Kolong jalan tol menjadi salah satu tempat yang kerap dicap negatif. Apalagi jika penerangan kurang memadai. Tapi berbeda dengan kolong jalan tol yang populer disebut Bawah Jalan Tol (BTS) di Desa Sumberkerang, Kecamatan Gending. Justru menjadi wadah kreasi karang taruna desa.
ACHMAD ARIANTO, Gending, Radar Bromo
MALAM itu udara terasa begitu dingin. Gerimis saat sore hari membasahi wilayah Desa Sumberkerang.
Satu-persatu pemuda desa datang berkumpul menikmati secangkir kopi dan beberapa cemilan ala angkringan di Bawah Tol Sumberkerang (BTS).
Semakin lama suasananya pun semakin ramai. Gelak tawa, dan suara genjrengan gitar membaur menjadi satu.
Mungkin bagi masyarakat luas nama BTS masih begitu asing. Tetapi bagi warga di Kecamatan Gending khususnya Desa Sumberkerang, BTS Sumberkerang sudah begitu populer.
Pasalnya tempat tersebut merupakan wadah kreasi bagi anak-anak muda.
Nama BTS sendiri diambil dari lokasi yang berada tepat di bawah kolong jembatan penghubung tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) yang masuk wilayah Desa Sumberkerang.
Bawah kolong jembatan tol identik dengan tempat gelap atau remang-remang. Karena kondisinya tersebut tak jarang lokasi seperti ini menjadi sarang kegiatan negatif. Baik tempat kriminalitas ataupun tempat prostitusi.
Tak ingin hal tersebut terjadi, karang taruna mencoba merubah suasana bawah tol menjadi pusat berkumpulnya pemuda dan warga. Perubahannya cukup mencolok.
Tidak hanya lokasinya yang menjadi terang, BTS juga disulap menjadi lokasi UMKM desa yang produktif.
“Bawah kolong jalan tol memang diidentikkan dengan tempat negatif. Tetapi di desa justru kami rubah agar menjadi tempat yang menarik,” kata Kepala Desa Sumberkerang Beny Rechardo.
BTS saat ini telah diisi beberapa UMKM mulai dari angkringan. Angkringan ini dikelola karang taruna desa.
Dengan modal swadaya iuran anggota karang taruna usaha angkringan mulai berkembang.
Usaha ini dijalankan setelah mempertimbangkan kelengkapan fasilitas yang ada. Pusat aktivitas sekaligus tempat bersantai harus dilengkapi dengan penyediaan makanan dan minuman.
“Angkringan sebenarnya warung kekinian. Setelah pesan makanan atau minuman bisa langsung lesehan di tepi ruas jalan bawah tol,” tuturnya.
Untuk menciptakan kesan meriah, karang taruna juga menambah live music untuk memanjakan pengunjung. Personel musik yang tampil merupakan anggota karang taruna sendiri.
Sehingga menjadi ajang kreasi dan wadah untuk menyalurkan hobi bermain musik.
Pengunjung bisa ikut berpartisipasi baik bermain musik atau sekedar bernyanyi.
Semakin ramainya pengunjung BTS, usaha yang ada tidak hanya didominasi oleh karang taruna.
Bahkan ada pedagang dengan menggunakan gerobak motor menjajakan dagangannya di BTS. Ada penjual kacang, durian, bahkan tembakau yang sering dicari warga mangkal di sana.
“Kalau live music biasanya ditampilkan Sabtu malam. Itu fasilitas tambahan yang diberikan oleh anak-anak karang taruna,” tuturnya.
Beny menjelaskan jika BTS yang sepenuhnya dikelola oleh karang taruna, mendapatkan apresiasi yang baik dari Pemerintah Desa. Sebab mampu berkembang dengan pesat.
Kini pemuda sudah memiliki wadah berkreasi. Sehingga tidak terjerumus pada balap liar dan pergaulan negatif. Merubah kesan bawah jalan tol yang negatif menjadi kegiatan yang produktif.
Dampaknya juga bisa dirasakan oleh warga lainnya khususnya turut bersumbangsih pada peningkatan pendapatan UMKM.
“Responnya cukup baik, maka akan terus kami support. Aktivitas yang ada terus kami kontrol baik, tatanan yang ada baik stand dan parkir sudah diatur dengan rapi sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas. Kami juga berkolaborasi dengan Polisi untuk rutin melakukan pengawasan,” bebernya.
Salah satu pengelola BTS Muhammad Kholilur Rohman mengatakan bahwa BTS saat ini menjadi tempat nongkrong yang begitu populer di desanya.
Bahkan pengunjung yang datang tidak hanya pemuda dan warga desa setempat saja. Melainkan warga desa lainnya mengisi kekosongan waktu untuk bersantai di BTS.
Kholilur menambahkan jika pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha kecil-kecilan di BTS. Digunakan untuk perputaran modal yang ada. Harapannya agar unit usaha dan kegiatan yang ada saat ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif. Tidak hanya bagi pengelola tetapi juga masyarakat luas.
“Kami jaga betul BTS, selesai beraktivitas atau membuka angkringan sampah selalu kami bersihkan. Bawah tol sengaja di cat agar lebih menarik. Sehingga tidak terkesan angker,” imbuhnya. (fun)
Editor : Abdul Wahid