Achmad Yusril Mahendra sejatinya seniman pematung. Tapi dia juga menekuni lukisan. Bedanya, karya lukisannya dibuat dengan dibakar.
RIZAL FAHMI SYATORI, Purwodadi, Radar Bromo
SANTAI namun serius. Inilah gaya pemuda bernama lengkap Achmad Yusril Ismail Maulana Mahendra, 25, saat ditemui di rumahnya Dusun Krajan, Desa Semut, Kecamatan Purwodadi.
Saat itu Yusril panggilannya, tengah menyelesaikan karyanya. Dia membawa phyrografi, atau sebuah alat semacam solder. Dari alat yang menghasilkan panas itulah dia membuat karya lukisan bakar di atas sebuah kayu.
Pemuda pendiam dengan perawakan kurus dan postur tinggi tersebut membuatnya di teras depan rumahnya. Dia terlihat sudah ahli.
“Saya mulai menggeluti seni lukis bakar ini sejak 2018 lalu dan berlanjut hingga sekarang,” ucap anak pertama dari dua bersaudara, putra pasangan suami istri Sholehuddin dan Suhada.
Mahasiswa semester akhir jurusan seni rupa murni Universitas Brawijaya Malang ini, memang punya bakat seni. Bahkan di kampungnya dia juga dikenal sebagai seorang pematung.
Yusril mengaku, awal mula menggeluti seni lukis bakar, tidak ujug-ujug. Dia terinspirasi kejadian kebakaran stop kontak di kamar dalam rumahnya saat menyalakan hair driyer.
“Dari terbakarnya stop kontak, di tembok terdapat bekas menyerupai sebuah gambar. Dari situlah, kemudian saya memiliki inspirasi membuat lukisan bakar di atas triplek. Ternyata hasilnya bagus, meskipun agak lama dan ribet,” tuturnya.
Setelah tahu hasil lukisan bakarnya memiliki nilai seni, dia jadi keterusan. Dia terus berkarya dan lukis bakarnya sudah berjumlah puluhan.
Memang Yusril sudah punya bakat seni sejak lama. Sedari kecil dia mengaku memang punya bakat mengambar secara alamiah.
Bakat itu diasahnya dengan belajar otodidak. Sehingga ini memudahkan dirinya membuat lukisan bakar.
Saat melukis, media yang digunakan Yusril memang berbeda. “Pakai alat khusus namanya phyrografi , atau semacam solder.
Dari alat inilah, muncul warna alamiah semacam kayu yang terbakar membentuk gambar atau obyek. Sama sekali tidak gunakan cat sebagai pewarna,” ujarnya tersenyum.
Biasanya dia menggunakan media kayu jenis jati Belanda dan pohon nangka. Selain itu, potongan-potongan triplek dan kayu bekas lainnya sisa bangunan.
“Tidak harus baru, namun dari bahan bekas yang masih bagus dan layak dipergunakan,” cetusnya.
Pria pehobi sepak bola ini menuturkan, dia membuat lukisan di dalam kamar. Kadangkala di teras depan rumahnya.
Untuk bentuk atau obyek lukisan gambarnya pun beragam. Umumnya adalah tokoh pahlawan, hewan, motif ornamen-ornamen lainnya.
“Membuat satu lukisan bakar, butuh waktu 2-3 minggu lamanya. Tergantung mood, juga obyek yang digambar sekaligus tingkat kesulitannya. Ukuran besar dan kecilnya ikut mempengaruhi,” katanya.
Katanya, dalam membuat lukisan gambar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Selain harus punya modal dasar bisa melukis atau menggambar. Tak kalah penting harus telaten. Sebab dia harus memperhatikan tekanan pada saat gunakan alat phyrografi.
“Jika ini tidak diperhatikan, hasil dari lukis bakarnya tidak maksimal. Jadinya memang jadi, tapi kelihatan kurang bagus,” imbuhnya.
Sebagai seorang seniman lukis gambar, ia pun kerapkali ikut kegiatan pameran bersama para seniman lainnya.
Antara lain pernah di sekitaran Pasuruan, kemudian Nganjuk, Kediri, Malang hingga Semarang.
Baik saat pameran, atau diluar pameran, seringkali sejumlah kolektor ataupun penyuka seni lukis bakar.
Menawar karya lukis bakar miliknya. Namun sejauh ini, memang belum berkeinginan untuk menjualnya.
Sebaliknya, karya yang dibuatnya kerap diberikan ke orang lain cuma-cuma. Bahkan dia mengaku sudah sering. Karena bagi dia, karya tak melulu harus dibandrol dengan nominal uang.
“Saat ini fokus membuat karya seni lukis bakar sebanyak-banyaknya. Tentunya yang bagus dan berkualitas, tidak asal buat,” tuturnya.
Sebagai seorang seniman lukis bakar, ia bercita-cita kedepan membuat galeri seni lukis bakar sendiri.
“Cita-cita saya lainnya belum kesampaian, ingin ikut pameran di tingkat internasional. Mudah-mudahan keduanya bisa terwujud,” ujarnya. (fun)
Editor : Ronald Fernando