Memiliki hobi bermain bola sejak kecil menjadi anugerah bagi Fran Adi Saputra, 19. Lewat skill-nya mengolah si kulit bundar, warga asli Kota Pasuruan ini bisa menjadi pemain sepak bola dan masuk kepolisian.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
Minat Fran Adi Saputra pada dunia bola sudah terlihat sejak ia masih siswa taman kanak-kanak (TK).
Hampir tiap hari, dia bermain sepak bola di sebuah lapangan dekat tempat tinggalnya bersama teman-temannya di Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
Seiring bertambahnya usia, Fran makin lekat dengan sepak bola. Hingga kemudian, dia minta izin pada ibunya, Chodidjah, untuk ikut sekolah sepak bola (SSB).
Namun, keinginannya itu tidak langsung dipenuhi Chodidjah. Sebab, saat itu Fran masih kelas 3 SD.
Ibunya beralasan, Fran masih terlalu kecil dan kurang cocok mengikuti SSB. Sementara siswa SSB kadang harus keluar kota untuk mengikuti pertandingan.
Namun, penolakan itu tidak membuat Fran patah arang. Ia meminta tolong kakaknya, hingga akhirnya bisa terdaftar di SSB Aris Putra.
“Saya tertarik ikut SSB karena melihat teman-teman bisa ikut turnamen di luar kota. Daftarnya dibantu kakak,” katanya.
Sementara Chodidjah yang awalnya tidak merestui Fran masuk SSB, akhirnya malah menjadi pendukung nomor satu Fran.
Chodidjah bersama suaminya, Siyono selalu menyempatkan diri menonton setiap pertandingan sepak bola yang diikuti Fran.
Selama ikut SSB Aris Putra, Fran berhasil memenangi gelar juara di lebih dari 20 pertandingan.
Mulai juara satu hingga finalis turnamen. Baik turnamen antarkota hingga tingkat provinsi.
Saat SMP, Fran mengikuti seleksi Elit Pro Academy (EPA) di klub PSIS Semarang hingga Persebaya. Namun, dia gagal di tahap seleksi akhir.
Sementara dua temannya sesama anggota SSB Aris Putra berhasil lolos seleksi dan bergabung di EPA PSIS Semarang.
“Saya seleksi selama enam hari di Semarang. Saya gagal lolos di hari keenam atau hari terakhir tahap seleksi,” tuturnya.
Walau kecewa, ia memilih tidak larut dalam kesedihan. Dukungan orang tua dan kakaknya membuatnya termotivasi untuk terus berlatih lebih keras.
Menginjak SMA, Fran mengikuti pemusatan latihan yang digelar oleh Askot PSSI Kota Pasuruan.
Ia pun terpilih memperkuat Persekap U-17 untuk mengikuti kejuaraan Soeratin U-17 tingkat provinsi. Dia bahkan dipercaya menjadi kapten tim Persekap U-17 di Piala Soeratin U-17.
“Itu tahun 2022. Waktu itu kami lolos ke babak delapan besar dan bertemu Bhayangkara U-17. Tapi, kalah,” jelas Fran.
Meski kalah, penampilannya membuat manajemen Bhayangkara U-17 terpikat. Setelah pertandingan usai, Fran malah diminta ikut seleksi Bhayangkara U-17.
Saat itu, warga Jalan Kebonjaya, Kota Pasuruan, ini mengikuti seleksi bersama 10 pemain Persekap lainnya.
Seleksi berjalan selama sepekan. Dan yang lolos sebanyak lima orang, termasuk dirinya.
Tim Bhayangkara U-17 yang menjadi perwakilan Jatim itu akhirnya menjadi juara pertama di Piala Soeratin U-17 level nasional.
Ini adalah gelar pertamanya dalam turnamen sepak bola di kancah nasional. Keberhasilannya ini seakan mengobati kekecewaannya saat gagal mengikuti seleksi EPA di klub PSIS Semarang.
“Termotivasi ikut Bhayangkara karena melihat sebagian besar pemainnya adalah polisi. Seperti Sani Rizki dan Indra Kahfi,” jelas Fran.
Fran bahkan kemudian berkeinginan menjadi anggota Polri. Kebetulan pada 2023, ada pendaftaran anggota polisi. Ia pun mengikuti tahapan seleksi selama lima hari dan berhasil lolos.
Lulusan SMAN 4 Kota Pasuruan ini menyebut tahap seleksi berupa cek kesehatan, tes psikologi, matematika, pengetahuan umum, wawasan kebangsaan, hingga tes jasmani. Ia berada di ranking ketiga se-Kota Pasuruan.
“Jatah Kota Pasuruan hanya 17 orang. Setelah dinyatakan lolos, saya mengikuti pendidikan selama lima bulan di Sekolah Polisi Negara (SPN),” tuturnya.
Kini meski sudah menjadi polisi, kelahiran Juli 2004 itu mengaku tidak akan meninggalkan karirnya di dunia sepak bola.
Karena ia bisa menjadi polisi berkat sepak bola. Dalam tes jasmani, ia mendapat nilai 82.
Baginya menjadi pemain sepak bola adalah hobi dan mimpinya. Sebab, sejak kecil, ia memang menyukai sepak bola.
Sementara karirnya di kepolisian itu untuk masa depan, karena karir sepak bola tidak bisa bertahan lama.
Saat ini ia belum berdinas penuh sebagai anggota polisi. Dalam pekan ini, dirinya akan menghadap ke Polda Jatim untuk mengecek pengumuman di mana berdinas sebagai polisi.
“Saya ingin bisa bermain di Liga I bersama Bhayangkara FC. Menjadi polisi murni keinginan pribadi untuk masa depan,” pungkas Fran. (hn)
Editor : Jawanto Arifin