Di balik kesuksesannya sebagai Kepala KUA Kecamatan Pandaan, H. Ali Sodikin menyimpan kisah inspiratif yang penuh perjuangan. Pria asal Bangil ini pernah merasakan manis dan getirnya kehidupan sebagai loper koran.
MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
MASA kecil Ali Sodikin penuh dengan kegetiran. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana di Ledok, Kidul Dalem, Kecamatan Bangil, dengan kondisi kesejahteraan ekonomi keluarganya yang sangat terbatas.
Ali yang merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara, harus menghadapi berbagai tantangan sejak usia dini.
Ketika ia duduk di bangku kelas 3 SD Muhammadiyah Bangil, biaya sekolah menjadi kendala bagi keluarganya.
”Bahkan, ada kemungkinan untuk dipindah ke SD Inpres karena keterbatasan finansial,” kenang Ali.
Namun, Ali tidak menyerah pada nasib. Ali merasa cemas jika harus beradaptasi dengan lingkungan baru di SD Inpres.
”Saya sudah sangat nyaman dengan sekolah saya yang lama, jadi saya memutuskan untuk mencari cara agar bisa tetap bersekolah di SD Muhammadiyah Bangil,” tuturnya.
Sejak saat itu, Ali mulai berusaha mandiri dengan berbagai pekerjaan kecil. Ia menjadi buruh angkut air untuk tetangganya, mengisi tandon kamar mandi dari menimba air di sumur.
Ia juga mengantar jajanan buatan tetangga ke warung-warung, dan bahkan menjual kacang di sekolah.
”Sampai-sampai, saya dikenal dengan sebutan Ali Kacang karena jualan kacang di sekolah,” katanya sambil tersenyum.
Ketika sudah SMP, ia juga membantu ayahnya menerima pesanan jahit kerudung renda. Salah satu pakaian wanita yang cukup tren di masa-masa itu. Tapi, selayaknya tren fashion, tak bertahan lama. Ketika Ali sudah SMA, pesanan kerudung renda berangsur sepi.
Sekitar 1980-an, Ali memulai perjalanan barunya sebagai loper koran. ”Setelah lulus SMP Muhammadiyah, saya mulai menjadi loper koran untuk Hariono di Dermo,” ujar Ali. Selama SMA, Ali dengan setia mengantarkan koran dengan mengayuh sepeda, melintasi wilayah Bangil-Beji setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
”Kebetulan sekolahnya masuk siang, jadi paginya ada waktu untuk kirim koran,” kata bapak satu anak itu.
Tantangan menjadi loper koran tidaklah mudah. Ali harus bangun sebelum subuh dan mengayuh sepeda untuk mengantar hingga 80 eksemplar koran setiap hari.
”Saya harus berangkat pagi-pagi sekali untuk memastikan koran sampai tepat waktu. Jika terlambat, pelanggan pasti akan komplain,” jelasnya.
Ali juga mengingat betapa sulitnya mempertahankan ketepatan waktu saat berita-berita besar seperti Perang Teluk pada tahun 1990-an atau Piala Dunia, yang membuat permintaan koran melonjak tinggi.
”Keuntungan tersendiri bagi saya, bisa tahu berita-berita penting sebelum koran dibaca orang,” kelakarnya.
Kendati sudah bertaruh nasib di usia remaja, Ali tidak melupakan pendidikannya. ”Meskipun bekerja sambil sekolah, saya tetap berusaha untuk belajar dan meraih prestasi di sekolah,” ungkapnya.
Boleh dibilang, Ali Kacang sudah menjadi bintang kelas sejak SD. Dan dedikasinya terhadap pendidikan membuahkan hasil ketika Ali berhasil masuk ke SMAN Bangil yang dikenal sebagai sekolah untuk siswa-siswa berprestasi.
”Karena seleksinya kan hanya pakai danem waktu itu,” katanya.
Nasib yang mungkin dirasakannya saat itu sebagai anak yang kurang beruntung, membuat Ali bertekad untuk mengubah garis takdir. Itulah kenapa Ali menganggap pendidikan sangat penting.
Tak cukup dengan ijazah SMA, Ali mengenyam pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Surabaya.
”Bapak selalu mewanti-wanti kudu gemi, Insyaallah iso rupo. Gemi tidak cukeng atau pelit,” katanya.
