Tidak banyak pemilik salon kecantikan yang membuka lembaga kursus dan pendidikan (LKP). Di Pasuruan, hanya ada Nur Mahmudah, 51. Melalui lembaganya itu, dia sudah membagikan ilmu kecantikan sejak 2005.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
Jalan Nur Mahmudah menjadi pemilik LKP kecantikan cukup panjang dan berliku. Sebelum terjun ke dunia kecantikan, warga Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, itu pernah berjualan rawon.
Selama tiga tahun dia berjualan rawon, mulai 1996 sampai 1999. Usaha yang dirintisnya itu cukup laris.
Dalam sehari, warungnya itu bisa menghabiskan 25 kilogram daging sapi. Saat itu, ia berjualan di sebuah teras warga yang disewanya. “Jualannya di Jalan Panglima Sudirman. Alhamdulillah laris dan punya pelanggan. Cuma saya harus bangun jam tiga pagi untuk masak,” terangnya memulai obrolan dengan Jawa Pos Radar Bromo.
Baginya, tidak mudah tiap hari bangun pukul 03.00 untuk menyiapkan dagangan. Ia berpikir, lama-lama fisiknya pasti akan kecapekan.
Sejak saat itulah, Nur memutuskan tidak lagi berjualan rawon. Namun, menekuni bidang lain. Dan, pilihannya yaitu terjun ke dunia kecantikan.
Berbekal kursus selama dua bulan, ia membuka salon khusus wanita. Lokasinya masih sama. Teras rumah warga yang semula dia sewa untuk berjualan rawon, lalu disulapnya menjadi sebuah salon.
Salonnya ini juga memberikan jasa potong rambut. Saat itu, untuk anak kecil tarifnya Rp 1.500. Sementara orang dewasa, Rp 2.500. Tarif ini bertahan selama dua tahun. Alasannya, agar punya pelanggan.
“Setelah saya punya langganan, ternyata teras itu tidak lagi disewakan. Akhirnya saya mencari lokasi lain dan ketemu kios di dalam Pasar Kebonagung. Sewa sejak 2001 dan bertahan sampai saat ini,” jelasnya.
Keputusan itu ternyata tepat. Lokasinya yang strategis membuat pelanggan lamanya mudah menemukannya.
Bahkan, salonnya tersebut semakin dikenal. Tidak hanya pelanggan lama yang datang, ia juga mendapat banyak pelanggan baru.
Namanya pun dikenal sampai ke lingkungan Pemkot Pasuruan. Hingga pada tahun 2004, ia ditawari oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pasuruan menjadi mentor dalam pelatihan kerja tentang kecantikan.
“Saya langsung mengiyakan. Saat itu, pelatihan hanya diberikan selama 10 hari. Mulai pagi sampai sore. Ada 20 orang yang saya beri pelatihan,” katanya.
Namanya pun semakin dikenal di Pasuruan. Mulai 2005, banyak orang berdatangan ingin belajar teknik pangkas rambut padanya.
Pernah dalam sehari, ia memberikan pelatihan kepada lima orang. Pelatihan dilakukan di salon miliknya. Setiap orang yang ingin belajar padanya, harus membayar Rp 2,5 juta. Mereka dilatih sampai bisa.
Keberuntungan rupanya terus memihak Nur. Di tahun yang sama, ia ditawari oleh Dinas Pendidikan untuk mengurus perizinan pelatihan yang digelutinya.
Persyaratannya, pelatihan yang dibuatnya secara mandiri itu harus berbentuk kelas. Selain itu, ada akta notaris, memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP), hingga struktur organisasi.
Persyaratan ini diajukan ke perizinan pemkot di tahun itu. Sembari menunggu izin turun, ia mendapat kesempatan dari Pemkot Pasuruan untuk ikut pelatihan instruktur kecantikan selama sepekan. Ia menjadi satu dari dua orang perwakilan asal Kota Pasuruan.
“Pengurusan izin rupanya butuh waktu lama. Baru selesai tahun 2011. Butuh waktu enam tahun sejak pengurusan,” jelas Nur.
Selama menunggu izin keluar, warga Jalan Panglima Sudirman ini sempat menjadi guru muatan lokal (mulok) kecantikan di SMK PGRI 4 Kota Pasuruan pada 2008–2011. Dan pada 2012, ia menjadi kepala program saat mulok menjadi jurusan.
Karena tuntutan dunia pendidikan tempatnya mengajar, Nur pun memutuskan kuliah S-1. Saat itu, dia kuliah Jurusan Tata Rias di IKIP PGRI Adibuana Surabaya dan lulus tahun 2017.
Setelah lulus kuliah, dia terus mengajar di SMK PGRI 4 sampai tahun 2020.
Kemudian, Nur memilih fokus sebagai instruktur di pelatihan yang digagas Disnaker dan lembaganya.
Setelah izin LKP yang diajukannya turun. pelatihan yang diberikannya berbeda. Ia dipercaya mengakses program pemerintah provinsi. Sehingga, materi pelatihan yang diberikan di lembaganya sesuai standar pemerintah.
“Berbeda dengan sebelumnya. Setelah memiliki izin, materi yang diberikan sudah standar,” sebut Nur.
Mereka yang ikut pendidikan di lembaganya harus membayar Rp 7 juta. Di sini, mereka akan mendapat materi selama 200 jam yang ditempuh dalam dua bulan. Selama mengikuti materi, mereka dapat modul.
Setelah materi rampung diberikan, mereka harus mengikuti ujian kompetensi. Ujian disesuaikan dengan kelas yang dipilih. Yaitu, tata kecantikan rambut atau kulit.
Di Pasuruan memang banyak salon kecantikan. Namun, mayoritas murni industri. Satu-satunya pemilik salon yang membuka kelas pelatihan kecantikan hanya Nur.
“Setiap tahun, modul yang diberikan tidak sama. Disesuaikan dengan skema yang diujikan oleh pemerintah,” jelas Nur.
Meski juga sibuk di LKP, Nur masih mengelola salon miliknya. Namun, saat ia sibuk di LKP miliknya atau menjadi instruktur pelatihan kerja di Disnaker, anaknya, Dewi Ayu yang fokus di salon.
"Salon buka setiap hari, mulai pukul 08.00 sampai 20.00. Kecuali hari Senin libur," terang Dewi.
Nur pun mengaku sangat menikmati semua aktivitasnya itu. Dia sama-sama menyukai menjadi instruktur di LKP dimilikinya, maupun menjadi mentor dalam pelatihan kerja yang diadakan Disnaker. Karena Nur memang suka mengajar.
“Cuma tetap lebih enjoy di lembaga saya. Karena di Disnaker, jamnya sudah ditentukan dari pemkot. Kalau di kelas saya, tergantung siswanya,” tuturnya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin