Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Shirena Amora Asyari, Pembalap Cilik Perempuan Asal Probolinggo Ini Tak Canggung Lawan Pembalap Lelaki

Arif Mashudi • Senin, 22 April 2024 | 17:10 WIB
BERNYALI: Shirena Amora Asyari, menunggang motor yang sering digunakannya ketika balapan.
BERNYALI: Shirena Amora Asyari, menunggang motor yang sering digunakannya ketika balapan.

SHIRENA Amora Asyari menjadi satu-satunya atlet balap motor perempuan dari Probolinggo. Jiwa balap putri seorang mekanik motor ini tumbuh sejak kecil. Sejumlah kejuaraan tingkat daerah hingga nasional telah diikuti. Ia pun sering berhasil membawa piala prestasi.

Di teras sebuah rumah di Jalan Bengawan Solo, RT 1/RW 3, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, terparkir motor pink. Motor ini tak biasa. Berbeda dengan motor kebanyakan. Sudah jauh dari standar pabrik.

 

 

Rupanya, motor merah muda ini yang selama ini sering digunakan Amora ketika turun ke lintasan. Kala itu, motor “balap” ini tengah proses ganti ban belakang. Di sana sejumlah peralatan bengkel motor juga tertata di tepi teras rumah.

Di rumah inilah Amora tinggal bersama kedua orang tuanya. Ayahnya, Muhammad Hendrik Asyari, yang seorang mekanik juga menjadikan rumahnya sebagai tempat bekerja. Bahkan, kala itu Hendrik tengah memperbaiki motor Kawasaki Ninja milik pelanggannya.

Di ruang tamu rumah Amora, ada almari kaca yang dipenuhi boneka. Di ruangan ini juga terdapat meja yang di atasnya tertata sejumlah piala kejuaran balap motor. Sejumlah piala ini berhasil diraih Amora dari sejumlah kejuaraan balap motor.

BERNYALI: Shirena Amora Asyari, menunggang motor yang sering digunakannya ketika balapan.
BERNYALI: Shirena Amora Asyari, menunggang motor yang sering digunakannya ketika balapan.

Meski usianya baru 12 tahun, Amora sudah banyak meraih prestasi dalam ajang balap motor. “Karena Amora memang balapan mulai sejak kecil. Kejuaraan miniGP,” ujar Hendrik sambil persilakan Jawa Pos Radar Bromo melihat langsung piala-piala tersebut.

Dari sejumlah piala, dua di antaranya diperoleh dari kejuaraan tingkat Jawa Timur. Yakni, Road Race and Supermoto Open Championship Jatim Tahun 2023 di Malang. Ia turun di kelas Bebek 4 Tak 150cc ECU STD Beginner. Serta, Kapolres Cup Road Race Kejurprov Jatim 2023 di Kota Probolinggo. Amora turun di kelas yang sama, Bebek 4 Tak 150cc ECU STD Beginner.

Amora mengaku tertarik dengan dunia balap motor karena sejak kecil sering diajak ayahnya menyaksikan balapan motor. Kebetulan, ayahnya seorang mekanik motor balap yang sering mengikuti event balapan. “Balap motor saya lihat seru. Jadi, saya minta untuk belajar,” ujar bocah kelas VI SDN Kedopok 1 ini.

 

Baca Juga: Helen Celia Thermalista yang Rela Pulang-Pergi Solo-Pasuruan demi Mengajar Tari

 

Sejak kelas I SD, Amora sudah belajar menunggangi motor dan balapan. Awalnya, belajar motor mini 50cc. Menginjak kelas II SD, Amora mulai berani turun lintasan untuk menguji kemampuannya. Mengikuti balap miniGP Kejurprov di Sidoarjo. “Awal ikut tanding dalam kejuaran, belum dapat prestasi,” kata Hendrik.

BERNYALI: Shirena Amora Asyari, menunggang motor yang sering digunakannya ketika balapan.
BERNYALI: Shirena Amora Asyari, menunggang motor yang sering digunakannya ketika balapan.

Belum berhasil keluar sebagai juara, tak membuat Amora menyerah. Semangatnya terus membara dan makin rajin berlatih. Meski saat itu, latihannya di lapangan dengan kondisi jalan paving, bukan aspal.

“Alhamdulillah, sekarang sudah bisa latihan di jalan aspal di GOR Mastrip. Kalau dulu latihannya di garasi AKAS, bukan aspal, tapi jalan paving. Cengkramannya tidak kuat kalau jalan paving, beda dengan jalan aspal,” jelasnya.

Melihat putrinya menekuni olahraga yang cukup ekstrem, Hendrik mengatakan, awalnya waswas. Terutama ketika melihat buah hatinya bertanding. Adu kecepatan motor. Apalagi, putrinya satu-satunya pembalap perempuan di Probolinggo.

“Kalau saat tanding itu, pembalap yang jadi lawan laki-laki semua. Tapi, Alhamdulillah Amora tetap bisa bersaing dan sering naik podium,” ujarnya, bangga.

 

 

Banyak prestasi yang telah diraih Amora. Ia juga masih terus mengasah bakatnya. Bocah kelahiran Probolinggo, 3 November 2011 ini mengaku, tidak pernah minder atau takut ketika menunggang motor dan balapan. Meski lawannya tidak ada yang perempuan.

“Tidak pernah takut. Lawannya siapa saja, meski saya perempuan, tetap fokus balapan,” imbuh bocah yang mengaku bercita-cita menjadi polisi wanita ini.

Sejatinya, Kota Probolinggo memiliki banyak potensi pembalap-pembalap lokal. Mendapati itu, Ketua Bidang Roda Dua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Probolinggo Mohammad Sofi Vidianto berharap nantinya ada sirkuit permanen di Kota Probolinggo.

“Kami berharap balap road race masuk cabor KONI Kota Probolinggo. Supaya ada pembibitan dan pembinaan pembalap lokal di Kota Probolinggo,” katanya. (arif mashudi/rud)

Editor : Ronald Fernando
#motor #pembalap perempuan #pembalap #balap #pembalap cilik