SENIMAN batik asal Kota Probolinggo, Mujiono atau akrab disapa Pak Breng, 63, berhasil meraih prestasi membanggakan. Dia meraih juara tiga dalam ajang bergengsi Adikarya Wastra Nusantara 2024 di Jakarta Convention Center, Jakarta pada Rabu (15/5) hingga Minggu (19/5).
Adikarya Wastra Nusantara 2024 adalah lomba rancang wastra adati atau kain tradisional. Lomba ini digelar sejak 2017 dan terus berlangsung setiap tahun.
Namun, sempat terputus sejak 2019 karena pandemi Covid-19 dan bari digelar lagi mulai 2022. Termasuk di tahun 2024.
Tahun ini, tiga kategori dilombakan. Yaitu, wastra batik, wastra tenung dan wastra bordir. Total ada 16 peserta menjadi nomine untuk tiga kategori pada Adikarya Wastra Nusantara 2024.
Termasuk karya Mujiono atau Pak Breng yang menjadi nomine untuk kategori wastra batik. Warga Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini mengirim tiga karya wastra batik.
Yaitu, Penari Gandrung Banyuwangi, Wajah Seorang Perempuan (WSP), dan Burung Phoenix. Sementara yang masuk nomine, yaitu Burung Phoenix atau Burung Hong (Fenghuang).
“Phoenix terkenal sebagai burung surga yang melambangkan dunia atas atau khayangan serta melambangkan keburuntungan,” jelasnya.
Terlepas dari itu, semua karyanya itu memiliki filosofi mendalam. Pemilik Batik Larasati Probolinggo itu bercerita, motif Penari Gandrung Banyuwangi melambangkan salah satu kebudayaan di Jawa Timur. Juga sebagai perwujudan syukur masyarakat setelah panen.
Lalu motif WSP menggambarkan pengorbanan seorang ibu saat menyusui buah hatinya. Tanpa kenal lelah dan rasa sakit.
Sedangkan motif Burung Phoenix digambarkan dengan detail yang rumit. Setelah jadi, batik ini diperkaya dengan bordiran halus yang menambah keindahan dan kedalaman visual pada kain.
Selain menambah estetika dan nilai jual, penambahan bordir ke dalam batik dapat memberikan sentuhan modern tanpa menghilangkan nilai tradisional dari batik itu sendiri. menurutnya, batik akan menjadi lebih bertekstur dan tampak lebih hidup.
“Ini inovasi baru. Teknik kombinasi ini telah lama saya geluti. Tepatnya sejak 2020,” terangnya.
Wastra batik Burung Phoenix sendiri dibuat dalam waktu sekitar satu bulan. Pembuatan batiknya butuh waktu tiga minggu. Lalu, proses bordirnya seminggu.
Dimulai dengan menggambar di kain katun yang memiliki ukuran 240 X 115 sentimeter. Setelah itu, kain diwarnai menggunakan pewarna sintetis.
Pewarna sintetis dipilih, karena hasilnya lebih cerah. Sementara pewarna alam, hasilnya agak soft.
Setelah jadi batik, proses membordir dibantu oleh saudaranya. Menurutnya, membordir batik juga perlu kepekaan terhadap warna.
“Jadi harus tahu warna benang yang cocok saat diaplikasikan. Jangan sampai membuat motif batiknya tidak tampak atau terlihat kaku. Tapi warna benangnya tepat, maka motif batik akan makin indah. Apalagi kalau sudah diseterika, makin mengilap,” jelasnya.
Sesaat setelah dinobatkan menjadi Juara 3 dalam ajang Adikarya Wastra Nusantara 2024, batik Burung Phoenix karya Pak Breng langsung dibeli pemilik Hotel Sahid di Jakarta. Pak Breng bahkan langsung ditelepon untuk transaksi harga.
“Saya memang tidak ikut pameran, hanya kirim karya. Maka komunikasi dilakukan via telepon panitia lomba saat itu. Beliau tertarik ingin membeli karya saya tersebut sebab unik dan cantik katanya. Saya jual Rp 3,5 juta saja,” katanya.
Pencapaian Pak Breng sendiri tentu saja tidak didapat secara instan. Dia berangkat dari nol tanpa pengetahuan membatik sama sekali. Namun seiring waktu, ia mulai mengikuti sejumlah pelatihan dan terus mengasah kemampuannya.
“Saya lalu bergabung dengan Asosiasi Pembatik Jawa Timur dan Indonesia. Saya tidak malu-malu bertanya pada para senior, para pembatik yang berkancah ke mana-mana. Saya tanya segala macam tentang batik lalu saya praktek,” lanjut suami dari Elly Yuniar ini.
Sejak saat itu, Pak Breng mulai mengikuti sejumlah pameran atau lomba yang digelar di tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Ke depan ia berencana untuk mengenalkan karyanya ke masyarakat yang lebih luas lagi. Bahkan hingga go internasional.
Bukan sekadar rencana tentu saja. Batik miliknya sudah pernah terjual 5 lembar ke Singapura dan Australia. Saat itu, dia menjual Rp 2,5 juta per lembar melalui asosiasi batik di Jakarta.
“Ke depan semoga bisa ekspor secara pribadi. Sekarang masih fokus penjualan secara offline dan online,” katanya.
Kisah Mujiono ini membuktikan bahwa perpaduan antara tradisi dan inovasi dapat menghasilkan karya yang luar biasa dan diapresiasi banyak orang.
Karyanya yang memadukan batik dengan bordir menjadi bukti bahwa seni batik memiliki potensi yang tak terbatas dan mampu bersaing di kancah nasional, maupun internasional. (gus/hn)
Editor : Jawanto Arifin