Memiliki hobi fotografi membuat Hafid, 52, tertantang untuk melakukan aktivitas fotografi di alam liar. Banyak bidikan kamera warga Dusun Krajan, Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, ini yang berhasil mengabadikan aktivitas binatang langka.
ACHMAD ARIANTO, Paiton, Radar Bromo
Hari masih pagi, ditemani secangkir kopi, Hafid membuka galeri foto miliknya yang tersimpan di laptop. Foto-fotonya seputar binatang liar hasil jepretannya.
Ada foto burung merak, kijang, dan berbagai jenis hewan di alam liar yang difoto dalam beberapa angle.
Hafid sendiri mulai menggandrungi dunia fotografi sejak 2017. Bermula saat dia hunting foto bersama rekan-rekannya.
Saat itu, dia melihat hasil jepretan beberapa temannya bagus. Sejak saat itu, Hafid berniat menekuni fotografi.
Hingga akhirnya, dia memiliki kamera. Dengan kamera tersebut, ia mulai mempelajari fotografi ‘potret’. Yaitu salah satu jenis fotografi yang memotret aktivitas kehidupan sehari-hari.
Memotret melalui pose, close-up, dan membangkitkan ekspresi.Tiga bulan lamanya Hafid mempelajari fotografi potret yang fokus pada orang atau kelompok dengan membidik wajah, ekspresi, dan karakteristik uniknya.
Setelah itu, dia mulai mempelajari fotografi lanskap. Fotografi yang fokusnya mengabadikan keindahan alam dan lingkungan sekitar.
Banyak spot foto alam yang ia abadikan. Berbagai suasana pun dia abadikan dengan kameranya.
“Saya belajar fotografi secara otodidak. Butuh berbulan-bulan untuk memahami kamera. Mulai dari cara mengatur kamera, hingga memfokuskan subjek. Ini sangat perlu agar hasil jepretan bagus. Tidak ngeblur,” katanya saat ditemui Minggu (11/2).
Tidak puas hanya memotret objek orang dan pemandangan. Ia kemudian tertantang menekuni fotografi alam liar (wildlife photography).
Fotografi ini fokus memotret kehidupan alam liar di habitat aslinya. Aneka jenis hewan yang bebas berkeliaran di alam liar merupakan objek utama dari fotografi ini. Namun, memang tidak banyak fotografer yang menggelutinya.
Sebab, memang tidak mudah. Memerlukan latihan dan persiapan yang cukup matang.
Misalnya, lebih dulu harus mengenal lokasi alam yang akan difoto. Termasuk karakter hewan yang ada di lokasi.
Tak jarang, dibutuhkan riset terlebih dahulu sebelum memotret untuk menggali informasi dari warga sekitar.
Sehingga, jepretan kamera bisa menyuguhkan perilaku hewan dengan background habitat asli mereka.
“Saat hendak memotret burung merak di hutan sekitar Desa Binor misalnya, saya lebih dahulu riset satu bulan. Selama riset saya cari tahu pergerakan merak dari mana dan ke mana. Serta munculnya kapan,” terangnya.
Selain itu, juga dibutuhkan pakaian dan peralatan kamuflase. Sebab, memotret di alam liar tidak semudah fotografi potret dan lanskap.
Di alam liar, fotografer tidak bisa mengatur hewan atau cuaca. Sehingga, harus bisa membaur dengan alam dan pandai membaca situasi.
Itulah kenapa, fotografer alam liar harus rela menunggu di atas pohon atau di semak-semak untuk memperoleh foto yang bagus.
Menggunakan pakaian atau peralatan berwarna gelap. Serta, membungkus kamera dan lensa untuk berkamuflase dengan lingkungan.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam wildlife photography adalah spesifikasi kamera dan tele yang canggih.
Sehingga, saat hewan yang menjadi sasaran bidikan kamera melintas, bisa dipotret berkali-kali dengan satu kali tekan. Dengan demikian, setiap pergerakan hewan bisa tertangkap kamera
“Pakaian dan peralatan yang dibawa harus berwarna selaras dengan lingkungan. Terlihat membaur dengan alam. Jadi, hewan tidak takut dan kabur saat berpapasan. Pernah seharian keliling dan mencari objek foto tapi tidak dapat. Itu, sudah risiko,” ucapnya.
Pria yang juga suka hiking ini mengatakan, sejauh ini dirinya masih fokus memotret kehidupan hewan liar di sekitar Desa Binor. Baik daerah pesisir dan hutan sisi sebelah timur desa tersebut.
Ada beberapa hewan liar yang berhasil diabadikannya. Mulai burung merak, kijang, burung bubut, burung meninting, burung cekakak sungai, dan burung cekakak belukar.
Yang masih menjadi targetnya yaitu, memotret macan kumbang yang ada di sisi selatan hutan Desa Binor.
Dia pun pernah riset dan mengamati aktivitas hewan itu. Namun, hanya menemukan kotoran dan jejak kakinya. Hingga kini, hewan itu belum berhasil ditemuinya.
“Sebelumnya, burung merak juga diperkirakan sudah tidak ada di hutan dekat Desa Binor. Tetapi, berkat riset dan hunting, saya bisa mengabadikan keberadaannya,” katanya.
Dari riset itu diketahui, mungkin di habitatnya ada 20 ekor. Sementara untuk macan kumbang belum terpotret. (hn)
Editor : Jawanto Arifin