Hari ketiga setelah bencana banjir bandang di Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, kondisi dua desa belum pulih. Material lumpur sisa banjir menumpuk di rumah-rumah warga. Kerja bakti pun terus dilakukan. Tidak hanya oleh warga sekitar. Namun juga pemerintah, relawan, hingga KONI Kabupaten Probolinggo.
Material lumpur sisa banjir menumpuk di sepanjang jalan kabupaten di Desa Kedungdalem dan Desa Dringu, Kecamatan Dringu, Senin (11/3). Tumpukan lumpur itu mulai mengeras di sisi kanan dan kiri jalan.
Sementara itu, dua unit motor petugas Dishub Kabupaten Probolinggo, diparkir tepat di pertigaan Pasar Dringu. Mereka sengaja membatasi kendaraan roda empat yang boleh melintasi Jalan Daendles dengan berjaga di pertigaan Pasar Dringu.
Baca Juga: 3.019 KK Warga Kecamatan Dringu Terdampak Banjir, 40 Orang Mengungsi
Sebab, hari itu kerja bakti sedang dilakukan di Desa Kedungdalem dan Dringu. Dua desa yang terdampak banjir bandang paling parah di Kecamatan Dringu pada Sabtu (9/3).
Karena itu, petugas membatasi kendaraan roda empat yang melintas di Jalan Daendles agar tidak mengganggu aktivitas kerja bakti.
Kondisi lebih parah terlihat saat masuk ke gang-gang jalan di Desa Dringu dan Kedungdalem. Lumpur sisa banjir menumpuk sangat tebal. Rata-rata setengah meter. Namun, banyak juga yang ketebalannya satu meter, bahkan lebih.
Hari itu, kerja bakti dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan sekrop. Semua lumpur dibersihkan, lalu diangkut menggunakan gerobak sorong.
Ada juga tumpukan lumpur yang dibersihkan menggunakan mini loader milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo. Terutama lumpur di jalanan atau gang yang bisa dilalui mini loader.
Kemudian, mini loader dengan cepat memasukkan sampah dan lumpur ke dalam truk DLH. Setidaknya, ada 3 truk DLH yang diturunkan ke Dringu untuk mengangkut sampah dan sisa lumpur banjir tersebut.
Namun, memang mini loader itu tidak bisa masuk ke rumah-rumah. Sehingga, lumpur yang menumpuk di dalam rumah warga harus dibersihkan secara manual.
Padahal, tidak sedikit rumah yang dipenuhi dengan lumpur dengan ketebalan sekitar 50 centimeter. Kondisi itu, membuat pemilik rumah kesulitan membersihkannya.
Warga kebanyakan lebih dulu membersihkan lumpur yang menumpuk. Baru kemudian menjemur barang-barang di rumah yang basah akibat banjir. Seperti pakaian, kasur dan perabot rumah.
Tidak hanya warga setempat yang bersih-bersih. Kerja bakti Senin juga melibatkan relawan dari berbagai unsur. Mulai pelajar, mahasiswa, komunitas, juga seluruh cabang olahraga (Cabor) di bawah KONI Kabupaten Probolinggo.
Mereka menyebar, turun membantu korban banjir membersihkan lumpur yang menumpuk. Baik di dalam rumah, juga di jalan kabupaten dan jalan desa.
”Senin (Minggu, red), langsung bersih-bersih rumah sebenarnya. Tapi karena yang bersih-bersih cuma keluarga, jadi lama selesainya,” kata Andre Enggar Putra, 28, warga Dusun Satreyan, Desa Kedungdalem yang terdampak banjir bandang.
Ia mengaku, lokasi rumahnya dekat dengan sungai Kedunggaleng. Sehingga, termasuk menjadi korban utama saat banjir terjadi.
Saat air mulai naik, dia dan keluarganya mengungsi. Ternyata benar, bencana banjir yang terjadi tahun ini lebih besar dibanding banjir pada awal 2021.
”Ini banjir bandang paling tinggi dibanding banjir-banjir sebelumnya yang terjadi di sini,” ujarnya.
