MUSIM panen bawang merah di Kabupaten Probolinggo tak selalu membuat petani semringah. Sesuai hukum pasar, banyaknya stok membuat harga merosot. Ditambah plasi yang diterapkan pedagang tak main-main. Belum lagi ganasnya serangan hama.
Hijaunya hamparan lahan pertanian bawang merah di Kabupaten Probolinggo, begitu menyejukkan mata. Namun, di balik kesejukan itu, ada mata yang harus berkaca-kaca dengan sejumlah problematika dalam proses produksinya.
Sejumlah petani bawang merah menjerit. Mengeluh dengan berbagai permasalahan yang terpaksa harus mereka hadapi. Mulai dari ganasnya hama, plasi, dan harga yang tak bisa mereka kendalikan. Memasuki masa panen, bukan laba, kerugian yang tampak lebih jelas di depan mata.
Seperti dialami salah seorang petani bawang asal Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Sholihin, 45. Dari wajahnya tergurat kelelahan, bukan hanya karena pekerjaan fisik yang berat. Tetapi, juga karena kecemasan yang terus menghantui.
Kekhawatiran ini muncul setiap kali ia harus menjual hasil panennya. Di wilayahnya, praktik plasi atau potong timbangan bawang merah menjadi hal biasa. Saat bawang merah milik petani ditimbang untuk dijual, beratnya dikurangi hingga 32 kilogram dalam sekali timbang atau per 2 kuintal.
“Setiap kali timbang bawang, akan dikenai plasi. Sekali timbang per 2 kuintal, dikenakan plasi 32 kilogram jika bawang bersih. Jika barangnya masih kotor, bisa dikenakan 35 kilogram,” ujarnya.
Di Probolinggo, kata Sholihin, plasi yang diterapkan cukup tinggi. Berbeda dengan daerah-daerah lain. Menurutnya, di daerah lain plasinya per 2 kuintal hanya dipotong 5 kilogram.
Pendapatan petani bawang akan makin tergerus setelah melihat harganya. Pada musim panen tahun ini, bawang merah petani hanya dihargai Rp 18 ribu per kilogram. Itu pun khusus yang super. Sedangkan yang sedang-besar, berkisar antara Rp 14-15 ribu per kilogram. Bila masuk golongan bawang kecil, hanya Rp 10-11 ribu per kilogram.
Harga ini jauh dibanding pada masa panen raya tahun-tahun sebelumnya. Tahun kemarin, harga bawang merah super mencapai Rp 25 ribu per kilogram. Bawang merah sedang-besar dihargai Rp 18 ribu per kilogram dan yang kecil Rp 15 ribu per kilogram.
Sejatinya, harga pada musim panen masih lebih rendah dibanding harga di luar musim panen. Harga bawang super bisa mencapai Rp 35 ribu per kilogram, sedang-besar Rp 30 ribu per kilogram, dan kecil Rp 25 ribu per kilogram.
Dalam menanam bawang, kata Sholihin, modalnya cukup besar. Misalnya, untuk membeli bibit per kantong yang berisi empat kuintal bisa mencapai Rp 4 juta. Bibit ini cukup untuk lahan seluas 150 meter persegi.
Ditambah biaya perawatan dan pupuk yang bisa mencapai Rp 5-6 juta. Jika diserang hama, perawatannya bisa mencapai Rp 8-9 juta. Ditambah biaya sewa jaring dan pengolahan tanah sebelum tanam yang bisa menghabiskan sekitar Rp 7 juta.
Dengan bibit 4 kuintal atau lahan seluas 150 meter persegi, kata Sholihin, bisa memperoleh bawang merah hingga dua ton. Bila harganya Rp 15 ribu per kilogram, bisa memperoleh Rp 30 juta. Jika dipotong plasi, akan berkurang sekitar Rp 4,5 juta. Dengan rincian plasi mencapai 3 kuintal.
Jika terserang hama, kata Sholihin, ceritanya akan lain lagi. Hasil panen bisa turun drastis. Dengan modal yang sama, hasil panennya hanya bisa mencapai sekitar 9-10 kuintal. Itulah yang kini banyak dialami petani. Banyak tanaman bawang yang terserang gurem. Pendapatannya hanya cukup balik modal, bahkan rugi.
“Kalau sama plasinya, jelas rugi. Kalau sudah rugi, biasanya pinjam ke bank untuk menutupi kerugian,” katanya.
Melihat harga bawang yang tak bersahabat kala musim panen, banyak petani yang memilih komoditas lain. Seperti menanam padi dan kacang. Terutama mereka yang memiliki lahan pertanian cukup luas dan tak hanya satu tempat.
“Kalau bawang kami kena hama, panennya bisa jauh berkurang. Ditambah kena plasi, jelas kami rugi besar. Biaya bibit, pupuk, dan perawatan tidak sedikit. Apalagi kalau musim hama, biaya perawatan bisa melonjak,” ujar petani asal Desa Sumberagung, Kecamatan Dringu, Budiono, 40.
Masalahnya, meski harga murah ditambah plasi yang tak bersahabat, banyak petani yang tak punya pilihan lain selain menjual kepada pedagang atau tengkulak. Jika diecer sendiri, kata Budiono, akan kesulitan. Stoknya terlalu banyak.
“Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, petani lebih tenang. Sebab, harga bawang merah mahal. Meski plasi tinggi, masih bisa ditutupi dengan harga jual bawang merah yang juga tinggi,” katanya.
Menurutnya, perbedaan penerapan plasi antara Probolinggo dan daerah lain sangat mencolok. Di sejumlah daerah hanya sekitar 5 kilogram per 2 kuintal. Beda dengan Probolinggo, yang bisa mencapai 32-35 kilogram.
“Kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah atau pihak terkait untuk mengatasi masalah ini. Kami hanya ingin hak kami sebagai petani dihargai. Kalau kondisi ini dibiarkan terus-menerus, petani seperti kami bisa terus merugi,” ujar Budiono. (rud)
Editor : Ronald Fernando