Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Penyanyi Dangdut Kawakan Jhonny Iskandar Meninggal Dunia, Ini Kenangannya saat Mondok di Ponpes Genggong

Muhammad Fahmi • Sabtu, 11 Mei 2024 | 05:37 WIB
Jhonny Iskandar semasa hidup.
Jhonny Iskandar semasa hidup.

DUNIA hiburan tanah air berduka. Penyanyi dangdut kawakan Jhonny Iskandar meninggal dunia, Jumat (10/5). Penyanyi kondang dengan hits Bukan Pengemis Cinta itu mengembuskan napas terakhir dalam usia 64 tahun.

Kabar duka tersebut dibenarkan pihak keluarga. "Iya benar meninggal tadi pukul 08.30 WIB," ujar Dewi, keponakan Jhonny Iskandar, saat dikonfirmasi, Jumat (10/5).

Kabar meninggalnya Jhonny Iskandar juga disampaikan oleh grup musik Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) melalui media sosial.

"Innalillahi wainnaillaii rojiun. Telah meninggal dunia teman/ sahabat/kakak/om kami tercinta Jhoni Iskandar bin Muhammad Said pada Jumat, 10 Mei 2024, pukul 09.00," tulis akun Instagram resmi @Om_pmr77, pagi ini.

Penyebab meninggal Jhonny Iskandar saat ini belum diumumkan oleh pihak keluarga.

Lebih lanjut, OM PMR menyebut bahwa Jhonny menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Cikaret.

Penyanyi Jhonny Iskandar populer sebagai penyanyi di era 80-an dan 90-an. Beberapa lagu yang populer antara lain Bukan Pengemis Cinta, Judul-judulan, hingga Ada Gak Ada.

Santri Genggong

Gayangnya sangat khas, dengan rambut panjang terurai yang agak berombak dan kacamata tebal yang diberi rantai. Suaranya juga mudah dikenali, cengkok melayu khas penyanyi dangdut nan melengking.

Dibalik sosoknya yang sangar dengan rambut gondrongnya, Jhonny ternyata seorang santri tulen.

Sebagian masa mudanya dihabiskan di pesantren. Pria kelahiran 1960 silam itu tercatat pernah mondok di Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo pada tahun 1973-1977.

Meski hanya 4 tahun, namun bagi Jhonny pengalaman di pesantren itu merupakan salah satu kenangan yang tidak terlupakan.

“Mondok di Genggong banyak kenangan yang masih lekat di ingatan saya. Misalnya kalau sedang baca burdah (syair tentang pujian atau sholawat kepada Nabi Muhammad SAW), pokoknya yang paling ramai itu karena bacaan burdah saya dangdutan,” katanya kepada NU Online ketika ditemui di sela-sela sowan ke Pesantren Zaha Genggong, beberapa waktu lalu.

Pria asli pulau Masalembu, Madura ini mengaku memilih nyantri di Genggong karena kebiasaan masyarakat di tempat asalnya. Rata-rata tetangga seusianya banyak yang mondok di Pesantren Zaha Genggong.

Sejak nyantri itulah, bakat musih Jhonny kian terasah. “Dulu semasa kecil, setiap ke pasar saya sering diajak. Kalau di pasar saya disuruh nyanyi. Pulang dari pasar, saya dapat banyak oleh-oleh karena nyanyian saya,” kenangnya.

Bukan hanya menyanyi lagu dangdut, Jhonny juga memiliki kemampuan menjadi seorang qori’.

Kemampuan itu makin terasah di Genggong. Bahkan ia juga diberi amanat untuk mengajar Qiroatul Qur’an kepada para santri.

Selama di Genggong, kemampuan vokal Jhonny juga disalurkan dengan menjadi vokalis grup zafin bernama Hijir Marawis Genggong. Jhonny masih ingat nama-nama personel di grup tersebut.

Selama mondok, grup zafin ini banyak diundang manggung di berbagai tempat. Grup ini pun dikenal masyarakat penikmat lagu padang pasir masa itu.

Bersamaan dengan itu, aktivitasnya mengajar qira’ah, bersekolah dan mendampingi almarhum al-arif billah KH Hasan Saifourridzall, pengasuh ketiga Pesantren Zaha Genggong, sama-sama berjalan.

Salah satu momen yang tidak bisa dilupakan Jhonny dari nyantri di Genggong adalah saat ia dibaiat oleh KH. Ahmad Taufik Hidayatullah, salah satu pengasuh pesantren.

Karenanya, ijazah itu terus diamalkan oleh Jhonny. Pada tahun 1977, ia menyelesaikan masa mondoknya.

Ia lantas ikut orang tuanya yang dipindah tugaskan perusahaannya Continental Oil Company (Conoco) ke Jakarta.

Sambil sekolah SMA, kemampuan vokal terus ia kembangkan. Caranya, dengan membentuk grup musik beranggotakan 6 personil termasuk Jhonny sendiri.

Grup itupun sering manggung, bahkan ikut lomba. Baik secara grup maupun individu, Jhonny selalu merebut juara lomba musik itu. Karirnya mulai menemukan jalan, Jhonny makin terkenal saja sebagai pedangdut.

Secara tidak sengaja, Jhonny mempunyai tetangga yang bekerja sebagai penyiar radio Prambors yang terkenal di Jakarta saat itu. Ia lantas diminta menjadi penyiar, sekaligus menyanyi di radionya.

Jhonny pun minta grupnya juga dilibatkan. Permintaannya pun disetujui. Meski terkesan asal-asalan, bukan berarti konsep lagu yang diusung diciptakan sekenanya.

Sebab, personel grup musiknya mempunyai konsep lagu yang kaya. Hanya saja pilihan lagu yang dibawakan, harus berbeda dengan grup musik lain.

Jenis musik kreatif. Konsepnya di tengah-tengah musik dangdut dan top. Hal itu diambil lantaran harus sesuaikan dengan cita rasa pendengar musik saat itu. Musik itu pun disambut dengan baik oleh pasar.

Tidak ingin sia-sia nyantri, ia juga membuat album untuk Pesantren Zaha Genggong.

Sebagian lagu diciptakan KH. Hasan Saifourridzall, sebagian lagi oleh Jhonny yang sekaligus sebagai vokalisnya. Dibagian akhir album yang terbit pada tahun 1980 itu, ada do’a khusus yang dibaca Kiai Hasan Saifourridzall.

Selain itu, Jhonny juga menjadi pengurus inti Ikatan Alumni dan Santri Pesantren Zainul Hasan (Tanaszaha) di Jakarta.

 

Editor : Muhammad Fahmi
#madura #jhonny iskandar #genggong #zaha genggong #dangdut #santri #ponpes genggong #probolinggo