Bahkan, rumah Andre nyaris ambruk. Dinding rumahnya juga ambrol. Sebab, selama banjir terjadi rumahnya jadi jalan air banjir mengalir.
Barang-barang di dalam rumah pun banyak yang rusak dan tidak lagi bisa dipakai. Sehingga, dirinya dan keluarga memutuskan untuk mengeluarkan semua barang yang rusak dan tidak dapat dipakai.
Tetapi, karena tanah lumpur tebal dan menumpuk di dalam rumah, pembersihkan itu sempat sulit dilakukan. Andre pun mengucapkan banyak terima kasih karena banyak relawan yang membantu membersihkan tumpukan lumpur.
Sebab Andre mengaku tidak sanggup membersihkan sendirian. Selain itu, pasti butuh waktu lama.
”Alhamdulillah, dibantu membersihkan lumpur dari dalam rumah. Memang yang utama itu bersih-bersih lumpur di dalam rumah dulu. Biar cepat selesai. Baru bersih-bersih yang lain,” ungkap Andre yang tinggal di sisi timur sungai Kedunggaleng itu.
Hal serupa dirasakan Rini Widayani, 53, warga RT 6 / RW 2 Desa Kedungdalem. Rumahnya berada tepat di sisi barat sungai Kedunggaleng. Dia pun mulai bersih-bersih rumah Minggu (10/3).
Tetapi, dirinya bersama suami dan anak-anaknya hanya mampu membersihkan lumpur di teras. Padahal, lumpur itu menumpuk di dalam rumah.
Beruntung, Senin banyak relawanan yang datang membantu membersihkan lumpur banjir. Sehingga, kondisi rumahnya sudah bersih. Tinggal membersihkan sisa-sisa saja.
”Kalau ada relawan, organisasi atau komunitas yang mau bantu bersih-bersih, bisa masuk ke barat sungai. Karena kondisinya sangat parah di sana. Apalagi di sana lumpur hanya bisa dibersihkan pakai tangan atau manual. Alat tidak bisa masuk,” lanjutnya.
Menuru Rini, banjir yang terjadi saat ini lebih parah dibanding sebelumnya. Ketinggian banjir sampai 1,5 meter. Sehingga, barang-barang dalam rumah banyak terbawa banjir.
Begitu juga baju atau pakaian, banyak terbawa banjir. Andai ada, banyak yang tidak bisa dipakai karena kotor.
Sehingga, selain makanan dan minuman, warga korban banjir juga membutuhkan pakaian layak pakai. Karena pakaian sudah tidak ada yang bisa dipakai.
”Tersisa baju yang dipakai saja. Ini saja milik tetangga,” ujarnya.
Ketua KONI Kabupaten Probolinggo, Zainul Hasan mengatakan, banjir bandang di Dringu lebih tinggi dibanding bencana tahun 2021. Pihaknya pun survei dan menemukan, banyak rumah terdampak dan butuh bantuan membersihkan lumpur sisa banjir.
Akhirnya, pengurus KONI dan seluruh cabor di Kabupaten Probolinggo serentak turun gotong royong membantu korban banjir. Mereka semua membantu warga membersihkan lumpur yang menumpuk.
”Saya minta tiap cabor untuk mengirim minimal lima orang ke lokasi banjir di Dringu. Bisa atlet, pelatih dan pengurus. Karena mereka sangat butuh bantuan kita. Tidak hanya makanan, tapi tenaga untuk membersihkan sisa banjir dari dalam rumahnya,” ungkapnya.
Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif mengatakan, saat ini pihaknya sedang assessmen warga yang menjadi korban banjir bandang. Saat ini, warga sedang proses membersihkan lumpur sisa banjir.
Baik itu di jalan kabupaten, jalan gang atapun rumah-rumah. Sejumlah alat berat juga diturunkan untuk proses pembersihan itu.
”Kondisi banjir memang besar. Dampak dari banjir itu juga parah. Saya pakai mini loader untuk bisa masuk ke gang-gang kecil. Sehingga, proses pembersihan bisa dilakukan dengan lebih cepat,” terangnya.(hn)
Editor : Achmad Syaifudin