Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengenal Dodik Hermawan, Kajari Kota Probolinggo Baru, Berkesan saat Sosialisasi Larangan Bawa Sajam di Papua

Arif Mashudi • Rabu, 24 Juli 2024 | 23:40 WIB
SERIUS TAPI SANTAI: Kajari Kota Probolinggo Dodik Hermawan di ruang kerjanya.
SERIUS TAPI SANTAI: Kajari Kota Probolinggo Dodik Hermawan di ruang kerjanya.

Sejak akhir Juni 2024, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Probolinggo resmi dijabat Dodik Hermawan. Dia tak pernah punya cita-cita menjadi jaksa sebelum akhirnya ditakdirkan menjadi penegak hukum.

ARIF MASHUDI, Kanigaran, Radar Bromo

Berbagai kegiatan diadakan Kejari Kota Probolinggo dalam rangka memperingati Hari Bhakti Adhiyaksa (HBA).

Kajari Kota Probolinggo, Dodik Hermawan yang baru menjabat sekitar 1 bulan lamanya, sudah tampak menikmati suasana di Kota Probolinggo.

Di tengah kesibukannya, Jawa Pos Radar Bromo pun diberikan waktu untuk ngobrol santai sambil wawancara.

Pria kelahiran Magetan, 20 November 1976 pun menceritakan awal sampai menjadi bagian dari Korps Adhiyaksa.

Saat masih kecil hingga remaja, dia tidak pernah ada cita-cita menjadi Jaksa atau penegak hukum. Bahkan, saat sekolah fokus di IPA jurusan Biologi, dengan harapan bisa menjadi dokter.

Namun, takdir Allah berkehendak lain. ”Lulus SMA saya ikut tes UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Karena ada tiga pilihan, pertama kedokteran dan terakhir itu hukum perdata. Ternyata, Allah mentakdirkan saya diterima jurusan hukum perdata Universitas Jember (Unej). Saya ambilnya keperdataan,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo.

Setelah lulus kuliah April tahun 2000, dikatakan Kajari Dodik, dia mencoba peruntungan dengan mengikuti tes CPNS formasi Kejaksaan saat dibuka. Syukurnya dia diterima dan pertama tugas CPNS di Kejari Pacitan.

”Dulu, waktu seleksi CPNS, peserta yang masuk 15 besar, penempatan di Jawa dan selebihnya itu di luar jawa. Kebetulan saya masih nyangkut di 15 besar itu dan tugas di Pacitan,” ujar bapak tiga anak itu.

Kajari yang hobi motor tua nan antik itu menerangkan, setelah diterima CPNS, dirinya pernah menjadi ajudan Kajati Jatim dua kali.

Tanpa ada rencana, saat awal tugas di Pacitan, waktu itu dia mengikuti pendidikan jaksa di Jakarta.

Nah, ternyata dirinya masuk salah satu kandidat mengganti ajudan Kajati Jatim dan dirinya terpilih.

”Saya pernah terpilih menjadi ajudan Kajati. Tanpa ada rencana dan pikiran, terpilih menjadi ajudan,” tuturnya.

Selepas menjadi ajudan Kajati Jatim, dikatakan Dodik, dirinya masuk daftar nama yang akan mengikuti pendidikan jaksa.

Nah, kebetulan saat menjadi ajudan, waktu yang ada seluruhnya mengikuti kegiatan Kajati.

Sehingga, waktu untuk membuka kembali soal hukum dan keperdataan, hampir tidak sama sekali.

Saat pendidikan jaksa, dirinya pun berusaha untuk tidak membuat nama Jatim jelek. Sehingga, saat peserta pendidikan jaksa tidur, dirinya diam-diam berusaha belajar lagi.

”Karena saya bawa nama Jatim dan melekat nama ajudan Kajati, saya tidak mau membuat malu. Jadi pas malam hari ketika peserta lain pada tidur, saya memilih untuk belajar dan pelajari semua,” ungkapnya.

Selepas pendidikan jaksa, diakui Kajari Dodik, dirinya ditugaskan pertama di Timika Papua. Di daerah wilayah timur Indonesia itulah, dia merasa banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Pernah naik mobil tanahan, digoyang-goyang oleh warga. Termasuk saat sosialiasi soal ancaman pidana membawa senjata tajam (sajam).

Padahal, orang-orang Timika, membawa sajam, panah itu sudah biasa. Sehingga, dirinya pun berusaha untuk memberikan sosialisasi, tanpa membuat warga tersinggung dan marah. Karena di tangan warga sudah pegang sajam.

”Saat sosialisasi ancaman pidana sajam itu, sempat was-was dan ngeri-ngeri sedap juga. Karena peserta yang datang ke acara sosialisasi itu, ternyata membawa sajam semua. Karena bagi mereka sudah terbiasa dan harus membawa sajam,” ungkapnya.

Sekitar 1,5 tahun, dirinya pun akhirnya dipindah tugas ke Jawa, tepatnya ke Pati, Jateng.

Hingga akhirnya, dirinya pun menjadi Kajari Dharmasraya Sumatera Barat. Nah, saat menjabat Kajari Dharmasraya, harus merasakan jalan dan medan yang jauh dari pusat kota.

Karena jarak tempuh yang jauh, dirinya pun membuat aplikasi Sistem Informasi Pengembalian Barang Bukti (Si-Prabu). Sehingga, masyarakat yang hendak mengambil barang bukti, tidak perlu wira-wiri.

Tetapi, cukup melalui aplikasi itu bisa diajukan dan diproses. Sehingga, saat sudah siap dan dijadwal, tinggal datang sekali langsung ambil barang bukti tersebut.

Bahkan, Kejari sampai membuka layanan barang bukti tersebut diantarkan ke alamat pemilik.

”Alhamdulillah, inovasi aplikasi Si-Prabu itu dapat apresiasi dari Bupati Dharmasraya dan kejaksaan. Karena terobosan dan inovasi itu dianggap memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan terkait barang bukti,” ungkapnya. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#kajari #kejari kabupaten probolinggo