Feby Andriani, Difabel Asal Kabupaten Probolinggo Pemenang Lomba Fashion Batik Memperingati Pekan Batik Daerah di Bojonegoro, Ini Ceritanya

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Jumat, 12 Juli 2024 | 18:53 WIB
JAWARA: Feby Andriani, 23, berpose dengan pialanya setelah meraih juara pertama dalam lomba fashion batik memperingati pekan batik daerah yang digelar Pemkab Bojonegoro.
JAWARA: Feby Andriani, 23, berpose dengan pialanya setelah meraih juara pertama dalam lomba fashion batik memperingati pekan batik daerah yang digelar Pemkab Bojonegoro.

Saat sekolah, Feby Andriani, 23, sering di-bully teman-temannya karena tunarungu dan tunawicara. Namun, dia membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak selalu identik dengan kekurangan. Feby terbukti memiliki skill dalam bidang fashion show. Bahkan, berprestasi hingga tingkat nasional.

Sejak sekolah di Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB), Feby Andriani memang menyukai kompetisi fashion show. Sang ibu, Emelia Putu Andriani yang memahami bakat anaknya itu, kemudian memberikan dukungan penuh.

Feby pun sering ikut lomba fashion show, bahkan sering menang. Hingga berumur 23 tahun, dia sudah mengantongi 30 prestasi. Mulai tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Bakatnya makin berkembang, seiring usianya yang terus bertambah. Apalagi, Feby memiliki jiwa kompetisi yang tinggi. Menurut Emelia, anaknya itu juga cepat belajar.

Feby tidak ingin kalah dengan teman-temanya yang memiliki fisik sempurna. Salah satu buktinya, dia enggan melanjutkan sekolah di SDLB setelah lulus TKLB. Feby memilih sekolah di SD Materdei Kota Probolinggo.

Saat SMP, dia melanjutkan ke SMP LB. Baru setelah lulus SMP, dia kembali sekolah di sekolah umum. Yaitu, di SMKN 3 Kota Probolinggo.

Sejak SD itulah, Feby mulai ikut kelas model. Warga Desa Kalirejo, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, itu makin sering ikut lomba fashion show.

Emelia pun terus mendampingi dan mendukung anak bungsu dari tiga bersaudara itu. Sebab, bagaimanapun Feby memiliki keterbatasan berkomunikasi.

Sehingga, Emelia selalu membantu agar putrinya tidak dipermaikan oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Pernah ia ditawari melalui DM Instagram untuk job foto. Namun, fotonya itu minta yang aneh-aneh. Saya jelas tidak mengizinkan,” katanya.

Yang terbaru, Feby mengikuti lomba fashion batik yang digelar Pemkab Bojonegoro bersama Dekranasda, Jumat (7/6). Lomba itu merupakan rangkaian Pekan Batik Daerah dan dilaksanakan di Alun-Alun Bojonegoro.

Dia mewakili Pemkab Probolinggo melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Diskopar) Kabupaten Probolinggo. Pesertanya 27 kota/kabupaten di Jawa Timur. Dan tiga kabupaten dari Jawa Tengah.

Hasilnya, Feby meraih juara pertama dalam lomba tersebut. Meskipun, persiapan atau latihannya hanya dua hari.

Menurut Emelia, waktu untuk latihan memang sebentar. Sebab, latihan baru bisa dilakukan setelah kostum untuk lomba selesai dibuat. Sementara kostum tersebut baru jadi, dua hari sebelum lomba.

 “Kostumnya itu harus orisinal dan tidak pernah diikutkan lomba. Jadi buat kostum dulu saat itu,” tuturnya.

Beruntung, Feby bisa belajar dengan cepat. Selain karena jam terbangnya tinggi, ia juga mudah paham saat belajar.

“Kelebihannya Feby ini, langsung nyantol kalau belajar. Jadi tidak sampai mengajari secara ekstra,” lanjut Emelia.

Saat lomba, Feby hanya tampil 3 menit di panggung. Selama 3 menit itu, dia mampu berpose dengan anggun dan mendapat nilai paling tinggi dari dewan juri.

Feby pun keluar sebagai juara pertama dengan nilai 775, mengalahkan 29 peserta lainnya. Dia mendapat trofi, piagam, dan uang pembinaan Rp 15 juta.

Selanjutnya, enam peserta terbaik dalam lomba tersebut akan ditunjuk sebagai perwakilan Provinsi Jawa Timur di ajang nasional.

 Kemudian, pemenangnya di ajang nasional akan ikut fashisn show tingkat internasional yang akan digelar di New York.

Feby sendiri dalam lomba itu, membawakan kostum tokoh Roro Anteng yang memakan biaya pembuatan Rp 12 juta. Roro Anteng sendiri digambarkan cantik, memiliki karakter berwibawa, dan berbudi luhur.

Karena itu, dalam fashion show tersebut, dia harus menujukkan pose cantik dan elegan. Selain itu, look yang ditunjukan harus membuat kesan tegas dan tetap anggun.  Dengan tatapan tajam, namun tetap menampilkan senyuman yang menawan.

Sedangkan gerakan-gerakannya hanya menggunakan yang sederhana. Tidak berlebihan. Ia berjalan menguasi panggung sambil menunjukan kecantikan kostum batiknya.

Ia juga berjalan di depan juri untuk bisa menampilkan bagian-bagian yang detail. Sesekali, Feby memutarkan badan dan menggerakan tangan di area atas dada dan pinggul.

Umar Faruk Firmansyah, 27, desainer yang membuat batik Roro Anteng mengatakan, tantangan dari kostum batiknya yaitu beratnya lebih dari 1,5 kilogram. Ini merupakan kali pertama ia menggunakan kostum yang berat.

Batik karyanya itu menggambarakan Roro Anteng sebagai tokoh rakyat Tengger di Gunung Bromo. Berdasarkan hasil riset sederhana yang dilakukannya, Roro Anteng merupakan perempuan berparas cantik, berwibawa, kalem, dan memiliki budi pekerti yang baik.

Umar memberikan sentuhan beberapa gambar di batiknya. Ada gambar gapura pura luhur poten Bromo, bunga dan burung.  Juga ada gambar Gunung Bromo dan Lautan pasir.

Batik ini memiliki hitam dan motif emas kecoklatan yang merupakan pakaian ciri khas suku Tengger. Dengan kostum ini, Umar ingin menampilkan kesan tokoh Roro Anteng muncul dari tengah gapura dengan paras cantik dan berwibawa.

Batik ini makin cantik, karena memiliki hiasan mutiara sekitar 4.000 biji. “Rencana awal sih, hanya pakai sedikit mutiara. Tapi kok jadinya kurang bagus ya. Akhirnya ditambah sampai 4 biji untuk menambah kesan estetik,” lanjur Umar.

Pj Kepala Diskopar Kabupaten Probolinggo, Bambang Heriwahyudi mengatakan, keikutsertaan dalam lomba itu merupakan kerja sama dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo.

Harapannya, lomba tersebut bisa menjadi ajang promosi batik Kabupaten Probolinggo agar lebih dikenal daerah lain.

 “Batik itu kan juga perlu dipromosikan dengan ditunjukan oleh Feby ini. Jadi dengan kemenangan ini, semoga bisa mendongkrak penjualan batik di kabupaten probolinggo,” katanya. (hn)

Editor : Achmad Syaifudin
pemkab probolinggo lomba fashion Pekan Batik Nusantara