PARA petani kopi yang tersebar di Kabupaten Pasuruan-Kota Batu, berhasil bangkit. Bahkan, kini mampu memproduksi sendiri dan mengekspornya sampai luar negeri. Menembus pasar Asia-Eropa.
Lama menjadi “budak” tengkulak, sejumlah petani kopi di Kabupaten Pasuruan-Kota Batu, berusaha bangkit. Mereka tak mau hasil panen kopinya dihargai murah oleh tengkulak. Mereka tahu, kualitas kopinya bisa diandalkan.
Dari keresahan ini, lahirlah Kelompok Tani (Poktan) Mitra Karya Tani. Poktan ini berdiri sejak 2009 dan berkantor di Lingkungan Palembon, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Awalnya, hanya beranggotakan 10 orang, kini telah mencapai 22 orang.
Tak hanya warga Prigen, mereka berasal dari Kecamatan Purwodadi, bahkan ada yang dari Canggar, Kota Batu. “Awal berdiri berangkat dari keresahan petani kopi. Saat panen dibeli murah oleh tengkulak. Akhirnya, timbul inisiatif mendirikan kelompok tani ini,” ujar Ketua Poktan Mitra Karya Tani, Widi Prayitno, 50.
Melalui poktan ini, mereka terus berpikir untuk terus meningkatkan kualitas dan nilai jual kopinya. Karena, bila dijula mentah, harganya murah. Mereka pun mulai berpikir untuk mengolah sendiri sebagian kopinya hingga siap disajkan. “Semuanya untuk meningkatkan ekonomi para petani kopi dan anggota poktan,” katanya.
Para anggotanya juga terus memperkaya pengalaman. Serta, melakukan terobosan. Salah satunya membentuk kelompok usaha bersama dan mempelajari ilmu pertanian hulu kopi. Mereka juga mengikuti Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) bekerja sama dengan Perhutani untuk pengendalian hutan.
Termasuk menerapkan dan mengajar ilmu pertanian kopi kepada petani kopi di kebun. Lalu, mempelajari olahan pascapanen.
“Mulai 2012, kami memproduksi produk olahan kopi dengan merk Kopi Ledug. Produksi kopi luwak, robusta, dan arabika. Penamaan Kopi Ledug, karena berawal dari kebun kopi di Ledug. Sebagian besar bahan bakunya dari sana,” jelasnya.
Ternyata, hasil produksi kopi pokta ini mendapatkan sambutan luar biasa di pasaran. Banyak diminati masyarakat. Khususnya pecinta kopi. Karena ada cita rasa khas dan unik. “Dampak uap sulfur dari Gunung Welirang,” katanya.
Awalnya, hasil produksinya kopi olahan itu hanya merambah pasar lokal. Dari kafe ke kafe di sekitar Pasuruan, Malang, Surabaya, dan Sidoarjo. Syukur, semakin tahun terus berkembang.
Mulai 2015, pemasarannya mulai masuk luar pulau. Seperti ke Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Bali. Memasuki 2018, mulai ekspor ke sejumlah negara. Di antaranya, ke Singapura, Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan, Arab Saudi. “Hingga Jerman, Belanda, dan lain-lain,” kata Widi.
Dengan cita rasa maksimal, harga kopi yang dipatok poktan ini cukup terjangkau. Per 200 gram kopi luwak hanya dihargai Rp 240 ribu. Kopi arabica jauh lebi murah, hanya Rp 55 ribu dan robusta Rp 30 ribu. “Bahan bakunya langsung dari petani, tanpa melalui tangan kedua dan ketiga,” katanya.
Kopi yang diekspor, kata Widi, jenis kopi luwak. Menurutnya, kualitas cita rasa kopi luwak dari Indonesia lebih baik dari negara-negara lain. Sedangkan, robusta dan arabika lebih banyak kebutuhan kafe-kafe di dalam negeri.
Ekspor dilakukan sebulan sekali. Sasarannya cafe-cafe sesuai permintaan atau kebutuhan. “Satu cafe bisa 10-50 kilogram perbulannya kopi luwak,” ucap Widi.
Ia memastikan, poktan terus berusaha menjaga kualitas produksi kopinya. Demi mejaga cita rasa unik dan has, diproses secara alami dan organik. Kebersihannya dijaga dan didesain dengan kemasan modern.
“Kami ada SOP-nya, dalam menjaga kualitas produksi. Kopinya petik merah, penjemuran alami sampai dengan 12 persen untuk kadar airnya. Juga fermentasi alami, alat produksinya pakai mesin roasting double jacket,” terangnya.
Dalam perjalannya, juga berkerja sama kemitraan dengan PT HM Sampoerna, BI Cabang Malang, Kadin. Serta, sejumlah organisasi perangkat daerah di tingkat kabupaten dan provinsi.
“Tidak hanya produksi kopi olahan saja, kami juga sekaligus sebagai trainer kopi. Mulai dari budi daya, olahan pascapanen, dan marketing,” ujar bagian gudang dan packing, Sujiati, 47.
Sukses, Poktan Mitra Karya Tani, tidak pelit ilmu. Mereka melayani wisata edukasi. Sasaran sejumlah perusahaan, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah. Rupanya, banyak yang tertarik. Banyak yang datang untuk belajar. Bahkan, dari luar luar Jawa. Seperti, Sumatera dan Nusa Tenggara Timur.
Sejumlah prestasi pun diraih. Mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional. Di antaranya kompetisi roasting, specialty kopi, juga cita rasa.
Mereka juga aktif mengikuti kegiatan pameran. Tak hanya di dalam negeri, mereka juga tampil di Cina, Arab Saudi, Maroko, Roma, dan Italia. “Pada 2019 lalu di Arab Saudi, undangan atase perdagangan RI di Arab Saudi mengikuti festival roasting kopi berhasil juara tiga,” imbuhnya.
Poktan Mitra Karya Tani, juga bergerak direvolusi hijau Tretes. Untuk pelestarian hutan di lereng Gunung Welirang. Kegiatannya tanam pohon tegakkan sepekan sekali, setiap Senin. Sasarannya di sumber-sumber mata air. “Ini kami lakukan bagian dari kepedulian menjaga alam, termasuk hutan,” kata Widi. (rizal fahmi syatori/rud)
Editor : Ronald Fernando