Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dua Pelajar MAN 1 Pasuruan Ciptakan Replika Kendaraan Self Drive, Juarai Kompetisi Internasional di Malaysia

Muhamad Busthomi • Kamis, 7 November 2024 | 16:12 WIB
PRETASI INTERNASIONAL: Siswa MAN 1 Pasuruan, Fachri Insan Hidayatullah dan Faishal Fakhri Yaroh menunjukkan karya mereka, kendaraan tanpa pengemudi yang meraih juara  pertama dalam Petrosains RBTX Cha
PRETASI INTERNASIONAL: Siswa MAN 1 Pasuruan, Fachri Insan Hidayatullah dan Faishal Fakhri Yaroh menunjukkan karya mereka, kendaraan tanpa pengemudi yang meraih juara  pertama dalam Petrosains RBTX Cha

KENDARAAN otonom atau self drive atau dikenal dengan kendaraan tanpa pengemudi bisa jadi keniscayaan dari teknologi. Dua pelajar MAN 1 Pasuruan pun membuat replikanya. Bahkan, menjuarai kompetisi internasional: Petrosains RBTX Challenge di Malaysia pada 26-27 Oktober 2024.

Mereka adalah Fachri Insan Hidayatullah dan Faishal Fakhri Yaroh. Dua siswa yang memiliki obsesi sama: merancang robot.

Hari demi hari, mereka menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium robotik MAN 1 Pasuruan. Merakit, menguji, dan menyempurnakan setiap detil ciptaan mereka.

Mimpi mereka untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa itu perlahan menemukan bentuk. Mereka berhasil merancang sebuah robot miniatur yang mampu meniru fungsi sebuah mobil self drive.

Namun, robot mungil ini bukan sekadar mainan. Melainkan sebuah karya yang sarat dengan teknologi kecerdasan buatan.

”Kami melihat potensi besar dari teknologi robot berbasis AI untuk memudahkan kehidupan manusia,” ungkap Fachri yang kini kelas XI E.

Di sekolahnya, remaja 16 tahun itu memang cukup aktif menggeluti ekstrakurikuler robotik. Ketertarikannya bermula saat kerap terpana dengan kecanggihan teknologi. ”Akhirnya ingin tahu bagaimana sebuah teknologi itu diciptakan,” katanya.

Demikian juga Faishal Fakhri Yaroh, kelas XII B. Dia terinspirasi oleh perkembangan teknologi otonom yang semakin pesat. Sejak kelas X, mereka aktif mengikuti ekstrakurikuler robotik dan menghasilkan berbagai karya.

Dan pada Oktober 2024, prestasi besar baru saja mereka raih dengan menjadi juara pertama kompetisi robotik tingkat internasional; Petrosains RBTX Challenge 2024 di Malaysia.

Ajang itu tak hanya diikuti peserta dari Indonesia. Keduanya berhasil menyingkirkan 36 tim dari lima negara di Asia Tenggara. Yakni, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand dan Philipina.

Ada beberapa kategori yang dilombakan. Antara lain line follower speed rival, robot sumo, robot kreatif, dan puzzle. ”Kebetulan kami turun di kategori line follower speed rival,” kata Faishal, 17.

Dia menceritakan, line follower sebenarnya berpacu pada kecepatan dan stabilitas. Dua hal itulah yang menjadi kunci keberhasilan.

Robot jenis ini juga bisa jadi miniatur kendaraan self drive atau tanpa pengemudi. Sebab, diprogram melalui chip yang terintegrasi dengan sensor untuk mendeteksi garis hitam.

”Ini bisa jadi replika bagaimana mobil berjalan tanpa sopir yang mengacu pada rute gps serta ditentukan garis start dan finishnya,” kata Faishal.

Faishal dan Fachri sebenarnya sudah dua kali mengikuti kompetisi itu. Bahkan, robot yang diturunkan dalam lomba sudah dibuat setahun lalu, ketika keduanya mengawali debutnya.

Namun, saat itu Fachri hanya jadi juara 3. Sedangkan Faishal tersingkir di babak 30 besar. Faishal lalu mengembangkan robotnya dengan menitikberatkan pada pemrograman berbasis Arduino.

Dari pengalaman tahun lalu, dibuat skema agar robot bisa melakukan transisi kecepatan sesuai dengan rute. Jadi robot tidak langsung melaju dengan kecepatan 200 rpm, ketika pertama kali start.

”Persis seperti laju kendaraan, ada waktu kapan harus ngerem atau mengurangi kecepatan saat ada belokan,” kata Faishal.

Sehingga robot, tidak sampai kehilangan kendali. Apalagi sampai keluar dari garis. Sebab jika itu terjadi, akibatnya bisa didiskualifikasi.

Begitu juga Fachri yang mengantisipasi eror pada robotnya dengan menambah komponen step up. “Fungsinya untuk menaikkan tegangan sehingga bisa berjalan dengan cepat,” katanya.

Meski begitu, perjalanan mereka bukan tanpa kendala. Saat proses perakitan, ada beberapa komponen yang rusak.

Salah satunya, kipas yang fungsinya cukup penting. Yaitu, berfungsi memberikan tekanan pada robot agar tetap stabil meskipun melaju dalam kecepatan tinggi.

Selain itu, saat coding juga lumayan memakan waktu. Mereka harus beberapa kali trial agar program bisa mengatur fungsi sensor dengan baik.

Sehingga, lajunya tetap stabil mengikuti garis. Bahkan, mereka juga mesti beberapa kali mengutak-atik letak sensor yang mendeteksi garis agar tetap terbaca dengan akurat.

”Kami juga memodifikasi bagian roda agar tidak meninggalkan bekas pada trace serta tidak mudah selip,” ujar Fachri.

Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, akhirnya robot miniatur mereka siap diuji dalam kompetisi internasional Petrosains RBTX Challenge di Malaysia pada 26-27 Oktober 2024 .

Dengan perasaan deg-degan, mereka mengikuti kompetisi tersebut. Mereka harus bersaing dengan peserta dari berbagai negara yang memiliki kemampuan dan inovasi yang tidak kalah hebat.

”Saat presentasi di hadapan dewan juri, kami sangat gugup. Namun, kami berusaha tetap tenang dan menjelaskan konsep robot kami dengan jelas,” kenang Faishal.

Dan hasilnya pun sungguh mengejutkan. Robot ciptaan Fachri dan Faishal berhasil memukau para juri dan keluar sebagai juara pertama.

Kepala MAN 1 Pasuruan Nasruddin pun mengaku bangga dengan prestasi anak didiknya. Kepada siapapun anak didiknya, Nasruddin memang berpesan agar mereka bisa seterampil mungkin, kendati bersekolah di madrasah.

”Itu akan jadi nilai tambah bagi mereka, bahwa anak-anak madrasah tidak hanya paham keilmuan dan keagamaan. Namun, juga menguasai teknologi,” katanya.

Apalagi melihat perkembangan teknologi yang begitu cepat. Masa depan mereka tentu akan dimanjakan dengan beragam teknologi yang semakin inovatif.

Soft skill itu diperlukan agar mereka tidak hanya menjadi penikmat atau pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari yang menciptakan,” kata Nasruddin. (hn)

Editor : Achmad Syaifudin
#kompetisi internasional #man 1 pasuruan #kompetisi robot