Kustiani, 43, sempat syok dan sedih saat NS, anaknya, mengalami depresi berat. Apalagi saat mengetahui putra keduanya itu, harus mendapat perawatan ke rumah sakit jiwa (RSJ). Beruntung dia banyak mendapat support.
FUAD ALYZEN, Panggungrejo, Radar Bromo
SEJUMLAH orang terlihat berkerumun di halaman rumah di Kelurahan Karanganyar, Panggungrejo. Mereka seperti mendiskusikan sesuatu.
Diantara mereka ada Kustiani, ibu NS. Siswa SMAN 4 Kota Pasuruan (sebelumnya tertulis SMAN 2), korban bullying yang sempat bikin gempar jagat pendidikan di Kota Pasuruan.
Terlihat ada kerabat dan kawan NS yang saat itu memang menjenguk anaknya. Kustiani sengaja tidak memberikan NS bertemu banyak orang. Sebab NS memang baru empat hari pulang dari RSJ Lawang Malang, setelah mendapat perawatan lantaran alami depresi berat karena bullying.
Para tamu dan kerabat serta kawan NS, nampak memberi semangat kepada Kustiani. Wajar saja mereka mensupport.
Sebab mereka tak menyangka, NS bakal mendapat perundungan yang sampai menganggu kejiwaannya.
Terlebih Kustiani. Dia mengaku, tak pernah pilih kasih kepada anak-anaknya selama membesarkannya.
“Jantung serasa mau copot saat melihat anak depresi berat gara-gara di-bully temannya di sekolah,” kata Kustiani menyapa Jawa Pos Radar Bromo.
Namun NS kondisinya sudah normal setelah dirawat di RSJ Lawang, Kustiani mengaku, perasaan NS masih harus dijaga betul. Sebab jika lawan biacaranya bernada tinggi, NS akan lebih tinggi. Bahkan bisa membeludak jadi amarah. Bahkan tak pandang bulu.
Itulah yang dikhawatirkan keluarga pasca NS alami depresi berat akibat bullying. Kustiani masih kerap diliputi perasaan marah bercampur sedih. Dia hanya berharap, anaknya bisa normal, seperti sebelum alami depresi.
Kustiani mengaku, setelah pulang dari RSJ, dia tetap memberi semangat ke NS agar mau sekolah. NS diminta tetap menempuh pendidikan di SMAN 4 demi masa depannya.. Keluarga hanya akan meminta pindah kelas.
Kustaiani berujar, mungkin ada hikmah dibalik cobaan yang dialaminya. Kasus yang dialami NS sudah menyebar. Tetapi bagi Kustiani, ini menjadi pelajaran bersama bagi semua orangtua. Agar supaya tidak ada lagi korban bullying di sekolah lainnya. Sebab, dia tahu persis bagaimana seorang remaja ketika mengalami depresi.
Sebagai ibu, Kustiani mengaku, sudah mengetahui NS sering mendapat perlakuan yang tidak disukainya oleh temannya. Bahkan sejak NS masih SMP. Beberapa kali pula, Kustiani pernah dimediasi sekolah atas kasus yang sama.
Diapun pasrah dan tetap memberi nasihat ke anaknya. Supaya tidak terpengaruh oleh perlakukan temannya yang sampai mengganggu mentalnya.
Kustiani bercerita, aduan itu sering ia dapati dari anaknya NS. Namun saat itu, tidak ada tanda-tanda NS aklan mengalami gangguan mental sampai lulus dari SMP. Karena saat itu, sikap NS memang ngalem padanya. NS sangat menyayanginya.
“Emosionalnya tidak ada gangguan, Mas. Namun dia memang beda dengan kakaknya,” ujar Kustiani.
Bedanya, NS memang sedikit lebih ngalem ketimbang kakaknya. Setiap ada apa-apa, NS selalu meminta restu kepadanya. Apapun yang dialami, NS selalu laporan. Termasuk saat sekolah minta antar padanya. Ini terjadi ketika NS mulai sering mendapat bullying di sekolah.
“Sudah besar kok masih antar, Le, saya katakan begitu,” kata Kustiani yang sempat curiga saat anaknya duduk di bangku SMA.
Kustiani sempat menelusuri. Ternyata NS ini sering mendapat bully dari temannya di sekolahnya. Sehingga dia mau-mau saja mengantar NS ke sekolah.
