Di sebuah ruangan terdengar suara samar-samar alat-alat pertukangan dan gesekan senar dari sebuah bengkel reparasi gitar. Beberapa gitar pun tampak menunggu antrean untuk dibenahi oleh tangan andal Hari Cahyono, 47. Tempat ini menjadi oase bagi musisi dan pecinta gitar yang selama ini kesulitan memperbaiki alat musik kesayangan mereka.
Hari tak pernah menyangka bahwa hobinya bermusik akan mengantarnya memiliki usaha reparasi gitar. Bahkan, tempat reparasinya menjadi salah satu jujugan para musisi atau pemain gitar di Kota Probolinggo.
Bengkelnya itu dibuka di Perum Kopian Barat, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan. Di lantai dua studio musik Solomon.
Hari sendiri mulai menyukai musik dan menjadi gitaris sejak 1997. Mulai saat itu, ia tak asing dengan berbagai jenis gitar.
Hingga pada 2016, ia memutuskan untuk membuka bengkel reparasi gitar. Mulanya, Hari hanya melayani teman-temannya di Kota Probolinggo. Itupun dilakukannya di rumahnya, yaitu di Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.
Baru pada 2019, dia mengembangkan hobi sekaligus profesinya tersebut. Saat itu, dia mulai mempromosikan bengkel gitar miliknya melalui sosial media. Dia lantas pindah ke Perum Kopian Barat.
Alhasil, banyak gitaris yang mempercayakan reparasi gitar kesayangannya pada Hari. Bahkan pelanggannya tidak hanya dari dalam kota. Melainkan juga dari Jember, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
“Alhamdulillah katanya mereka cocok. Terkadang ada juga yang minta dibuatkan gitar, ya saya layani. Biasanya dari luar pulau. Sebab katanya di sana harga gitar sejenis lebih mahal. Jadi lebih pilih untuk buat sendiri di sini,” katanya.
Hari menerima reparasi gitar jenis apapun. Baik akustik, maupun gitar listrik. Menurutnya, gitar listrik memiliki tingkat kesulitan reparasi lebih tinggi daripada gitar akustik. Sebab, komponen di dalamnya sangat banyak.
Sementara untuk gitar low budget dibandingkan gitar yang harganya mahal, menurutnya tidak ada perbedaan mencolok saat reparasi.
Seluruh gitar mendapat perlakukan yang sama di bengkelnya. Hanya saja, untuk gitar mahal biasanya alat-alat reparasinya memerlukan alat khusus bawaan dari gitar tersebut.
“Jadi gitar-gitar mahal biasanya punya tool kit sendiri dan itu jangan sampai hilang. Sebab ketika gitar tersebut bermasalah, tool kit akan dibutuhkahn. Bila kita menggunakan perangkat lain, khawatirnya tidak cocok ukurannya,” jelas Hari.
Menurutnya, paling banyak pelanggannya melakukan reparasi fret gitar. Reparasi ini harus dilakukan secara hati-hati agar tak terjadi coakan atau cacat pada fretboard. Fret lebih dulu dilepas menggunakan soder dan tang fret puller secara perlahan.
Sebelum mengganti fret baru, Hari terlebih dahulu menanyakan aliran musik yang biasa dimainkan oleh pemilik gitar. “Sebab ini berpengaruh. Antara blues dan jazz itu beda settingan nantinya,” kata Hari.
Setelah fret lepas, dibersihkan sisa-sisa lem dengan kertas amplas. Kemudian cek kembali apakah ada bagian fingerboard yang rusak. Lalu memotong fret wire (kawat fret) sesuai panjang setiap fret.
“Pastikan ukuran fret sesuai dengan slot fret di fingerboard. Saya pakai fret bender untuk menekuk fret baru sesuai dengan kelengkungan atau radius fingerboard. Pastikan sama,” jelasnya.
Setelah seluruh fret terpasang, harus diperiksa apakah ada fret yang lebih tinggi dari yang lain. Ini untuk menghindari buzzing atau dead spots pada senar.
Baru kemudian menggunakan alat leveling fret seperti leveling file atau sanding beam untuk meratakan fret yang lebih tinggi. Kemudian, digosok perlahan hingga semua fret berada di ketinggian yang sama.
“Setelah senar dipasang, cek dan atur intonasi menggunakan tuner. Baru selesai prosesnya,” katanya.
Untuk menyelesaikan satu gitar dengan kendala pada fret semacam itu menurutnya, membutuhkan empat hari kerja. Sehingga, dalam sebulan Hari mampu menyelesaikan sekitar 10 gitar.
Meski demikian, angka tersebut sejatinya turun dibandingkan awal-awal ia membuka usaha tersebut yang dapat melayani 15 gitar per bulan.
Sekali melakukan reparasi gitar, Hari mematok harga Rp 500 ribu untuk gitar akustik. Sementara untuk gitar listrik, ia patok Rp 700 ribu untuk jasanya saja. Belum termasuk komponen atau spare part yang ingin digunakan.
“Kalau komponennya itu kembali pada selera customer. Harganya pun beragam, tergantung kualitas dan bahannya. Semuanya bisa disesuaikan dengan budget masing-masing,” katanya.
Kendala yang terkadang ia jumpai adalah customer yang menginginkan waktu pengerjaan cepat. Sementara Hari mengerjakan perbaikan sesuai dengan nomor antrean.
“Kadang ada juga yang sudah selesai gitarnya, eh request hal lain. Padahal gitarnya sudah difinisihing, sehingga harus bongkar lagi,” jelasnya. (gus/ hn)
Editor : Muhammad Fahmi