SONGKOK atau kopiah merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia. Tidak hanya secara nasional, juga internasional.
Dalam kehidupan sehari-hari pun, songkok atau kopiah identik dengan kegiatan keagamaan dan aktivitas resmi lainnya. Hal ini membuat Abdullah Ubaid, 37, tertarik memproduksinya.
Ubaid (panggilannya) sapaan akrab Abdullah Ubaid menceritakan, produksi songkok yang saat ini dilakoninya merupakan sebuah terobosan. Sebelumnya, ia bersama istrinya Durrotun Nashihah, telah membuka usaha konfeksi. Tepatnya sekitar tahun 2019.
Saat itu, mereka bermitra dengan pabrik kain. Menjahitkan pola kain yang diterima dari pabrik, kemudian disetorkan dalam bentuk pakaian. Sayangnya, usaha tersebut tersendat karena pandemi Covid-19.
Warga Dusun Krajan, Desa Rangkang, Kecamatan Kraksaan itu pun mencari cara agar usahanya tidak gulung tikar. Hingga akhirnya pada 2020, dia memutuskan untuk memproduksi songkok.
“Kami memutuskan memproduksi songkok karena saya pikir songkok itu pasti laku,” tuturnya.
Namun, merintis usaha songkok tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, Ubaid dan istrinya tidak memiliki keahlian sama sekali membuat songkok.
Hingga akhirnya Ubaid mencari perajin songkok dari Kabupaten Lamongan, daerah asalnya. Perajin songkok ini kemudian didatangkan ke tempat produksi yang ada di Desa Rangkang.
Dia datang khusus untuk mengajari membuat songkok. Mulai dari memotong pola, membuat model, finishing, dan pemasaran.
“Kami belajar didampingi oleh perajin songkok selama seminggu. Selanjutnya, menggunakan bahan dan mesin yang ada, kami mengasah keterampilan secara otodidak. Secara bertahap hasilnya pun bagus,” bebernya.
Mampu menghasilkan songkok tidak lantas membuat Ubaid langsung memasarkannya. Selain belum memiliki target wilayah penjualan, juga belum memiliki merek.
Suatu hari saat menata songkok yang sudah jadi, tiba-tiba salah satu karyawannya bercerita tentang kota Dubai di Uni Emirat Arab.
Dari situlah ia memilih merek Dubai untuk songkoknya. Akronim dari nama istrinya, Durrotun dan namanya, Ubaid.
“Nama Dubai sebenarnya gabungan dari Durrotun Ubaid. Digabung agar mudah untuk diingat dan juga jadi identitas hasil produksi,” tandasnya.
Namun, saat itu pemasaran songkok Dubai tidak maksimal. Sebab, segala aktivitas masih terbatas akibat pandemi Covid-19.
Ubadi memilih untuk menawarkan songkok produksinya door to door. Ke sejumlah lembaga dan pesantren di sekitar Kabupaten Probolinggo.
Hal itu dilakukan sampai pandemi mereda. Setelah pandemi reda, pemasaran songkok diperluas ke lembaga dan pesantren di Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
Begitu jaringan penjualan mulai kuat, songkok Dubai mulai dipasarkan ke Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan. Di sana, songkok tersebut laku keras. Bahkan, sampai hari ini pemasaran rutin dilakukan di wilayah tersebut.
“Pemasaran kami memang memprioritaskan ke lembaga dan pesantren. Dengan sistem pemesanan lebih dulu. Cara ini dilakukan agar modal usaha yang digunakan dapat diputar. Sehingga, tidak akan memengaruhi pesanan yang lain. Meski demikian, kami juga melayani pembelian dalam jumlah satuan,” tuturnya.
Seiring dengan berkembangnya usaha yang dijalankan, songkok Dubai kini tidak hanya memproduksi songkok nasional. Ada juga songkok model Ceng Hoo dengan warna merah. Serta songkok model Malaysia yang berwarna putih.
Bukan hanya itu. Pemasaran yang dulunya dilakukan secara manual dengan mendatangi target pasar. Kini juga dilakukan secara online, sehingga target pasarnya juga menjadi lebih luas.
“Kami menyesuaikan dengan pasar. Baik model songkok, maupun sistem pemasarannya. Kalau tidak, bisa kalah bersaing. Saat ini kami juga mencoba mencari target pasar ke Brunei dan Malaysia,” imbuhnya. (ar/hn)
Editor : Jawanto Arifin