RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo
BAPAK dua orang anak ini tinggal di Dusun Sangglud. Tiap harinya mengabdi menjadi pelayan masyarakat. Di desanya, dia menjadi kepala dusun (kasun) Sangglud.
Selain bekerja di kantor desa, suami dari Toyibah ini, juga merupakan perajin perhiasan. Lebih tepatnya perajin perhiasan mamasan atau emas imitasi, yang digelutinya berjalan empat tahun terakhir.
“Sebelum ke mamasan seperti sekarang, saya lebih dulu buat perhiasan dari perak. Karena harga bahan bakunya perak semakin mahal, akhirnya pindah haluan produksi perhiasan mamasan sampai sekarang ini,” kata M. Yunus, sambil tersenyum lepas.
Kemampuannya dalam membuat perhiasan perak dan mamasan ini, dia pelajari secara otodidak.
Dia banyak belajar dengan membantu Ismail, kakaknya, yang memang seorang perajin perhiasan perak. Setelah bisa, akhirnya memutuskan memproduksi sendiri.
Saat itu dia masih ingat, awal memproduksi dulu adalah perhiasan dari perak. Kira-kira tahun 1998, saat Yunus masih membujang dan belum menjadi kasun seperti sekarang. Cukup lama dia menjadi perhiasan perak.
Hingga dia banting setir ganti memproduksi kerajinan perhiasan mamasan, mulai 2020 lalu. Gara-garanya, bahan baku perak kian mahal.
“Buatnya sama saja, yang membedakan ada di bahan baku dan hasilnya saja. Ternyata saya cocok dan nyaman di perhiasan mamasan, Alhamdulillah berjalan hingga sekarang,” tuturnya.
Mamasan yang dimaksud, dikenal merupakan perhiasan dari swasa berbentuk menyerupai emas. Bahan bakunya dari tembaga, kuningan dan imitasi. Dibelinya dari tempat-tempat rongsokan yang ada di sekitaran Pasuruan.
Dari bahan-bahan tersebut, kemudian dibentuk menjadi aneka perhiasan mamasan. Mulai dari cincin, gelang, kalung, liontin, anting, dan bros. Peminatnya pun banyak. Umumnya mereka yang alergi terhadap emas, atau memang khawatir menggunakan perhiasan logam mulia itu dengan alasan keamanan.
Dalam membuat benda kerajinan ini, ia menggunakan sejumlah peralatan dioperasikan secara manual dan juga mesin. Mulai dari mesin lindas, dinamo untuk poles, mesin roll, kompresor, mesin las. Serta gerinda dan mesin selep.
“Proses pembuatan melalui sejumlah tahapan, harus dilalui. Kuncinya harus telaten dan sabar, agar hasilnya maksimal,” tuturnya.
“Tiap hari produksi dirumah, dibantu tujuh orang pegawai warga sekitar. Bagian mengawasi adalah istri, karena saya harus sempatkan ngantor ke balai desa,” ungkapnya.
Karena tiap harinya memproduksi kerajinan perhiasan mamasan ini, maka tiap dua hari sekali kirim barangnya keluar. Baik diantar langsung maupun via paket. Kirimnya bisa ke sekitaran Pasuruan, Mojokerto, Surabaya, Malang, Blitar hingga ke Bali.
“Sudah ada pelanggan yang membeli perhiasan mamasan produksi saya. Kebanyakan dari toko perhiasan perak dan mamasan, serta toko aksesoris. Alhamdulillah, omset sebulan bisa sampai puluhan juta,” cetusnya.
Dari usaha kerajinan ini, merupakan penghasilan utama keluarganya. Omset mencapai puluhan juta tersebut mampu untuk membiayai operasional, bahan baku dan gaji pegawai atau karyawan. Termasuk menyekolahkan anak, pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sisanya, jika ada lebih ditabung.
Harga jual dari dirinya ke pembeli, paling murah Rp 15 ribu berupa cincin dan anting. Hingga Rp 100 ribu, berupa gelang rantai besar. Inilah yang membuat kerajinan buatan Yunus laku.
“Menjadi perajin perhiasan mamasan dan juga kasun, sama-sama jalan. Selama ini bisa berjalan lancar,” kata Yunus sapaan akrabnya.
Selain itu, dari usaha produksi kerajinan ini. Ia didapuk menjadi ketua paguyuban perajin perak dan mamasan Kabupaten Pasuruan. Dia juga aktif mengikuti sejumlah kegiatan pameran, diantaranya di sekitaran Pasuruan. Kemudian juga pernah ke Solo, Bandung dan Jakarta.
“Usaha ini prospeknya bagus. Pasarnya juga baik. Order tiap hari selalu ada, bahkan seringkali sampai menolak. Ke depan tetap terus saya geluti,” ungkapnya. (fun)
Editor : Abdul Wahid