Tidak banyak PNS yang bekerja di satu bidang dalam waktu yang lama. Di Kota Pasuruan, ada Samsul Arifin, 51 dan Abdul Basid, 50. Kedua PNS ini sudah 24 tahun mengabdi di Dinas Perhubungan (Dishub).
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
Dua pria berseragam tampak berjalan melintasi kawasan Alun-alun Kota Pasuruan. Pandangan mereka begitu serius memperhatikan sejumlah kendaraan yang keluar masuk dari areal parkir pinggir jalan.
Dengan sigap keduanya mendatangi salah satu titik parkir yang terletak di dekat Kantor Pos Pasuruan.
Mereka melihat aktivitas penarikan retribusi. Usai cukup lama melihat di titik itu, mereka berpindah ke lokasi lainnya.
Begitulah keseharian Samsul Arifin dan Abdul Basid. Ya, kedua PNS Pemkot Pasuruan ini sehari harinya berdinas sebagai pengawas juru parkir (jukir). Tugas ini sudah diemban keduanya selama 10 tahun.
Samsul Arifin mengungkapkan ia menjadi pegawai Dishub sejak 2000. Sama seperti Abdul Basid. Bersama 22 orang lainnya, keduanya menjadi penjaga keamanan di Terminal Blandongan.
Sebelumnya, ia bekerja ikut proyek di Kota Surabaya. namun saat dapat tawaran sebagai petugas keamanan oleh Dishub, ia langsung mengiyakan. Dan memilih berhenti dari pekerjaannya.
“Saat itu dalam benak saya, gaji yang saya terima sebagai petugas keamanan itu tinggi. Karena dipekerjakan oleh pemerintah,” ungkapnya.
Namun, hal ini hanyalah angan. Dia masih ingat, saat itu hanya dibayar Rp 125 ribu per bulan.
Karena saat itu, ia belum dapat SK kontrak dari Pemkot, maka gajinya selama berbulan-bulan sempat ditahan dan tidak diberikan.
Gara gara hal ini, ia pun sempat harus memulangkan istrinya ke rumah mertuanya. Seraya sesekali menjenguk.
Alasannya, dengan tidak memiliki penghasilan tetap, ia kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Selama 10 bulan tidak dibayar karena katanya SK Kontrak belum turun. memang sambil kerja serabutan, tapi penghasilan sedikit,” jelas Samsul.
Hal senada juga dialami oleh Abdul Basid. Katanya, ia sempat bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik kayu di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.
Begitu mendapat tawaran untuk jadi pegawai, dia langsung ia mengambil karena berpikir dapat honor besar.
Sama seperti Samsul Arifin, ia sempat tidak digaji selama 10 bulan. Banyak petugas keamanan lain yang langsung mengundurkan diri karena tidak kuat.
Sementara ia memilih bertahan karena sudah tidak punya pekerjaan.
“Saya sambil jaga pontren. Namun karena honor sedikit, istri saya titipkan dahulu ke mertua. Untungnya istri dan mertua saya menerima,” tuturnya.
Mereka bekerja sebagai petugas keamanan di Terminal Baru itu hingga 2014. Sekitar 2008, mereka bisa tersenyum semringah. Saat itu ada program dari pusat yang langsung menjadikan tenaga honorer yang sudah lama mengabdi, sebagai PNS.
Pada 2014, keduanya pindah ke pelayanan parkir. Mereka pun sempat merasakan mekanisme parkir yang berubah-ubah. Awalnya sempat parkir berlangganan dengan karcis, lalu tanpa karcis hingga saat ini tepi jalan dengan kerja sama pihak ketiga.
Jika disinggung soal tugasnya saat ini, keduanya sepakat memang ada perbedaam.
Saat sistem masih parkir berlangganan, mereka mengaku bisa menegur bila menemui jukir nakal. Setelah parkir berlangganan dihapus dan dikelola pihak ketiga, kini mereka hanya bisa memberi tahu kepada pihak ketiga.
Apakah betah di satu dinas? “Alhamdulillah sama sama kerasan. Baik saat menjadi petugas keamanan di terminal maupun jadi pengawas parkir,” jelas Basid.
Diakui oleh Samsul, ia punya pengalaman yang kurang menyenangkan saat berjaga di Terminal Baru.
Karena ada aturan bus harus masuk terminal, ia sering terlibat cekcok dengan pengemudi bus.
“Pernah suatu waktu, saya hampir ditabrak oleh bus dari arah Probolinggo. Karena mereka tidak mau disuruh masuk karena sepi penumpang,” tutur Samsul.
Pengalaman kurang menyenangkan juga dialami oleh Abdul Basid. Ia pernah didatangi oleh pengemudi bus bersama beberapa rekannya. Mereka tidak diterima karena dipaksa harus masuk ke dalam terminal.
“Untungnya waktu itu, dilerai oleh tukang becak dan warga di sana. Jadi tidak sampai adu jotos,” terang Basid.
Baik Basid maupun Samsul menyebut, mereka tidak memiliki angan bisa pindah ke dinas di luar Dishub.
Dengan usia pensiun yang sama sama kurang dari 10 tahun, mengakhiri masa dinas di Dishub adalah pengabdian terbaik yang bisa mereka lakukan.
“Sudah 24 tahun mengabdi di Dishub. Harapannya bisa mengakhiri masa tugas sebagai PNS di Dishub,” tutur Samsul yang diamini oleh Basid. (fun)
Editor : Jawanto Arifin