Meski menjadi polemik, nyatanya Warung Madura sangat membantu keberadaan UMKM. Tidak sedikit, masyarakat Kota Pasuruan yang menitipkan hasil dagangannya.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
Tak berbeda jauh dengan di Probolinggo, keberadaan warung Madura di Kota Pasuruan juga menjamur.
Tidak jarang bahkan letaknya bersebelahan atau saling berhadapan. Bahkan ada yang jaraknya dekat dengan toko modern. Mereka tentu buka 24 jam.
Agar mudah dikenali, biasanya mereka selalu menambahkan kata Madura pada nama toko mereka.
Hingga tulisan buka nonstop di spanduk depan toko. Mirip dengan toko kelontong, mereka menjual kebutuhan sehari hari.
Mulai dari sembako, seperti beras, telur hingga minyak goreng. Atau kebutuhan rumah tangga lainnya, seperti sabun cuci, sabun mandi hingga pasta gigi. Beberapa warung Madura di Pasuruan juga dititipi produk UMKM.
Salah satu penjualnya, Hadi, 30, asal Bangkalan. Sudah setahun terakhir ini, ia membuka warung Madura.
Sebelumnya, ia sempat merantau bekerja buruh dan tukang di Jakarta, Bali hingga Kalimantan.
“Penghasilan yang saya peroleh selama hampir 10 tahun bekerja di sana, dikumpulkan. Dan saya jadikan modal membuka warung madura,” katanya.
Warung Madura miliknya menjual berbagai kebutuhan sehari hari. Namun yang paling banyak laku adalah rokok, beras dan telur. Ia menjaga warung miliknya bergantian dengan istri dan adiknya.
Namun, warungnya yang terletak di Jalan Sultan Agung, Purworejo juga menerima titipan produk UMKM setempat. Ia menjual minuman sinom. Biasanya, pembayaran dilakukan seminggu sekali.
Bagi UMKM yang ingin menitipkan produknya di warung miliknya, tidak ada persyarat khusus.
Namun tentunya produk yang tidak mudah basi. Untuk produk yang tidak tahan berhari hari, tidak diterima.
“Kayak sinom yang walau dijual sampai berminggu-minggu kan tidak masalah. Tidak berubah rasa. Paling saya ambil untung Rp 1.000-2.000 saja,” jelas Hadi.
Berkat kegigihannya, kini ia memiliki empat warung Madura. Selain di Jalan Sultan Agung, ia juga membuka di Jalan Wahidin, Jalan Diponegoro hingga Jalan raya Ngopak.
Tiga warung miliknya ini dijaga bergantian oleh saudara dan kerabatnya. Untuk memudahkan warga mengenal, ia menamakan warung miliknya dengan nama sama.
Ciri khas warung Madura miliknya, di bagian belakang nama warungnya diberi angka sesuai urutan yang pertama dibuka.
“Warung lainnya juga menerima produk UMKM titipan warga sekitar. Hasilnya lumayan. Bisa lebih enam juta di satu warung dalam sebulan,” jelasnya.
Fatimah, pemilik warung Madura lainnya di Jalan Wahidin, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo juga sama.
Katanya, warung miliknya menjual segala kebutuhan rumah tangga. Namun, memang paling banyak dibeli adalah rokok.
“Mungkin karena lokasi warung saya dekat dengan rumah sakit. Banyak bapak bapak yang jaga keluarganya yang dirawat beli rokok di sini,” jelasnya.
Sama seperti warung Madura milik Hadi, warung miliknya juga menerima produk UMKM.
Ia menerima titipan minuman sinom hingga sirup. Niatnya memang ingin membantu melariskan dagangan masyarakat.
Ia juga tidak memiliki ketentuan bagi masyarakat yang ingin menitipkan produknya di warung miliknya.
Cuma, ia selalu bilang, pembayaran diberikan setelah produknya sudah laku terjual.
Katanya, dagangan yang dijual di tokonya tidak kalah lengkap dengan toko modern. Namun, jika dibandingkan supermarket, jelas lebih murah. Karena ia menggunakan harga grosir.
“Kadang baru seminggu, saya beri uangnya, ada juga yang dua minggu. Tergantung kesepakatan dengan mereka,” tuturnya. (fun)
Editor : Jawanto Arifin