Dunia seni tidak bisa jauh-jauh dari Firman Arif, 41. Sebagai seorang desain interior, Firman juga dikenal sebagai seorang pelukis. Enam tahun terakhir, dia fokus melukis di atas media kayu.
Perawakannya kalem, dengan ciri khas selalu memakai topi. Itulah Firman Arif, 41, warga Dusun Tosari RT 01/RW 03, Desa/Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan yang dikenal sebagai seorang seniman lukis.
Bakat lukis itu sendiri terlihat sejak kecil. Maklum, neneknya juga seorang pelukis. Sampai akhirnya dia menekuni seni lukis.
Seperti pelukis umumnya, bapak satu anak ini melukis di kanvas. Namun, enam tahun terakhir, dia mulai beralih media. Dari melukis di atas kanvas, kemudian membuat lukisan kayu.
“Modal bisa melukis sudah ada. Saya tinggal mengalihkan ke lukisan kayu,” terang Firman sambil nyeruput kopi di Kafe Awan Tengger, Desa/ Kecamatan Tosari.
Firman mengaku, dirinya memang tertarik melukis di media kayu. Karena itu, dia pun mulai mencoba melukis di kayu.
Setelah beberapa kali mencoba, Firman pun berhasil. Hingga kemudian menekuninya sampai sekarang.
Selama enam tahun terakhir, sudah ratusan buah lukisan kayu yang dibuatnya. Objek lukisan yang dipilih beragam. Mulai gambar wajah, panorama atau pemandangan, kaligrafi dan masih banyak lainnya.
“Untuk bahan bakunya, saya memanfaatkan limbah kayu yang tidak terpakai. Seperti sisa atau bekas potongan kayu,” tuturnya.
Lukisan kayu yang dia buat pertama kali yaitu, lukisan wajah. Karena itu, awalnya Firman memang banyak membuat lukisan wajah.
“Pertama kali lukisan kayu yang saya buat sekitar enam tahun lalu, yaitu wajah teman saya,” cetusnya.
Firman sendiri biasanya melukis saat waktu senggang atau selepas kerja. Dia melakukannya di studio melukis yang ada di rumahnya.
Sementara sehari-hari, Firman bekerja sebagai desain interior. Mulai interior kafe, home stay, rumah, dan sebagainya.
Biasanya, lukisan kayu dibuatnya saat ada permintaan. Namun, ada juga lukisan kayu yang dibuatnya karena ide sendiri. Biasanya, satu buah lukisan bisa diselesaikannya dalam waktu 1-2 hari.
Setelah selei, lukisan-lukisan itu dijualnya secara online. Pembelinya pun berasal dari beragam daerah.
Mulai Pasuruan, Malang, Surabaya dan Jakarta. Bahkan, ada yang dari Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.
“Pernah terjual ke Polandia satu kali, kemudian ke Malaysia dua kali. Masing-masing berupa lukisan wajah,” ujarnya.
Firman sendiri menjual lukisan kayu karyanya sekitar Rp 200 ribu yang paling murah. Sementara yang paling mahal pernah terjual hingga Rp 1 juta.
“Harga itu tergantung tingkat kesulitan dan ukurannya. Makin sulit ya akan makil mahal harganya,” tuturnya.
Kuncinya menurut Firman, harus tenang dan telaten selama melukis. Karena baginya, membuat lukisan kayu lebih sulit ketimbang membuat lukisan di kanvas.
Untuk mendukung profesinya itu, Firman pun beberapa kali ikut pameran lukisan. Yakni di Kecamatan Tosari dan Kota Pasuruan. Ke depan dia berkeinginan punya galeri sendiri. Sehingga, karyanya akan terus berkembang. (hn)
Editor : Achmad Syaifudin