Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Achmad Adias Wijaya Manfaatkan Limbah Kayu Jadi Mainan Bernilai Ekonomi

Fahrizal Firmani • Rabu, 6 Maret 2024 | 21:40 WIB
BUTUH KETELITIAN: Achmad Adias Wijaya menunjukkan mainan mobil dan rumah karyanya yang dibuat dari limbah kayu pinus dan jati.
BUTUH KETELITIAN: Achmad Adias Wijaya menunjukkan mainan mobil dan rumah karyanya yang dibuat dari limbah kayu pinus dan jati.

Bagi sebagian orang, limbah kayu pinus dan jati dari sisa produksi mebeler, tidak digunakan lagi. Namun bagi Achmad Adias Wijaya, 35, sisa kayu tidak terpakai ini bisa menjadi barang bernilai ekonomi. Potongan kayu itu dimanfaatkan menjadi mainan berbentuk mobil dan rumah.

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

Potongan kayu berbentuk persegi panjang itu di susun di atas meja. Di dekatnya, ada berbagai bentuk kendaraan.

Mulai dari truk, traktor hingga mobil. Seluruh model kendaraan itu dibuat menggunakan sisa kayu tidak terpakai.

Dias memanfaatkan limbah kayu pinus dan jati sisa produksi furnitur. Potongan kayu sepanjang satu meter disulap menjadi mainan bagi anak anak. Ada bentuk kendaraan hingga model rumah.

“Baru delapan bulan ini membuat mainan dari limbah kayu. Sejak Juni tahun lalu. Alhamdulillah, peminatnya banyak,” katanya.

Sebagian karya buatan Adias.
Sebagian karya buatan Adias.

Sebetulnya, kegiatan menyulap limbah kayu menjadi kerajinan itu sudah lama digeluti oleh warga Bakalan, Kota Pasuruan ini.

Sejak 2018 lalu, ia membuat sisa potongan kayu menjadi berbagai produk. Mulai dari jam dinding, lampu duduk hingga tatakan pot.

Namun, memanfaatkan limbah kayu menjadi mainan baru dilakoninya tahun lalu. Ide ini berawal dari ketidaksengajaan.

Saat itu, ia melihat ada seseorang membuat mainan dari kayu tidak terpakai dalam YouTube.

Pria yang tinggal di perumahan Graha Candi Perma ini memberanikan diri membuat yang serupa.

Kebetulan, ia cukup galau melihat anak milenial sangat bergantung pada gadgetnya. Mainan ini diharapkan bisa menjadi pilihan bagi orang tua.

“Saya berpikir kok sepertinya bagus ya. Makanya saya coba buat sendiri. Bahannya dari limbah kayu pinus dan jati,” jelas Dias.

Kayu pinus dibeli di luar Kota Pasuruan. Panjangnya satu meter seharga 8 ribu.

Sementara limbah kayu jati didapatkan dari sisa produksi mebeler di Kota Pasuruan. Alasannya, pinus memiliki warna cerah dan stok kayu jati melimpah.

Proses pembuatannya diserahkan ke orang lain dengan sistem borongan selama satu hari.

Sekali pembuatan bisa sebanyak 100 potong. Ia tinggal melakukan perakitan dan proses pengamplasan.

Proses pengamplasan dan perakitan bisa selesai dalam dua hari. Untuk roda pada mainan mobil menggunakan dua macam bahan.

Dari kayu yang direkatkan menggunakan lem dan logam memakai skrup. Logam diperoleh dari pasar loak di Gadingrejo, Kota Pasuruan.

Mainan bentuk rumah membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama. Bisa lebih dari tiga hari.

Karena prosesnya butuh ketelitian. Ada pagar yang terbuat dari paku dan kawat. Ada pohon pohonan dari biji pinus.

“Kalau pembuatan mainan rumah ini dikerjakan oleh saya sendiri. Sebab pengerjaannya butuh ketelitian,” tutur bapak dua anak ini.

Pria kelahiran Bojonegoro ini menyebut harga mainan mobil bervariasi. Untuk mobil ukuran kecil Rp 35 ribu, sementara model truk bisa Rp 65 ribu.

Sementara model rumah mulai dari Rp 65 sampai Rp 100 ribu. Penjualannya menggunakan Instagram dan Tokopedia.

Kreativitasnya inilah yang membuatnya mendapatkan kesempatan mengikuti ajang brilliantpreneur di Jakarta Desember lalu.

Dia bisa mengikuti ajang expo UMKM tingkat nasional yang digagas salah satu BUMN ini, tidak mudah.

Pria kelahiran April 1989 ini diminta mengirimkan hasil karyanya ke Jakarta untuk dilakukan tahap seleksi. Ia memilih tiga mainan mobil berbagai bentuk.

Ternyata, karyanya ini disukai dan ia lolos mengikuti ajang UMKM selama empat hari itu.

Selama pameran, antusias pengunjung sangat tinggi. Produk mainan yang dibawanya sebanyak lebih dari 50 buah itu habis terjual di hari kedua.

Dia sempat meminta istrinya mengirimkan potongan kayu di hari kedua. “Hari ketiga, saya langsung kerjakan menjadi mainan mobil dan rumah. Dapat sekitar 30 lebih dan sisa 10 buah di hari terakhir,” sebut Dias.

Kegiatan membuat kerajinan lain tetap dilakoni. Namun, ia memiliki keinginan mengembangkan produk mainan ini sebagai produk edukatif.

Nanti, pembeli bisa merakit mainan mereka sendiri. Ada potongan body mobil, lem dan cat yang disediakan.

“Cuma untuk bisa mengembangkan ke arah edukatif, perlu kemasan yang menarik. Saya masih memikirkan konsep kemasan produknya,” pungkasnya. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#limbah kayu #handycraft