Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Agus Purnomo Pencetak Bibit Kambing PE Kaligesing yang Juarai Kontes Nasional

Achmad Arianto • Senin, 22 Januari 2024 | 16:40 WIB

 

SEHAT: Agus Purnomo mengecek kambing PE Kaligesing di kandang. Kambing dan anakannya memiliki harga fantastis.
SEHAT: Agus Purnomo mengecek kambing PE Kaligesing di kandang. Kambing dan anakannya memiliki harga fantastis.

Agus Purnomo, 38, memang memiliki hobi beternak. Dia akhirnya jatuh hati mengembangbiakkan Kambing Peranakan Etawa (PE) Kaligesing. Perawatan yang eksklusif membuat kambing peliharaannya menjadi kambing kelas kontes nasional.

ACHMAD ARIANTO, Krucil, Radar Bromo

Siang itu jam digital masih menunjukkan pukul 10.25. Agus Purnomo, 38, begitu sibuk membersihkan kandang kambing komunal miliknya.

Kandang itu dibangun di sebelah barat rumahnya di Dusun Curah Krajan, Desa Betek, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.

Sengaja Agus membangun kandang di dekat rumahnya. Selain karena memang tersedia lahan di sana.

Juga agar memudahkan dia untuk sering-sering mengecek kambing-kambing itu.

Apalagi, kambing yang diternak itu bukan kambing biasa. Kandang yang terbuat dari kayu jati itu berisi 15 kambing Peranakan Etawa (PE) Kaligesing. Kandang itu disekat-sekat untuk memisah kambing sesuai usianya.

Hari itu, setelah semua kandang disapu bersih, Agus membersihkan kotoran pada tubuh kambing. Hingga tubuh kambing bersih dan bulu-bulunya tidak rontok.

Barulah ia memberikan pakan. Namun, pakan yang diberikan tidak sembarangan. Pakan itu harus disesuaikan dengan usia kambing.

“Kalau pagi saya memang sering di kandang. Melihat kondisi kambing dan bersih-bersih,” katanya menceritakan aktivitasnya setiap hari.

Agus sendiri mulai berternak kambing PE Kaligesing sejak tahun 2011. Dia jatuh hari pada kambing jenis ini karena memiliki keunikan tersendiri.

Tubuhnya yang tinggi besar menyerupai anakan sapi. Serta, memiliki bentuk kepala dan telinga yang unik.

Pada awal beternak, Agus hanya membeli 5 ekor. Dia lantas fokus pada pembesaran dan peranakan. Setelah besar, kambing-kambing itu lantas dijual.

Bentuk tubuh yang bagus dan bobot yang cukup berat, membuat kambing jenis ini memiliki harga jual lebih mahal dibandingkan kambing jenis lain.

Yang usia 2 tahun saja, harganya bisa mencapai Rp 20 juta. Beda lagi kalau pernah menang lomba. Harganya akan lebih mahal.

Sementara kambing Kaligesing biasa atau disebut kambing kacang, harganya jauh di bawahnya. Sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 4 juta.

Seiring dengan pengalaman yang dimilikinya, Agus tidak hanya fokus pada pembesaran dan peranakan. Dia mulai melebarkan hobinya.

Sejak 2018, dia mulai mengikuti kambing kontes atau lomba. Saat itulah kemudian Agus membeli anakan PE Kaligesing kelas super dari Purworejo.

Kambing ini sengaja dibelinya untuk dilombakan, sekaligus dikembangbiakkan.

“Mulanya saya ikut teman yang sama-sama hobi beternak melihat kontes kambing PE Kaligesing. Kambing yang ikut kontes itu tubuhnya lebih tegap dan bentuk kepalanya lebih bagus. Dari situ saya membeli anakan, dua pasang jantan dan betina. Kemudian saya pelihara,” bebernya.

Dia pun memperlakukan kambing PE Kaligesing miliknya secara khusus. Misalnya, pakan yang diberikan harus mencukupi asupan nutrisi kambing.

Agus memberi pakan pagi dan sore ampas tahu dan kangkung. Sementara saat malam hari, ia memberi pakan ijonan.

Lalu, setiap hari kambing diberi minum susu. Susu ini diberikan sebanyak dua kali, yaitu pagi dan sore hari.

“Untuk menghasilkan kambing kelas super memang butuh pemeliharaan khusus. Jadi ada kombinasi pakan dan susu kambing,” tuturnya.

Tidak hanya itu. Agar kambing tidak mudah terserang penyakit, kandang dan tubuh kambing harus rutin dibersihkan.

Kandang dibersihkan setiap hari. Sementara kambing dimandikan menggunakan sampo dua hari sekali. Perawatan ini dilakukan agar bulu kambing tetap bersih dan tidak mudah rontok.

Lalu agar kambing tetap bugar, Agus juga rutin memberikan jamu tradisional khusus. Bahkan, memberi vitamin B12 dan B kompleks.

“Vitamin saya berikan dua minggu sekali. Sementara untuk jamu saya berikan satu bulan sekali. Itu untuk menjaga kebugaran dan tidak mudah terserang virus,” katanya.

Sejak memelihara kambing untuk kontes, Agus sudah mengikutkan kambing PE Kaligesing miliknya dalam beberapa kontes.

Saat kontes Nasional di Banyuwangi bulan Mei 2023, dia mengikutkan kambingnya di kelas E betina.

Hasilnya dari 200 peserta, kambing kesayangannya yang diberi nama Surti masuk peringkat 5.

Kambingnya juga diikutkan Piala DPR di Madiun pada Oktober 2023. Di sini, kambingnya masuk peringkat 10 besar kelas E Jantan. Sementara di beberapa lomba lain, kambingnya hanya masuk peringkat belasan.

Kambing-kambing yang sering menang itu akan memiliki harga jual lebih tinggi. Lebih mahal.

“Harga kambing kontes tidak ada pasarannya karena harga suka. Satu ekor kambing saya pernah ditawar setara dengan harga Motor PCX,” pungkasnya.

Surti yang masih berusia 10 bulan misalnya, pernah ditawar seharga Rp 17 juta. sebab, memang Surti pernah menang lomba. Namun, Agus enggan melepas Surti.

Tidak hanya Surti. Kaisar Langit yang berusia 3 tahun juga ditawar mahal. Sekitar Rp 25 juta. Namun, Agus masih enggan melepas Kaisar Langit. (hn)

Editor : Achmad Syaifudin
#Kambing Etawa