Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Dyah Retno Lestari-Dyah Retno Andayani, Kakak Adik yang Menjabat Direktur RSUD, Bisa Bertukar Pikiran untuk Inovasi

Fahrizal Firmani • Jumat, 1 Maret 2024 | 05:55 WIB
SAMA-SAMA DOKTER: Dyah Retno Lestari (kiri) bersama kakaknya Dyah Retno Andayani dalam peringatan hari kesehatan nasional (HKN).
SAMA-SAMA DOKTER: Dyah Retno Lestari (kiri) bersama kakaknya Dyah Retno Andayani dalam peringatan hari kesehatan nasional (HKN).

Selama ini, drg. Dyah Retno Lestari dikenal sebagai direktur RSUD Grati. Dia memiliki kakak kandung yang juga menjadi direktur RSUD. Kakaknya, drg. Dyah Retno Andayani menjadi direktur RSUD Husada Prima Kota Surabaya.

FAHRIZAL FIRMANI, Grati, Radar Bromo

Tidak banyak kakak-beradik yang menekuni pendidikan dan karir yang sama. Dyah Retno Lestari salah satunya. Ia dan kakaknya, Dyah Retno Andayani sama-sama menjadi dokter gigi. Keduanya juga dipercaya menjadi direktur RSUD.

Retno-sapaan akrab Dyah Retno Lestari mengungkapkan, dia dan kakaknya memiliki banyak kesamaan. Sama-sama dilahirkan di bulan April dan memiliki nama panggilan yang serupa, Retno.

Terlahir dari keluarga pendidik, membuat pendidikan mereka sangat diperhatikan. Sejak kecil, ia dan kakaknya telah diajarkan hidup mandiri.

Setiap pagi, Retno bersama kakaknya berangkat ke sekolah formal. Dan saat sore hari, mereka harus menempuh pendidikan agama di madrasah diniyah (madin).

SEJAK 2020: Dyah Retno Lestari menerima penghargaan dari Pj Bupati Pasuruan.
SEJAK 2020: Dyah Retno Lestari menerima penghargaan dari Pj Bupati Pasuruan.
BANYAK PRESTASI: Dyah Retno Andayani saat menerima penghargaan dari Gubernur Jatim Khofifah.
BANYAK PRESTASI: Dyah Retno Andayani saat menerima penghargaan dari Gubernur Jatim Khofifah.

“Orang tua itu sama sama seorang guru. Jadi pendidikan saya dan kakak itu betul-betul diperhatikan,” katanya.

Saat hari libur dan Minggu, mereka berbagi tugas rumah. Ia biasanya bersih-bersih rumah dengan menyapu. Sementara kakaknya menyiapkan sarapan untuk keluarga. Namun saat memasak, Retno dan kakaknya juga ikut membantu.

Retno dan kakaknya juga mengikuti les untuk mengembangkan minat dan bakat. Ia memilih les menari. Sementara kakaknya menekuni menyanyi. Di luar itu, ibu mereka mengajari cara menjahit dan merajut.

“Ibu saya bilang anak perempuan itu harus serba bisa. Agar bisa menjadi teladan bagi anak dan membahagiakan keluarga,” terang Retno.

Anak kedua dari enam bersaudara ini menyebut, setelah lulus SMA, dia dan kakaknya sama sama memilih melanjutkan pendidikan di kedokteran gigi. Bedanya, kakaknya diterima di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Sedangkan dirinya masuk Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta.

Pilihannya pada kedokteran gigi memang sedikit banyak karena melihat sosok kakaknya. Sang kakak masuk kuliah pada tahun 1984. Sementara dia baru masuk kuliah pada 1990. Dan dia bisa masuk UGM tanpa tes. Masuk lewat jalur nilai prestasi.

“Yang membanggakan orang tua saya diterima di UGM. Sebelum diterima, orang tua saya sampai mengkliping foto Sultan Hamengkubuwono X agar anaknya bisa lolos ke UGM,” tuturnya.

Sejatinya, orang tuanya tidak pernah ikut campur dalam jurusan yang dipilih olehnya ataupun kakak dan adik-adiknya. Mereka sosok yang bijaksana dan menyerahkan pilihan itu pada putra dan putri mereka.

Apapun pilihannya, kedua orang tuanya selalu mendoakan. Ketiga adiknya menempuh kuliah yang berbeda. Dua adiknya mengambil kuliah teknik sipil di Institut Teknik Surabaya (ITS). Lalu, satu lagi memilih kuliah di fakultas Ekonomi Unair.

“Alhamdulillah orang tua selalu mendoakan yang baik baik pada anaknya. Karena itu, saya sangat bersyukur,” tuturnya.

Perempuan asal Kota Surabaya ini menyebut, kakaknya sempat bekerja di Kabupaten Pasuruan. Dan pernah menjadi kepala puskesmas serta Kasi Pelayanan di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan. Sebelum akhirnya, pindah ke Dinkes Provinsi. Hingga akhirnya diangkat menjadi direktur RSUD Husada Prima Kota Surabaya.

Sementara dirinya, usai lulus kuliah, menjadi pegawai tidak tetap (PTT) di Pemkab Pasuruan. Ia dipercaya menjadi direktur RSUD Grati sejak 2020.

Memiliki kakak yang sama-sama menjadi dokter gigi dan dipercaya memimpin RSUD, banyak sisi positifnya. Ia dan kakaknya sering saling bertukar pikiran soal inovasi pengembangan rumah sakit.

“Yang sering menjadi pegangan bagi saya adalah kita harus selalu berpikiran positif,” pungkas Retno. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#Adik-Kakak #direktur rumah sakit #RSUD Grati