah organik, langsung dikirim ke bank sampah untuk dijadikan kompos. “Sedangkan yang tidak bisa, menjadi residu di landfill. Sekarang tumpukannya sudah mencapai satu gunung,” ungkapnya.

Sampah-sampah itu tidak dikirim ke luar TMR. Tapi dikirim ke tempat penampungan di dalam TMR. Untuk yang bisa diolah, dimanfaatkan menjadi kompos. Biasanya diberikan kepada lembaga seperti sekolah atau kelurahan yang membutuhkan. “Yang menjadi masalah, sampah yang tidak bisa diolah hanya ditumpuk. Sehingga bisa mencemari lingkungan, terutama kotoran satwa,” jelasnya.

Dani Basuki, Corporate Affairs Manager Paiton Energy menjelaskan, melihat permasalahan yang dihadapi TMR, pihaknya menawarkan program CSR pengolahan limbah tersebut. Yakni, pengembangan energi terbarukan berupa pemasangan dan pengoperasian delapan unit biodigester sebagai PLTSa Biogas yang digunakan untuk Waste to Energy (WTE).

“Sebenarnya kami sudah bekerjasama dengan Pemrov DKI Jakarta sejak 2018. Salah satunya  Program Langit Biru (PLB). Program pemerintah untuk mengurangi pencemaran udara dan dampak pemanasan global,” jelas Dani yang mendampingi peserta Journalist Visit – Progam CSR Paiton Energy selama di TMR.

KERJASAMA: Prasasti peresmian program Waste to Energy (WTE) antara PT Paiton Energy dengan Unit Pengelola Taman Margasatwan Ragunan. (HA Suyuti/Radar Bromo)
KERJASAMA: Prasasti peresmian program Waste to Energy (WTE) antara PT Paiton Energy dengan Unit Pengelola Taman Margasatwan Ragunan. (HA Suyuti/Radar Bromo)

Dalam PLB tersebut, pihaknya memberikan bantuan penyediaan stasiun listrik bertenaga surya, stasiun pengisian kendaraan listrik, dan 50 sepeda motor listrik yang ditempatkan di TMR, Monas, dan Dinas Teknis Jatibaru.

Selain itu, lanjut Dani, Paiton Energy juga memberikan delapan 8 unit mobil golf listrik (golf car) bertenaga listrik kepada TMR. Sebanyak 6 unit pada 2020 dan 2 unit pada Maret 2024. “Saat ini, golf car dipakai pengunjung berkeliling TMR. Udara tetap bersih dan lebih ramah lingkungan dibanding yang memakai bensin,” jelas perempuan berjilbab dan berkacamata ini.

Untuk pemakaian golf car, pada hari biasa hanya 2 unit. Sedangkan hari Minggu atau liburan 4 unit. Sedangkan sisanya untuk cadangan dan dipakai pimpinan untuk keliling TMR. Per jamnya disewakan Rp. 250 ribu per golf car. Penyewaan mulai pukul 09.00 hingga 15.00.

“Full terus. Tidak pernah kosong. Karena itu, ada yang dicadangkan mengantisipasi yang beroperasi kehabisan baterai,” Yayan Aryawisesa, Ketua Sistem Pengawasan Internal (SPI) Ragunan kepada peserta Journalist Visit – Progam CSR Paiton Energy.

Kami pun diajak mencoba naik golf car menuju tempat pengolahan limbah. Di tengah gerimis yang mengguyur TMR, kami menikmati mobil tanpa asap dan suara itu. Sesampai di tempat WTE dan Learning Centre yang diresmikan pada 19 September 2023 ini, kami diajak melihat langsung proses pengolahan limbahnya.

“Mesin Biodigester ini, membutuhkan limbah sampah organik dan kotoran hewan maksimal dua ton per hari. Namun, saat ini baru satu ton yang bisa diolah,” kata Dwiko sambil menujukkan tabung biodigester berwarna hijau tersebut.  

Untuk mengolah limbah tersebut, tahap awal dibutuhkan waktu 21 hari. Setelah itu, prosesnya berjalan setiap hari. Sebelum masuk mesin biodigester, limbah sampah organik dan kotoran hewan, melalui proses biologis dengan direndam air. Selanjutnya, proses mekanis dihancurkan dengan mesin pencacah.

TABUNG BIOGAS: Staf Seksi Sarana Prasarana TMR Dwiko Adam menjelaskan proses pengolahan limbah dan kotoran satwa di tabung biodigester PLTSa Biogas. (HA Suyuti/Radar Bromo)
TABUNG BIOGAS: Staf Seksi Sarana Prasarana TMR Dwiko Adam menjelaskan proses pengolahan limbah dan kotoran satwa di tabung biodigester PLTSa Biogas. (HA Suyuti/Radar Bromo)

“Masalah muncul saat mencacah kotoran gajah. Berbeda dengan satwa lain. Kotoran gajah kandungan ligninnya sangat tinggi. Karena, tulang rumput tidak tercerna, sehingga keluar bersama kotorannya,” jelas Dwiko. Untuk mengatasi masalah tersebut, saat ini sedang dibuat  mesin pencacah oleh SMKN 54 Jakarta.

Setelah melalui proses biologis dan mekanis, hasilnya masuk ke tabung biodigester. Ada 8 tabung biodigester yang dipakai. Per tabung berisi 10 kubik hasil olahan. Outputnya berupa pupuk cair, pupuk padat, dan gas amoniak. “Untuk gasnya disalurkan ke tabung filtrasi,”  jelasnya.

Fungsi tabung filtrasi ini, lanjut Dwiko, untuk menjerat gas yang tidak diperlukan, seperti Amoniak, H2S, dan CO2. “Ini dilakukan agar tidak merusak mesin genset. Salah satunya kandungan Amoniak tidak boleh 70 persen,” ujarnya.

Setelah diproses ditabung filtrasi, hasilnya adalah gas metan. Kemudian ditampung di balon gas. Per balon berisi 5 kubik gas metan.  Dari 1 kubik gas metan bisa menghasil listrik 2,9 kWh. Dalam sebulan bisa menghasilkan 69 kWh untuk menghidupkan genset 10 kVA. “Sementara listriknya  menghidupkan genset untuk WTE,” tambahnya.

Ke depan, Dwiko berharap kapasitas pengolahannya bisa ditingkatkan. Sehingga limbah yang diolah semakin banyak dan menghasilkan listrik lebih besar. “Masalah limbah di TMR teratasi. Lingkungan jadi bersih, dan menghasilkan listrik yang ramah lingkungan,” katanya.

Jika itu terealisir, Dwiko dan Yayan tidak perlu lagi pusing memikirkan kotoran Gajah dan satwa lainnya. Malah sebaliknya, semakin banyak kotoran satwa, semakin besar listrik yang dihasilkan. Sehingga tidak hanya mengoperasikan WTE. Tapi bisa memenuhi kebutuhan listrik TMR lainnya.  (habis) 

 

 

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#Taman Margasatwa Ragunan (TMR) #listrik #paiton energy #kotoran gajah