Perjalanan Ngatima menjadi calon jemaah haji (CJH) tidaklah instan. Warga Jalan Pahlawan II, Blok Gul-Gulan, Desa/Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, itu mengumpulkan uang bertahun-tahun. Bahkan, dia sampai lupa kapan tepatnya mulai menabung.
“Sejak remaja rajin bekerja. Memang didikan dari orang tua. Kan mereka dari Madura. Diajarkan kalau merantau harus giat bekerja,” tuturnya.
Beragam jenis pekerjaan dia lakoni, asal halal. Salah satunya, berdagang buah seperti alpukat. Buah itu dibelinya dari Tiris.
Kemudian ia jual ke Surabaya hingga Jakarta dengan naik truk. Bagitu dagangan habis, Ngatima pulang naik bus.
Selain berjualan, ia juga menjadi buruh tani dan tukang urut. Sehari-hari ia membantu menanam padi bersama lima tetangganya.
Ia menanam padi di salah satu sawah di dekat rumahnya. Sehari Ngatima diberi upah Rp 30 ribu dari menjadi buruh tani tersebut.
“Kalau memijat, sehari saya bisa memijat tiga orang dewasa. Kalau anak-anak bisa sampai lima anak. Tapi, saya tidak pernah mematok harga, seikhlasnya saja. Bahkan, meski malam kalau ada yang minta tolong dipijat karena sakit, saya bantu,” jelasnya.
Memang, tak setiap hari ia bisa menyisihkan uang dari kerja kerasnya itu. Sebab, uang tersebut juga digunakan untuk menghidupi dirinya dan keluarga sehari-hari.
“Kalau ada uang, ditabung. Kalau pas tidak ada, ya dak nabung. Sehari kadang menyisihkan Rp 20 ribu, kadang Rp 50 ribu, tidak tentu. Ya disyukuri saja,” katanya.
Uang-uang tersebut Ngatima simpan. Bukan di bank, melainkan di kantong kresek hitam. Maklum, Ngatima tergolong generasi ‘kuno’ yang lebih suka menyimpan uang di kantong plastik.
Kantong itu lantas diselipkan di sela-sela tumpukan baju di rumahnya. Tak lupa ia juga menyertakan seutas rambutnya, cabai merah, dan bawang putih di dalam bungkusan uang tersebut.
“Ini kepercayaan kami, khawatir diambil tuyul. Selain itu, juga diberi kapur sedikit, agar uangnya tidak dimakan rayap,” ungkapnya tersenyum.
Namun, saat itu Ngatima belum berniat pergi haji. Dia terpanggil untuk berhaji saat berkunjung ke salah satu rumah tetangganya yang baru pulang haji. Sepulangnya dari sana, ia diberi cenderamata berupa kerudung.
“Saat itulah saya juga ingin naik haji. Mungkin dapat barokah dari sana. Awalnya juga ingin umrah, tapi keterbatasan dana. Jadi memilih langsung haji saja,” kata Ngatima.
Ngatima pun langsung menyampaikan keinginan itu pada anaknya. Semula anaknya sempat ragu. Sebab, biaya naik haji mahal. Sementara Ngatima hanya bekerja sebagai buruh.
“Ya saya hanya mengatakan Bismillah. Bila ada niatan baik, Insyaallah nanti ada jalan dari Allah,” katanya.
Dan keyakinan Ngatima terbukti. Di usia 94 tahun pada tahun 2018, dia berhasil mengumpulkan uang Rp 26 juta. Uang itu lantas dipakai untuk biaya mendaftar haji setelah lebih dulu ditambahi Rp 4 juta. Sehingga genap Rp 30 juta.
“Saya mendaftar haji dibantu cucu saya. Katanya untuk berangkat harus menunggu selama 6 tahun,” katanya.
Selama 6 tahun, Ngatima terus mengumpulkan kekurangan biaya hajinya yaitu sekitar Rp 30,5 juta. Dia juga rajin salat tahajud. Sembari juga mengurus sejumlah kebutuhan dokumen seperti pasport yang ia urus secara pribadi bersama keluarga.
Setiap salat malam, menurutnya, dia selalu berdoa agar diberi sehat, rezeki halal dan barokah, dikabulkan segala hajat, dan selalu dalam lindungan-Nya.
“Perbanyak salawat dan istigfar. Kadang juga nyabis ke makam para wali, ke pondok pesantren, atau ke kiai-kiai. Berdoa, minta barokah. Alhamdulillah, saya juga tidak habis pikir. Rasanya seperti ada saja rezeki dan bisa terlunasi. Jadi saya bisa berangkat tahun ini,” tutur Ngatima.
Tahun ini Ngatima akan berangkat haji. Dia naik haji di usia 100 tahun dan menjadi jemaah haji tertua di Kabupayen Probolinggo.
Dia juga telah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Mulai dari doa-doa haji, perlengkapan haji seperti koper, ihram, seragam, tas, slayer, obat-obatan, hingga uang saku ketika di Makkah nanti.
Bahkan, ketika ditawarkan untuk menggunakan kursi roda, ia menolak. Ia ingin berjalan kaki agar lebih nikmat.
“Bawa uang secukupnya. Kan ke sana bukan berniat tamasya tapi ibadah. Sekadar uang pegangan saja,” tuturnya.
Untuk obat-obatan, Ngatima juga membawa obat seperlunya. Seperti obat nyeri, pusing, mual, hingga diare. Tujuannya bukan berharap sakit, tapi jaga-jaga bila dibutuhkan orang lain.
Meski sudah berusia 100 tahun, Ngatima berangkat sendiri. Tidak ada keluarga yang menemani. Keluarganya menitipkan dia ke para jemaah lain di kloter 33. Bahkan, bila hendak menghubungi keluarga, ketua kloter 33 bersedia memfasilitasi telepon ketika di Makkah nanti.
“Keluarga sudah menitipkan saya. Kalau mau telepon juga bisa pakai handphone milik ketua rombongan. Nanti diganti biaya pulsanya. Dia bersedia katanya,” jelas Ngatima.
Kini Ngatima tidak sabar berangkat berhaji. Di sana Ngatima bahkan sudah berangan-angan akan berdoa yang baik-baik. Dai berencana memanjatkan sejumlah doa bagi sanak familinya.
“Tidak boleh berdoa yang buruk-buruk. Saya berdoa semoga mereka selalu sehat, dalam lindungan Allah, dilancarkan rezekinya, diampuni semua dosanya, dan diangkat derajatnya oleh Allah. Semoga mereka suatu saat bisa berhaji juga,” tuturnya.
Baginya, dunia ini hanya sementara. Harta juga hanya titipan. Sehingga, yang perlu disiapkan adalah selamat dunia akhirat. (hn)
Editor : Achmad Syaifudin