Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Advokat Asal Sukapura, Kabupaten Probolinggo ini Gunakan Dua Karakter Suaranya untuk Edukasi Anak-anak, Begini Caranya

Arif Mashudi • Selasa, 2 April 2024 | 16:00 WIB
MENDONGENG: Faizatul Laily, 28, saat mendongeng dengan menggunakan boneka puppet miliknya.
MENDONGENG: Faizatul Laily, 28, saat mendongeng dengan menggunakan boneka puppet miliknya.

Faizatul Laily, 28, selama ini lebih dikenal sebagai seorang advokat. Namun, perempuan yang tinggal di Jalan Bromo, Desa/Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo juga sering membantu orang tuanya mengasuh Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Sukapura. 

Biasanya, Lely–panggilannya–membantu mengisi acara pengajian anak-anak di rumahnya. 

”Biasanya saya cuma bantu mengisi acara bersama anak-anak yang mengaji. Mengisi pengajian dengan bercerita,” katanya.

Saat itulah Lely baru menyadari ternyata dia memiliki dua suara dengan karakter berbeda atau ventriloquist. 

Dia bisa berbicara dengan suara aslinya sebagai orang dewasa. Namun, juga bisa berbicara dengan suara seperti anak kecil. 

Itu terjadi pada tahun 2022. Sejak saat itu, Lely belajar lebih dalam tentang ventriloquist dan menggunakan boneka puppet sebagai medianya. 

”Saya kemudian mulai belajar ventriloquist. Jadi saya yang berbicara, tapi kelihatan seakan-akan bonekanya yang berbicara. Karena itu, orang lain mengira saya benar-benar sedang ngobrol sama boneka. Dan bonekanya bisa berbicara,” katanya.

Sejak saat itu pula, Lely sering diminta tampil mengisi acara anak-anak. Mulai pengajian, ulang tahun, atau perpisahan sekolah. 

Tentu saja, yang menjadi daya tarik bagi anak-anak adalah dongeng yang ditampilkannya dengan media boneka puppet. 

Lely sendiri selalu berusaha tampil maksimal. Sehingga, mereka yang menyaksikan benar-benar merasa boneka yang dibawanya bisa bicara. 

”Untuk menambah semangat anak-anak yang hadir, saya selalu memberikan door prize atau hadiah. Biasanya, saya ngajukan pertanyaan. Lalu yang bisa jawab saya beri hadiah. Meski hadiahnya cuma cokelat, itu membuat anak-anak lebih senang dan bersemangat,” terang kelahiran Probolinggo, 22 Oktober 1996 itu. 

Istri dari Mochamad Yulianto itu mengungkapkan, anak-anak saat ini lebih cepat merasa jenuh saat mendengarkan ceramah atau kegiatan sejenis. 

Tetapi, respons aktif akan muncul saat edukasi dilakukan dengan cara menarik. Salah satunya, storytelling dengan media boneka puppet. 

”Dengan cara berdongeng menggunakan boneka puppet, anak-anak lebih mau mendengarkan dan cepat memahami,” ungkap lulusan S-1 Hukum Universitas Ma’arif Hasyim Latif Sidoarjo dan S-2 Hukum Universitas Sunan Giri Surabaya ini.

Sebagai advokat, Lely merasa berkewajiban memberikan edukasi pada anak-anak di sekitarnya. 

Sedikit banyak dengan mendongeng, dia dapat memberikan sumbangsih untuk perkembangan anak-anak, terutama di lingkungannya. 

”Saya tidak pernah memasang tarif untuk mengisi tiap acara. Karena saya juga melihat lingkungan sekitar. Terus niat saya juga ingin melakukan hal bermanfaat untuk mereka,” tuturnya.

Dengan profesinya sebagai advokat, diakui Lely, dia tidak hanya belajar atau membaca buku soal hukum. 

Kini dia malah banyak membaca buku dongeng dan mencari referensi dongeng-dongeng lebih luas. Terutama cerita-cerita nabi dan kenabian. 

”Saya merasakan lebih senang saat kumpul dengan anak-anak. Jadi saya nyaman dan menikmati saat tampil sebagai storyteller,” ujarnya. (mas/hn)

Editor : Achmad Syaifudin
#storytelling #kabupaten probolinggo #mendongeng #sukapura