Tapi seringnya diantar malah dibuat bahan untuk bully-an. “Saya bilang, tidak apa-apa nak, yang penting jangan ikut membully,” kata Kustiani.
Kustiani sebenarnya sudah bersikap dengan wadul ke guru di sekolah. Dia menyampaikan jika anaknya sering dibully.
Hingga pada tanggal 15 sampai 17 Agustus 2024, anaknya mengalami perilaku yang lain. Saat itu anaknya sudah mulai tidak masuk sekolah. NS selalu beralasan sakit karena kerap dikeroyok oleh temannya.
Nah pada tanggal 17 Agustus, itu pun masih diancam oleh temannya. Tetapi, awalnya biasa-biasa saja. Sebab ada informasi jika orang tua temannya yang membully, mau ke rumah mereka untuk meminta maaf.
“Ada guru BK menelpon dan mengatakan kalau ada tamu mau ke sini (rumah Kustiani, red). Saya pikir itu kawan NS yang mem-bully,” ujarnya.
Sebenarnya NS senang karena orangtua kawan-kawannya yang mau mem-bully, bakal datang ke rumahnya untuk minta maaf. Namun, ternyata rencana itu tak jadi karena yang ditunggu belum juga datang.
“Hingga anak saya marah-marah dan mengatakan, aku ini korban bully Bu. Mereka kok tidak minta maaf,” kata Kustiani sembari menirukan NS yang waktu itu teriak-teriak.
Sejak itu, NS mulai sering marah-marah. Pada Selasa (20/8) malam itu kondisinya semakin memburuk. Dirinya lantas meminta tolong Habib Umar, tokoh masyarakat. Saran dari Habib Umar, NS dibawa berobat karena alami depresi.
Dirinya pun bersedih mendengarnya. Sebab saat ditanya, NS menjawab, “Aku korban bully,”
Begitu jawab NS. Sampai akhirnya habib menyarankan ke Puskesmas Kebonsari untuk perawatan medis.
Kondisinya pun belum pulih. Faris Rochman Maulana, 23, sang kakak, yang saat itu tidak terima, langsung menangis. Sekeluarga menangis menyaksikan kondisi NS seperti gangguan jiwa. Sebab barang-barang di rumahnya dirusak.
“Bahkan, adiknya yang masih balita sempat dilempar, Mas. Kalau tidak diamankan saat itu, bisa ada korban,” kata Faris, kakak NS.
Akhirnya dia melaporkannya ke Polres Pasuruan Kota atas kasus bullying ini. Sebab dirinya mengaku pernah memprotes ke sekolah minta keadilan, lantaran adiknya mengalami depresi berat.
Wajar saja, Faris melapor ke polisi. Katanya, jika hanya sebatas luka, bisa disembuhkan melalui medis. “Kalau penyakit jiwa sewaktu-waktu akan kambuh lagi. Ini soal masa depan. Kakak mana yang terima Mas, jika adiknya dibegitukan,” beber Faris.
Malam pertama waktu adiknya depresi, dirinya sempat begadang untuk menjaga adiknya yang lagi mengamuk di rumahnya. Banyak barang rusak. Bahkan tembok dihancurkan karena hantaman NS.
Kustiani menambahkan, NS sebenarnya anak baik-baik. Kondisinya berubah setelah alami depresi, karena setiap harinya hanya menangis.
Kini sifat ngalemnya itu tidak lagi tampak. Kustiani yakin, ini hanya masalah waktu. Setelah dirawat di RSJ, NS dalam pengobatan rutin. Jika berkomunikasi, harus rileks. Sebab jika dengan nada tinggi, responnya juga malah kasar. “Tanggal 16 ini kontrol,” ujarnya.
Sebagai ibu, Kustiani tentu memikirkan nasib NS ke depan. Dia berharap, NS bisa segera pulih.
“Sebagai orangtua, kami kan memikirkan masa depannya. Terkait pekerjaannya dan lain-lain. Cita-citanya menjadi tentara,” ujarnya.
Satu-satunya yang menjadi penyemangat Kustiani, adalah dia meyakini anaknya bisa sembuh seperti sedia kala. Dia juga terhibur setelah diberi hadiah umrah dari alumni 1995 SMAN 4 Kota Pasuruan. (fun)
Editor : Abdul Wahid