Letak Kota Probolinggo di pesisir utara Pulau Jawa membuatnya kaya akan hasil laut. Salah satunya, kerang. Namun, bukan hanya dikonsumsi dagingnya. Kulit kerang yang biasanya jadi limbah, kini dimanfaatkan. Yaitu, menjadi campuran bahan pembuatan sabun mandi.
INNEKE AGUSTIN, Mayangan, Radar Bromo
Dua kelompok usaha bersama (KUB) di Mayangan, Kota Probolinggo, saat ini sudah memproduksi sabun dari kulit kerang itu.
Yaitu, KUB pencari kulit kerang di Kelurahan Sukabumi dan KUB pencari kulit kerang di Kelurahan Mayangan.
Mereka didampingi Ariestya Dyah Pratamasari, 39, salah satu pegiat yang memanfaatkan kulit kerang menjadi campuran pembuatan sabun mandi.
Tya–panggilannya–yang juga seorang PNS penyuluh perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan itu menuturkan, pembuatan sabun ini memanfaatkan kulit kerang manis atau Gafrarium Tumidum.
Yaitu, jenis kerang laut yang banyak ditemukan di perairan dangkal tropis seperti di Kota Probolinggo.
Kerang ini dipilih karena tekstur kulitnya tak terlalu keras. Selain itu, sejauh ini belum ada yang memanfaatkan kulit kerang jenis ini.
“Kalau kerang buteng yang berwarna putih, itu sudah banyak dimanfaatkan. Bahkan, cangkangnya sudah memiliki nilai jual. Kalau kerang manis ini belum banyak dimanfaatkan. Jadi, jumlahnya masih cukup banyak dan gratis,” katanya.
Selama ini, menurutnya, kulit kerang umumnya hanya dimanfaatkan untuk hiasan. Seperti, mempercantik kotak tisu, hiasan dinding, hiasan pintu, hingga hiasan lampu tidur (sleep lamp).
“Tapi sekarang sudah bisa dipakai untuk campuran pembuatan sabun estetik. Yaitu dengan mencampur serbuk kulit kerang,” katanya.
Caranya pun terbilang mudah dan bahannya mudah didapat. Bahkan, dapat dilakukan sendiri di rumah. Yaitu, dari campuran minyak sawit, NaOh atau soda api, air, minyak kelapa, dan serbuk kerang.
“Untuk komposisinya bisa diganti-ganti sesuai keinginan. Misalnya ingin kulit lebih kenyal, memperbanyak minyak kelapanya. Itu semua bisa dihitung dengan bantuan aplikasi di internet bernama soapcalc,” kata warga Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ini.
Dalam proses pembuatannya, sabun ini juga bisa ditambahkan wewangian seperti bibit parfum. Bisa juga ditambah warna-warna ke dalam sabun agar lebih estetik.
Saat ini, tiap sabun yang diproduksi memiliki berat bersih 10 gram. Sabun tersebut dikemas dengan plastik dan diberi nama. Karena tak menggunakan bahan pengawet, sabun itu hanya bertahan maksimal 6 bulan.
Sejumlah kendala memang dihadapi selama produksi sabun ini. Salah satunya, izin dan uji lab tentang kandungan di sabun tersebut. Sementara ini, Tya hanya mengetahui manfaat kulit kerang dari internet.
Secara garis besar, cangkang kerang mengandung banyak nutrisi. Di antaranya, kalsium, protein, kalsium karbonat, dan fosfor.
Cangkang kerang juga merupakan sumber selenium, yodium, zat besi, tembaga, zink, magnesium, fosfor, potasium, nitrogen, dan mangan.
Zat-zat itu juga sangat kaya manfaat. Selenium misalnya, bisa memperbaiki sel dan mengeluarkan racun.
Sedangkan zat besi membantu pembentukan sel darah merah. Yodium membantu fungsi tiroid dan zink membantu meningkatkan daya tahan tubuh serta menstimulasi pertumbuhan sel.
Bahkan, cangkang kerang ternyata juga mengandung glutathione. Salah satu zat gizi penting dalam memperbaiki kesehatan kulit serta memperbaiki dan meregenerasi sel kulit yang rusak. Mencegah penuaan dini dan memperbaiki kelembapan kulit.
“Kulit kerang juga membantu meringkas pori, menyingkirkan sel kulit mati, memudarkan flek-flek hitam akibat usia dan paparan sinar matahari,” tuturnya.
Namun, untuk mengetahui secara pasti kandungan di dalamnya, tentu butuh uji lab. Apalagi konteksnya ini masuk kategori kosmetik. Namun, biaya sekali uji lab itu cukup mahal. Yaitu sekitar Rp 5 juta.
“Kendalanya di biaya. Sehingga saat ini sabun tersebut masih digunakan untuk kalangan sendiri. Baik untuk pribadi, maupun anggota KUB pencari kerang. Belum bisa beredar luas ke pasaran,” katanya.
Padahal, sabun kulit kerang ini mendapat respons positif dari anggota KUB pencari kerang yang pernah mencobanya.
Teksturnya yang memiliki scrub dari tumbukan kulit kerang membuatnya nyaman digunakan di kulit.
“Kalau dari testimoni pengguna, bahkan bisa menghilangkan gatal-gatal pada kulit,” kata Tya.
Tya berharap, pemanfaatan kulit kerang ini dapat menjawab tantangan yang kerap dihadapi nelayan kerang. Yaitu, hasil ekonomi yang tak sebanding dengan jerih payah ketika mencari kerang.
“Nelayan harus membawanya dari tengah laut ke pantai, hingga mengonsumsinya. Biasanya kalau dijual kerangnya hanya Rp 10 ribu satu kilogram,” tuturnya.
Namun, kalau dagingnya diolah jadi sambel, harganya bisa lebih mahal. Apalagi kalau kemudian kulitnya dipakai untuk campuran sabun, maka ada nilai lagi dari sana.
“Harga jualnya lebih tinggi. Ini kalau ditekuni, bahkan bisa menjadi bisnis yang menjanjikan,” katanya. (hn)
Editor : Jawanto Arifin