Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Saat Warga Binaan Lapas IIB Pasuruan Diajari Membuat Tas Anyaman Jali, Paling Sulit Membuat Bagian Dasar Tas

Fahrizal Firmani • Sabtu, 27 Juli 2024 | 14:40 WIB

 

TIDAK SULIT: Muarif (kanan) dan Fatoni, dua warga binaan Lapas IIB Pasuruan saat membuat tas anyaman berbahan jali.
TIDAK SULIT: Muarif (kanan) dan Fatoni, dua warga binaan Lapas IIB Pasuruan saat membuat tas anyaman berbahan jali.

Bahan jali dikenal kuat dan tahan lama. Sehingga, disukai oleh konsumen. Karena itu, jali sering menjadi pilihan saat membuat tas anyaman. Lapas IIB Pasuruan berupaya menularkan keahlian pembuatan tas berbahan jali ini pada warga binaan (WB).

Siang itu, aula ruang Soeharjo Lapas IIB Pasuruan tampak ramai. Sejumlah WB dan istri dari staf lapas setempat memenuhi ruangan itu. Mereka mendengarkan pengarahan dari instruktur untuk membuat tas anyaman.

Namun, berbeda dengan tas anyaman yang dijual di pasaran. Tas ini unik karena menggunakan bahas jali. Setelah melihat cara pembuatannya, mereka pun langsung praktik.

Muarif, 45, salah seorang WB mengaku sangat senang bisa belajar membuat tas ini. Sebab, ini ilmu baru. Ia belum pernah membuat tas anyaman sebelumnya. Karena itu, usai diajari cara pembuatannya, ia langsung praktik.

“Awalnya seperti sulit. Cuma ternyata tidak serumit itu. Bagi yang belum terbiasa mungkin tidak akan mudah,” katanya.

Bahkan, hari itu juga setelah diajari, Muarif sudah berhasil membuat dua buah tas anyaman. Cara membuatnya tidak sulit. Baginya, hanya perlu ketelatenan. Ia harus memotong bahan jali dengan ukuran yang sama.

Bahan ini dijejerkan dan ditempel dengan isolasi sebagai pengikat agar tidak goyang. Setelah itu, jali bisa mulai dianyam. Untuk memudahkan proses pembuatan, bisa dibantu menggunakan kayu kotak agar mudah dibentuk.

“Kalau telaten, satu jam bisa membuat satu tas anyaman. Cuma bisa lebih bergantung pada keterampilan,” tutur Muarif.

Fatoni, 42, WB lainnya menuturkan, pembuatan tas anyaman berbahan jali ini yang paling rumit adalah bagian dasarnya. Karena itu, harus telaten dalam menganyam dan menempel menggunakan selotip untuk merekatkan.

“Kalau yang lainnya relatif lebih mudah. Asalkan bagian dasarnya selesai, maka bagian lainnya bisa mengikuti,” jelas Fatoni.

Instruktur pembuatan tas anyaman berbahan jali, Yudiansyah menyebut, bahan jali ini memiliki karakteristik seperti polyvinil chlorida (PVC). Bahan ini kuat dan mudah untuk dibersihkan. Bentuknya ada yang pipih dan ada yang bulat.

Tidak hanya bentuknya yang beragam, jenisnya juga bervariasi. Ada yang anti panas. Bahannya kuat, sehingga bisa membawa beban berat. Bahkan, ada yang digunakan untuk fashion karena modelnya yang menarik.

Kebetulan, pihaknya memang tertarik untuk menggunakan bahan jali dalam pembuatan tas. Karena lentur, bahan ini dengan mudah dibentuk. Kekuatan tas untuk membawa barang bervariasi.

DISUKAI: Instruktur pembuat tas anyaman berbahan jali, Yudiansyah, menunjukkan tas buatan warga binaan Lapas IIB Pasuruan.
DISUKAI: Instruktur pembuat tas anyaman berbahan jali, Yudiansyah, menunjukkan tas buatan warga binaan Lapas IIB Pasuruan.

“Saya tertarik membuat tas bahan jali karena saat itu booming untuk tempat parcel, sekitar tahun 2020-an. Dari situ, saya diminta untuk menularkan ilmu ini,” jelasnya.

Bahan jali sebanyak 5 kilogram bisa digunakan untuk bahan pembuatan 15 buah tas anyaman. Dengan ukuran standar 25 x 11 x 27 sentimeter. Harganya pun bervariasi.

Untuk tas anyaman polos, bisa dijual sekitar Rp 200 ribu. Untuk tas dengan aksesori manik, harganya bisa lebih mahal. Mulai dari Rp 300 ribu hingga lebih. Tergantung tingkat kerumitannya. Biasanya tas yang diberi aksesori lebih laku, karena bisa digunakan untuk fashion.

“Banyak ibu-ibu yang suka tas dengan aksesori manik. Biasanya mereka gunakan untuk hadir dalam acara,” tutur Yudi.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Pasuruan Taufiqul Hidayatullah menuturkan, pihaknya sengaja memberi pengajaran cara membuat tas jali. Tujuannya, tidak lain sebagai pembekalan keahlian.

“Ini sangat penting untuk warga binaan. Terutama setelah mereka bebas dari hukuman,” katanya.

Tentunya, pihaknya akan memberikan kesempatan bagi WB yang ingin mengembangkan keahliannya dalam membuat tas jali ini. Nantinya, hasil pembuatan tas ini bisa kembali pada WB.

“Bisa dimasukkan dalam e-money bagi WB. Jadi saat mereka ingin membeli sesuatu bisa menggunakan itu,” tutur Taufik. (hn)

Editor : Achmad Syaifudin
#Warga Binaaan #tas anyaman #lapas pasuruan