Dulu, Desa Masangan di Kecamatan Bangil boleh jadi satu-satunya daerah yang punya sumber daya unggul dalam industri logam. Hampir setiap rumah menjadi home industry kerajinan logam, khususnya perak. Namun krisis moneter meruntuhkan usaha yang berlangsung selama beberapa generasi. Saiful Mufid, tinggal satu-satunya yang bertahan.
MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
Terik matahari siang menerangi Desa Masangan, Kecamatan Bangil. Di sudut rumah sederhana, seorang pria paruh baya duduk dengan tekun di meja kerjanya.
Peluhnya yang bercucuran seolah diterpa sedikit udara sejuk dari kipas angin yang terus berayun.
Kaki kanannya naik turun menjejak pedal untuk memompa bahan bakar hingga ujung obor menyemburkan lidah api panas. Tangan Saiful Mufid mulai menari di atas patri. Cahaya api yang kuat segera menerangi bengkel mininya.
Gerakan tangannya mengarahkan api dengan fokus dan tak tergoyahkan. Begitu seterusnya hingga kawat patri mencair.
Proses itu dilakukan untuk memastikan setiap celah dan rongga di antara potongan perak terisi hingga padat.
Begitulah keseharian Saiful, yang telah menghabiskan lebih dari separo hidupnya untuk seni kerajinan logam. Ia berkecimpung dalam industri yang pernah berjaya di kampungnya itu sejak 39 tahun silam.
”Saat SD, saya sudah belajar mematri. Namun saat itu bahan yang banyak digunakan berupa kawat tembaga,” kenangnya, seusai mematri selongsong once.
Maklum saja, di desanya, kerajinan logam sudah menjadi usaha turun-temurun. Di saat banyak anak-anak seusianya bermain, Saiful sudah merangkai kawat menjadi berbagai perhiasan.
Ketika lulus SD pada tahun 1985, Saiful memutuskan untuk bekerja sebagai pematri perak. Ia bekerja pada salah satu produsen yang cukup punya nama, Abah Sujak.
”Memang sudah cukup lama di sini jadi kampung perak, bahkan waktu saya baru mulai belajar, dua generasi di atas saya sudah berkecimpung dalam bidang ini,” ungkap dia.
Namun semua berubah. Krisis moneter 1998 menjadi titik balik bagi industri logam di Masangan.
Orang lebih sibuk memikirkan kebutuhan sehari-hari ketimbang membeli perhiasan. Sepinya pasar membuat Satu per satu pelaku industri dibuat gulung tikar.
Sejak itu, banyak perajin memilih pindah ke Bali, yang masih menawarkan pasar untuk kerajinan logam. Tidak sedikit teman Saiful sesama perajin mencari penghidupan di Pulau Dewata. Saiful sendiri beberapa kali mendapat tawaran.
”Apalagi garapan saya dianggap cukup halus,” kata lelaki 53 tahun tersebut.
Namun ia memilih tetap bertahan di kampung halaman. ”Anak-anak saya masih sekolah. Saya harus tetap di sini,” tuturnya, mengenang masa sulit itu.
Mau tak mau, ia memaksa diri untuk beradaptasi dengan situasi. Ketika pesanan lokal menurun, ia meraih peluang di luar daerah. Hingga akhirnya ia bekerja untuk menggarap pesanan salah satu produsen perhiasan perak di Malang. Ini cukup membantunya untuk bertahan, meski banyak pesaing di luar kota.
Di balik setiap karyanya, Saiful juga tetap mempertahankan keahlian dan teknik tradisional. Seolah melawan arus modernisasi, alat-alat yang dipakainya membuat perhiasan benar-benar mengandalkan keterampilan tangan.
”Semuanya dikerjakan secara manual,” kata bapak empat anak itu.
Untuk produk-produk seperti cincin, liontin, dan bros, tekniknya sederhana namun efektif. Bahan baku berupa butiran perak dilebur dengan kempus yang berbahan bakar bensin.
Dengan penuh ketelitian, ia mengolah bahan mentah menjadi bentuk yang pipih maupun berupa kawat berukuran mulai 1 hingga 2,6 milimeter. Prosesnya memang cukup memakan waktu. Tapi Saiful yakin pada nilai kerajinan tangan yang orisinal.
Bahkan, Saiful masih menyimpan beberapa foto hasil buah tangannya. Baginya, semua itu memiliki kebanggaan tersendiri. ”Ada rasa kepuasan tersendiri. Beda dengan buatan mesin,” katanya menunjukkan beragam gambar perhiasan buatannya yang terpampang dalam kalender tahun 2013.
Saiful pun memilih bertahan sampai sekuat mungkin. Karena dia yakin, kerajinan perak masih tetap akan eksis sampai kapanpun. (fun)
Editor : Abdul Wahid