Ruangan yang semula dirancang sebagai jantung pertemuan itu diubah jadi galeri mini. Menyuguhkan berbagai potret bencana. Setiap diorama seolah-olah menceritakan sebuah kisah yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yang sama: perjuangan manusia dalam menghadapi bencana alam.
MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
Asap tebal mengepul, dedaunan mengering, dan pohon-pohon tampak hangus seakan nyata di depan mata.
Para petugas pemadam kebakaran dengan seragam oranye terlihat berjibaku melawan kobaran api. Ekspresi wajah mereka begitu serius, menggambarkan perjuangan yang tidak mudah dalam menghadapi bencana alam.
Berbekal peralatan pemadam kebakaran yang lengkap, seperti selang dan pompa air, para petugas berseragam oranye tengah berjibaku melawan kobaran api.
Mereka terlihat begitu serius. Semua pandangan mereka pusatkan ke titik api. Tak peduli dengan peluh yang bercucuran atau rasa pengap di sekujur badan. Mereka tetap fokus di tengah kebakaran hutan berkecamuk.
Detik-detik menegangkan itu tergambar dalam salah satu sudut ruangan di lantai dua kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan. Sebuah pemandangan yang menyita perhatian. Diorama yang begitu nyata menggambarkan peristiwa dramatis.
Setiap detailnya seolah berbisik, mengisahkan perjuangan para pahlawan dalam menghadapi bencana alam.
Namun, diorama kebakaran hutan bukanlah satu-satunya cerita yang ditampilkan di ruangan ini.
Di sudut lain, terdapat diorama yang menggambarkan bencana banjir. Air bah menggenangi pemukiman warga, rumah-rumah roboh, dan perahu karet menjadi satu-satunya alat transportasi.
Ada pula diorama yang menggambarkan bencana gempa bumi, dengan bangunan-bangunan yang retak dan runtuh.
Setiap diorama seolah-olah menceritakan sebuah kisah yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yang sama: perjuangan manusia dalam menghadapi bencana alam.
Di balik setiap diorama, BPBD ingin menunjukkan betapa perjuangan yang tak kenal lelah dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Ruangan yang semula dirancang sebagai jantung pertemuan dan diskusi kini menjelma menjadi galeri mini yang penuh makna.
Dulu, ruangan di lantai dua kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan ini adalah ruang rapat.
Namun, dua pilar di tengah ruangan seolah membatasi ruang gerak dan membelah ruangan menjadi dua bagian yang kurang proporsional.
”Jadi kurang representatif bila dijadikan ruang pertemuan,” kata Sugeng Hariyadi, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan.
Alih-alih membiarkan pilar-pilar itu menjadi penghalang, ia justru melihatnya sebagai sebuah peluang.
Dengan sentuhan kreatif, dua pilar kokoh itu disulap menjadi bagian dari sebuah diorama yang begitu hidup.
Kini, pilar-pilar tersebut berdiri tegak sebagai batang pohon yang mengering, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya bencana kekeringan dan kebakaran hutan yang kerap melanda daerah ini.
”Akhirnya kami punya inisiatif menjadikan tempat ini sebagai ruang diorama,” kata Sugeng.
Tempat itu kemudian dinamakan Ruang Diorama Tangguh. Di dalamnya, menampilkan berbagai informasi tentang bencana yang pernah ataupun berpotensi terjadi di Kabupaten Pasuruan.
Ruangan itu juga dilengkapi dengan peta bencana yang berpotensi terjadi di Kabupaten Pasuruan.
Mulai dari peta kebakaran hutan dan lahan, peta bahaya banjir, peta gunung meletus, tanah longsor, gempa hingga cuaca ekstrem.
Sugeng meyakini, pemahaman soal bencana hingga bagaimana menjaga diri saat gempa terjadi harus dimulai sejak dini. ”Maka dari itulah kami membuat diorama kumpulan bencana yang pernah ataupun berpotensi terjadi di Kabupaten Pasuruan,” katanya.
Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti. Sebaliknya, melainkan sebagai media edukasi. Terutama bagi generasi masa depan.
Agar mengerti potensi bencana yang mengancam di sekitar mereka. Sehingga mereka memiliki kesadaran sejak dini untuk ikut terlibat dalam mengantisipasi terjadinya bencana.
”Seperti kita tahu, pascabencana tsunami Aceh terjadi pergeseran paradigma penanggulangan bencana, dari yang semula responsif atau tanggap menjadi preventif, bahkan tangguh menghadapi bencana,” kata Sugeng.
Ia ingin menekankan upaya pencegahan bencana dipahami semua masyarakat. Dan yang terpenting, bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Melainkan semua pihak juga memiliki tanggung jawab yang sama. Pengurangan risiko bencana pun harus dipikul bersama.
”Untuk itu, ini adalah bagian dari upaya untuk mendorong masyarakat lebih sadar bencana,” katanya.
Dan ruangan itu memang disiapkan secara terbuka. Semua boleh melihat diorama di dalamnya.
Anak-anak sekolah usia dini, pelajar, mahasiswa, bahkan relawan. Sugeng mengatakan, masyarakat perlu memiliki wawasan dan pengetahuan terhadap potensi bencana. Dan apa yang harus dilakukan sebelum terjadi bencana dan saat bencana itu melanda.
”Itulah kenapa sangat dibutuhkan agar masyarakat bisa living in harmony with disaster,” ucap Sugeng.
Menurut Sugeng, konsep itu menekankan pada pentingnya mengenali, memahami, dan beradaptasi dengan bencana.
Dan itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan dimana masyarakat bermukim. Sebab pada tingkatan tertentu, tutur lelaki yang hobi melukis itu, bencana tidak dapat dihilangkan atau dihindari.
”Sehingga mitigasi bencana menjadi hal yang perlu diintegrasikan dalam hidup masyarakat sebagai upaya harmonisasi dengan alam,” imbuh Sugeng.
Itulah alasan pentingnya menguatkan kapasitas. Terutama dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Karena itu, BPBD terus menanamkan konsep Desa Tangguh Bencana (Destana). ”Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat diharapkan bisa lebih memahami ancaman di sekitar mereka, sekaligus turut terlibat aktif dalam upaya mitigasi,” katanya.
Tak cukup dengan Destana, kata Sugeng, upaya itu juga mesti diperkuat di wilayah yang cakupannya lebih luas, kecamatan. Sehingga pihaknya membentuk Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana). Meski baru dimulai tahun ini, Kencana sudah terbentuk di seluruh kecamatan.
”Dan Alhamdulillah Pasuruan menjadi pilot project nasional karena seluruh kecamatan sudah terbentuk Kencana,” katanya.
Ia menyadari pembentukan kelompok-kelompok relawan masyarakat itu bukan menandakan selesainya pekerjaan. Kelompok-kelompok itu mesti dikawal secara kontinyu. Sehingga mereka benar-benar memiliki bekal yang mumpuni.
”Jelas bukan hanya sebagai formalitas saja. kami sangat berharap peran Destana dan Kencana itu sebagai garda depan dalam mengurangi risiko bencana,” katanya. (fun)
Editor : Fahreza Nuraga