Berawal dari hobi ternak dan saran dari gurunya, KH Masyhudi Nawawi mendidik santrinya di Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotul Murtadlo agar pandai berniaga. Jika santri bisa berwirausaha, maka tak akan terganggu perekonomiannya.
FUAD ALYZEN, Pasrepan, Radar Bromo
Ponpes Roudlotul Murtadlo di RT14/RW 6, Dusun/Desa/Kecamatan Pasrepan sudah berdiri sebelum KH Masyhudi Nawawi jadi pengasuh. Kala itu yang mengasuh Ponpes tersebut adalah ayahnya, KH Nawawi Murtadho.
Nama Ponpes Roudlotul Murtadlo sendiri diambil dari nama kakek KH Masyhudi Nawawi yaitu Kiayi Murtadlo. Orang Pasrepan menyebutnya dengan Kiai Tolo sebagai tulang punggung keluarga dan sebagai pimpinan Ponpes.
Saat ayahnya jadi pengasuh, kiayi Masyhudi yang kerab disapa Kesyhudi, singkatan KH Masyhudi Nawawi ini masih menyantri di Ponpes Salafiyah Kota Pasuruan. Ponpes yang diasuh KH Abdul Hamid Pasuruan.
Waktu itu masih tahun 1970 an. Selama menyantri di sana, diketahui Kesyhudi memang memiliki hobi ternak. KH Abdul Hamid yang memantau perkembangan Kesyhudi menyampaikan bahwa santri kudu pinter nyambut gawe, atau santri harus pintar bekerja.
Kata-kata dari KH Abdul Hamid yang dijadikan motivasi untuk mengembangkan ponpes ayahnya. Dia berjanji, setelah lulus mondok, dia akan membiayai pondok, madrasah dan sekolah di Ponpes Roudlotul Murtadlo dengan hasil wirausaha.
“Beliau (KH Masyhudi) membangun sendiri bangunan lembaga pendidikan dengan kontruksi yang cukup kuat dan modern,” ujar Gus Kholil, salah satu pengurus Ponpes Roudlotul Murtadlo Pasrepan.
Gus Kholil bercerita, setelah pulang dari Ponpes Salafiyah Pasuruan, tahun 1979. Kesyhudi langsung mengajar ngaji di pondoknya mendampingi ayahnya. Selain mengajar, Kesyhudi juga berternak ikan lele.
Namun ternak lele hanya bertahan beberapa bulan saja. Lantaran gagal selanjutnya Kesyhudi memproduksi jamu tradisional buatannya sendiri. Setelah berhasil membuatnya langsung mendirikan stan untuk berjualan jamu di Pasar Pasrepan.
Awal mula Kesyhudi merasakan hasil dari produknya sendiri. Namun ini hanya bertahan sampai tahun 2000 saja, karena saat itu jamu tradisional sudah kurang diminati masyarakat. Sebab sudah ada jamu tradisional model yang dibuat secara instan.
Tak berhenti di sana, Kesyhudi harus berpikir keras dan memutar otak. Sebab Kesyhudi harus membiayai banyak hal di Ponpes yang dia bangun selama ini.
Bahkan Kesyhudi sempat menekuni bidang pertabiban,
di zaman maraknya tinju profesional yang digelar di salah satu stasiun televisi swasta. Banyak tamu yang berdatangan dari Jakarta. Mereka meminta doa.
Tak hanya menjadi tabib. Seperti masyarakat pada umumnya. Waktu itu Kesyhudi juga bertani. Meskipun dia tidak memiliki sawah atau kebun, ia masih menyewa lahan untuk aktivitas usaha perkebunan dan pertaniannya. Kesyhudi waktu itu menanam jeruk dan ketela.
Semakin lama kebun pertanian yang ia bangun semakin maju. Meningkat hingga berhektare-hektare. Saat ini ponpes memiliki kebun jambu seluas satu hektare, kebun jeruk satu hektare. Dari situlah perjuangan Kesyhudi bisa mendapat hasil. “Namun masih masa pertumbuhan belum berbuah,” terangnya.
Setelah semakin berkembang, Kesyhudi juga menambah wirausahanya. Yakni membangun sejumlah Koperasi Pondok Pesantren (kopontren). Juga ada peternakan yang saat ini dimiliki Gus Ali yang semuanya memperkerjakan santri Ponpes Roudlotul Murtadlo.
Kholil merinci, untuk ternak sendiri ada dua kandang. Kapasitasnya sekitar 150 ekor. Yang dirawat adalah kambing yang jenis import. Di antaranya kambing Sulfok, Texel, Merino dan Awassi F1. “Bukan berati beli dari luar negeri, bibit kambing besar seperti ini sudah banyak dijual di tanah air,” tuturnya.
Wirausaha pertanian dan pertenakan yang dibangun Kesyhudi mendapat apresiasi. Akhir Januari lalu, Wamentan Harvick Hasnul Qolby sampai datang ke pondok ini. Sebab ponpes ini dinilai mencetak santri berintegritas dan menanamkan pemuda untuk berwirausaha, terutama pertanian dan perkebunan.
Sebenarnya tujuan utama Wamentan adalah ke KUD Sembada Puspo. Sedangkan Wamentan yang pernah menjabat bendahara PB NU di masa KH Said Agil, menyempatkan mampir ke ponpes Roudlotul Murtadlo Pasrepan.
Di sana Wamentan sempat memantau kebun pertanian milik Ponpes. “Rencana juga mau keperternakan. Dikarenakan hujan sangat deras maka pak Menteri langsung ke Masjid menara nunggu salat Jumat,” tutupnya.
Saat ini lingkungan sekitar Ponpes Roudlotul Murtadlo Pasrepan kini makin dikenal. Banyak pemuda menyantri di ponpes tersebut sembari berwirausaha yang setiap harinya bersosial dengan masyarakat. (zen/fun)
Editor : Jawanto Arifin