REMBANG, Radar Bromo - Geliat panen kembang sundal atau sedap malam di sekitar Desa/ Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, hari-hari ini memang belum begitu tinggi.
Memang, masa panen raya sudah tiba. Hampir bisa dipastikan, ladang yang ditanami bunga sedap malam bisa dipanen saban pekan.
”Tapi, kalau awal-awal puasa begini, harganya murah,” kata Rohim, salah satu petani bunga sedap malam di Rembang dengan nada sedikit lesu.
Mungkin, karena orang lebih butuh takjil ketimbang kembang, kata Rohim, yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi petani sedap malam.
Dugaannya tak salah. Buktinya, saban tahun di awal bulan Ramadan, permintaan sedap malam selalu anjlok. ”Harganya juga hancur,” katanya.
Bahkan, per batang terkadang hanya dihargai Rp 200. Padahal, normalnya di kisaran Rp 1.000 hingga Rp 2.000.
Tapi, Rohim tak terlalu khawatir. Bukan karena stok sedap malamnya bakal melimpah ruah selama masa panen raya. Tetapi, karena secara kebetulan, masa panen raya mendekati hari raya Idul Fitri.
”Sudah dari dulu kalau panen raya menjelang Lebaran harganya bisa mahal,” kata dia.
Tahun lalu misalnya, ia benar-benar ketiban untung. Bayangkan saja, per batang sedap malam dijual hingga Rp 5 ribu. Selama sebulan, ia mengirim sedikitnya satu truk sedap malam ke berbagai daerah.
Ia juga cukup yakin permintaan selama menjelang Lebaran tahun ini akan stabil. Satu-satunya jalan untuk menambah daya produksi yakni dengan menggandeng beberapa petani lain.
Sehingga, mereka bisa memberikan pasokan kepada Rohim untuk dijual ke luar daerah. Karena bukan hasil dari ladang sendiri, tentu keuntungannya juga tak sebanyak yang dipanen dari ladangnya.
”Kalau mengandalkan lahan sendiri, ya nggak cukup untuk memenuhi permintaan,” katanya.
Merawat bunga sedap malam bukanlah tugas yang mudah. Musuh utama adalah cuaca ekstrem. Bila angin kencang datang, bisa-bisa petani dibuat gigit jari.
Sebab, angin kencang bisa membuat batang sedap malam yang tak berbunga. Dan ujung-ujungnya, petani mengalami kerugian drastis.
”Atau bahkan kalau baru masa tanam, bisa tak tumbuh kalau sedang angin kencang,” kata Rohim.
Untungnya, cuaca buruk yang kerap melanda belakangan tak begitu berpengaruh. Sehingga, petani sedap malam bisa berharap banyak selama masa panen raya kali ini.
Lebih-lebih untuk menyuplai kebutuhan pasar mendekati hari raya. Menjelang Lebaran, permintaan bunga sedap malam memang selalu meningkat drastis.
Harga jualnya pun melambung tinggi, menghadirkan peluang keuntungan yang signifikan bagi para petani.
Rohim pun tak menyia-nyiakan momen ini. Ia bekerja sama dengan petani lain, memperluas jaringan dan meningkatkan produksi bunga.
Rohim memiliki strategi unik untuk memastikan ketersediaan bunga di hari raya. Ia menyetok sedap malam yang baru berbunga di pertengahan Ramadan.
Sedap malam itu lantas disimpan agar tetap segar hingga dijual mendekati Lebaran. Itu dilakukan untuk menyiasati kebutuhan pasar di momen tertentu yang meningkat. Seperti saat Lebaran.
”Biasanya mulai 15 Ramadan sudah nyetok. Bunga yang bermekaran dipetik lebih dulu untuk dijual. Sedangkan yang baru berbunga disetok untuk permintaan Lebaran,” katanya.
Bila dikalkulasi, permintaan khusus menjelang Lebaran bisa meningkat sampai 99 persen. Karena itu, Rohim tak mungkin hanya mengandalkan ladangnya sendiri.
Sebab lahan seluas 1 hektare hanya bisa menghasilkan sekitar 2.500 batang sedap malam per hari. Sementara permintaan yang datang, jauh lebih banyak dari itu.
”Kalau pengalaman tahun-tahun dulu, sebelum Lebaran totalnya bisa 40 ribu batang,” tutur dia. Bisa dihitung kan seberapa besar cuan yang dipanen petani sedap malam. (hn)
Editor : Achmad Syaifudin