Buktinya, hasil kerjanya berjualan kacang dan menjahit saja sudah cukup untuk membangun rumah. Ketika SMA Ali sudah punya rumah sendiri, setelah jadi loper koran, ia juga mampu membangun rumah lagi.
Setelah bergelar sarjana, Ali mengikuti seleksi CPNS pada 2005 dengan formasi kepenghuluan, namun gagal. Ia tidak menyerah. Pada 2006, Ali kembali mendaftar untuk formasi takmir masjid dan diterima.
”Ketika baca pengumuman formasi takmir masjid, saya merasa ini adalah kesempatan saya,” kenang Ali yang memang aktif di masjid
Ali memulai karirnya sebagai pegawai negeri sipil dengan menjadi staf di Kantor Kemenag Kabupaten Pasuruan. Pada bulan-bulan pertama, ia tetap meneruskan pekerjaan sebagai loper koran.
”Saya tidak ingin melupakan bagian dari masa lalu saya,” ungkap lelaki 54 tahun itu.
Apalagi selama masa-masa menjadi loper koran, Ali punya banyak kenangan yang sangat berkesan.
Tak terkecuali, pertemuannya dengan Galuh Dwi Vidyawati, perempuan yang kini menjadi istrinya. Ali dan Galuh menikah dengan selisih usia terpaut 10 tahun.
”Wajar, karena pertama kali ketemu, saya sudah dewasa, dia masih anak SD,” kata Ali.
Galuh adalah salah satu pelanggan majalah anak yang diantar ketika dia masih kecil. ”Dia masih anak-anak waktu itu, jadi ya langganan majalah anak, Bobo, Mentari, itu saya yang antar,” katanya.
Ali juga mendapat banyak pelajaran hidup yang berarti selama jadi loper koran. Pengalaman Ali sebagai loper koran membentuk karakter dan pandangannya tentang kehidupan.
”Kedisiplinan adalah pelajaran terbesar yang saya ambil dari pekerjaan ini. Kedisiplinan yang saya pelajari selama menjadi loper koran membantu saya dalam menjalani tugas-tugas sebagai abdi negara,” jelas Ali dengan penuh keyakinan.
Ali percaya bahwa kesulitan yang dihadapinya tidaklah sia-sia. ”Saya selalu bersyukur dengan apa yang saya raih sekarang karena saya sudah merasakan bagaimana hidup dalam kesulitan. Saya yakin bahwa semua itu telah membentuk diri saya menjadi lebih kuat dan lebih bersyukur,” tambahnya.
Dengan kerja keras, Ali kemudian mengikuti Diklat Penghulu pada 2018. Setahun kemudian, Ali diangkat sebagai Kepala KUA Winongan. Ia menghadapi tantangan besar berupa banjir yang sering melanda kantornya.
”Saya mengajukan proposal dan alhamdulillah pada 2020, kami mendapatkan program SBSN untuk merehab total gedung KUA,” ujar Ali, dengan rasa syukur.
Di bawah kepemimpinan Ali, KUA Winongan menjadi salah satu proyek percontohan nasional dalam program revitalisasi KUA pada 2021. ”Ada tim survei siluman yang menilai berbagai aspek pelayanan dan SDM kami. Kami berhasil menunjukkan bahwa KUA kami memenuhi standar yang tinggi,” kata Ali dengan bangga.
Ia menjalani karirnya dengan enjoy. Ali pernah dipercaya menjabat Plt Kepala KUA Beji dan KUA Pohjentrek sebelum akhirnya menjabat sebagai Kepala KUA Pandaan pada November 2023. “Selalu bersyukur adalah kunci utama,” ujarnya.
Sebagai Kepala KUA Pandaan, Ali memiliki visi yang jelas tentang bagaimana ia ingin menggunakan posisinya untuk membantu masyarakat. ”Saya percaya bahwa tugas utama saya adalah memahami dan memenuhi kewajiban pelayanan masyarakat. Ini adalah bagian dari cara saya untuk membantu orang lain,” kata Ali.
Ali berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, mempermudah urusan mereka, dan berusaha menjadi teladan dalam setiap aspek tugasnya.
”Kesuksesan yang saya raih bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Ali menunjukkan bahwa setiap tantangan dalam hidup adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang. Semangatnya untuk terus belajar dan berusaha meskipun dalam keterbatasan patut dicontoh oleh banyak orang. Seperti yang dikatakan Ali, ”Prinsip saya poso dulu baru ketemu rioyo,” katanya. (fun)
Editor : Abdul Wahid