WARGA Krejengan di Kabupaten Probolinggo memilik tradisi turun temurun setiap 1 Muharam datang. Selain memperingati 1 Muharam, juga digelar selamatan desa. Ada kirab jodang dan gunungan sedekah bumi yang diarak warga.
Setiap 1 Muharam, Desa Krejengan menggelar selamatan desa. Beragam kekayaan dan tradisi leluhur terlihat selama selamatan desa digelar.
Ada gunungan sedekah bumi yang diarak masyarakat, juga ada arak-arakan peti jodang. Arakan itu diikuti para tokoh desa yang menaiki delman.
Sementara ibu-ibu menabuh ronjengan (lesung padi) sembari menunggu arak-arakan gunungan dan jodang. Menghadirkan vibes kuno yang sangat kental.
Jodang merupakan peti kayu yang berisi beberapa pusaka leluhur, sesaji desa, dan kemenyan. Jodang ini diarak warga menuju balai desa diiringi puluhan gunungan.
Gunungan dibuat dan disusun dari hasil bumi dan barang-barang niaga yang semuanya merupakan hasil swadaya. Suara rebana, lantunan shalawat dan antusiasme warga, bercampur jadi satu dalam arak-arakan Jodang tersebut.
Kades Krejengan, Nurul Huda mengatakan, tradisi kirab jodang dan gunungan di desanya sudah ada sejak dirinya masih anak-anak. Meskipun tidak semeriah saat ini.
Namun, tradisi ini telah dilakukan turun temurun dalam acara selamatan desa. Tujuannya untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT kepada warga Desa Krejengan. Seperti, syukur atas hasil panen, kesehatan, dan rasa aman.
“Semua itu patut disyukuri melalui kegiatan selamatan desa yang diadakan setiap tahun di desa kami,” katanya.
Yang tak kalah penting menurut Huda, mengajarkan generasi muda agar senantiasa menghargai perjuangan para leluhur dengan cara mendoakan mereka. Juga merawat tradisi leluhur.
Karena pertimbangan itulah, Pemdes Krejengan menjadjikan selamatan desa sebagai agenda rutin tahunan setiap 1 Muharram. Bahkan, ada perdes khusus yang mengatur. Yaitu, Perdes Nomor 1/2016 tentang Pengangkatan Seni Dan Budaya Lokal .
“Alhamdulillah selamatan desa tahun ini berlangsung meriah dengan antusias dan partisipasi warga yang luar biasa. Semua RT turut andil dengan gunungannya masing-masing,” terangnya.
Acara tahunan yang sekilas mirip Grebeg Suro Ponorogo tersebut memang digelar bertepatan dengan perayaan tahun baru hijriah.
Acara ini juga diikuti Pj Sekda Kabupaten Probolinggo, Heri Sulistyanto dan sejumlah pejabat di lingkungan pemkab. Mereka mengikuti kirab dari belakang barisan dengan naik bendi.
Setelah semuanya berkumpul di balai desa, seluruh masyarakat berdoa bersama dan melantunkan salawat.
Sebelumnya, selamatan desa ini diawali dengan penyerahan pusaka desa kepada generasi muda. Ditutup dengan grebeg gunungan oleh segenap masyarakat yang hadir.
Heri sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat Desa Krejengan yang melestarikan tradisi leluhurnya sampai saat ini. Tradisi selamatan desa menurutnya adalah kekayaan budaya yang luar biasa.
Makna dari selamatan desa dan kirab gunungan menurutnya, merupakan ungkapan rasa syukur atas berkah dan rasa aman selama ini.
Hal ini diwujudkan dalam sedekah hasil bumi, karena mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani.
“Alhamdulillah tradisi leluhur kita ini tak lekang tergerus zaman. Terbukti masyarakat Krejengan sanggup melestarikannya sampai saat ini. Semoga kegiatan yang syarat dengan rasa syukur ini istiqomah dan membawa berkah bagi kita semua,” tandasnya.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala DPMD Fathur Rosi. Menurutnya, membangun desa memang sangat diperlukan keterlibatan dan partisipasi masyarakat dari berbagai elemen.
Keterlibatan aktif masyarakat dalam selamatan desa menunjukkan adanya pikiran dan ide-ide positif dari masyarakat untuk membawa Desa Krejengan menuju desa yang lebih maju.
Selamatan desa di Desa KRejengan menurutnya, merupakan media untuk merawat dan membina tradisi luhur gotong royong
“Tentu masing-masing desa memiliki kearifan lokal masing-masing. Apapun bentuk kegiatannya intinya semangat gotong royong harus menjadi landasan utamanya,”ujarnya.
Acara ini diakhiri dengan doa bersama dan grebeg atau rebutan gunungan hasil bumi oleh masyarakat Desa Krejengan.
Dalam hitungan detik, gunungan-gunungan berupa hasil bumi dan hasil niaga tersebut ludes digerebek masyarakat karena dipercaya memiliki berkah karena sudah didoakan. (mu/hn)
Editor : Jawanto Arifin